Beranda » Sastra » Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia

Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia

Sejumlah antologi puisi Lekra yang terkumpul dalam buku ‘Gugur Merah’, puisi Taufiq Ismail dalam ‘Tirani dan Benteng’, Puisi Rendra dalam ‘Potret Pembangunan Dalam Puisi’, puisi Wiji Thukul ‘Aku Ingin Menjadi Peluru’ dan ‘Nyanyian Akar Rumput’, puisi Denny JA ‘Cintai Manusia Saja’ dan dua antologi puisi bersama masing-masing berjudul ‘Jalan Remang Kesaksian’ dan ‘Puisi Menolak Korupsi’ diulas dalam buku yang diberi judul ‘Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia.

Ada banyak puisi tema sosial, tetapi tidak semua diterbitkan dalam satu buku khusus tema sosial, atau dalam buku puisi yang diterbitkan sebagian besar tema sosial, dan puisi lainnya adalah variasi dari puisi tema sosial. Buku-buku seperti disebut judulnya di atas merupakan buku puisi yang memang menyajikan tema sosial, dan isunya berbeda-beda serta ditulis pada tahun yang berlainan.

Puisi Lekra, yang terkumpul dalam buku Gugur Merah setebal hampir 1000 halaman, ditulis antara tahun 1950-1965, dan merupakan puisi-puisi, sebut saja,  agitasi, atau mempunyai muatan agitasi pada jaman itu, meskipun penyair yang dipilih dalam puisi ini adalah penyair yang memiliki nuansa puitis. Nuansa realisme sosialnya dalam puisi-puisi ini sangat kuat.

Pada puisi Taufiq Ismail, dalam ‘Tirani dan ‘Benteng’ menyajikan kisah-kisah pada rezim orde lama, anggap saja sebagai puisi kritik sosial terhadap rezim Soekarno, dan pada puisi Rendra yang berjudul ‘Potret Pembangunan Dalam Puisi’ yang menyajikan kritik terhadap kondisi sosial di era orde baru. Puisi Wiji Thukul, selain menyajikan kisah kehidupan orang-orang kecil, juga menyentuh kekuasaan. Dalam kata lain, pada empat kumpulan puisi seperti telah disebutkan puisi-puisinya bersentukan dengan kekuasaan.

Puisi Denny JA, yang terkumpul dalam buku ‘Cintai Manusia Saja’ agak lain, karena Denny memiliki isu khusus yakni puisi kaum minoritas dan diskriminasi, juga menyajikan kisah tentang agama, tapi bukan dalam konteks teologis, lebih berdekatan konteks sosial dan politik. Pada dua kumpulan puisi yang lain, yang menampilkan banyak penyair, menyajikan kisah peradilan di Indonesia dan pemahaman soal saksi korban, terkumpul dalam buku ‘Jalan Remang Kesaksian’ serta puisi yang bercerita mengenai aneka ragam korupsi terkumpul dalam buku ‘ Puisi Menolak Korupsi’

Dari buku ‘Tema Sosial Dalam Puisi Indonesia’ kita bisa tahu, bahwa puisi-puisi yang mengolah tema sosial memang sudah lama bisa ditemukan, bahkan sebelum orde lama puisi tema sosial, atau sastra yang mengolah tema sosial sudah ditulis. Ketika muncul perdebatan sastra kontekstual pertengahan tahun 1980-an, Umar Kayam dalam merespon perdebatan itu menjelaskan, bahwa sejak dulu karya sastra kita sudah kontekstual dengan jamannya, sehingga dia mempertanyakan sastra kontekstual yang bagaimana?.

Ons Untoro, yang menjadi editor buku ini menjelaskan, bahwa buku ini tidak bermaksud meneguhkan sastra kontekstual, tetapi hanya melihat bahwa tema sosial dalam puisi hal yang biasa, dan tidak semua puisi harus ditulis dengan tema yang bersifat transedental. Tetapi persoalan kehidupan sosial masyarakat bisa menjadi bahan untuk tema dalam penulisan puisi.

“Beberapa buku puisi yang diulas dalam buku ini merupakan contoh puisi yang menghadirkan tema sosial, tentu ada puisi tema sosial lain, kecuali beberapa buku yang sudah diulas ini” ujar Ons Untoro.

Joko Pinurbo, seorang penyair yang tinggal di Yogya memberikan komentar: “Buku ini mau menegaskan bahwa puisi bukanlah makhluk sunyi yang iseng sendiri. Puisi selalu hadir dalam setiap pergolakan zaman. Puisi diyakini dapat menjadi sarana untuk melakukan kritik dan perlawanan terhdap kedurjanaan kekuasaan” (*)

Lihat Juga

Jadwal Dimajukan, Festival Budaya Isen Mulang 2018 Dijamin Tetap Meriah

Jadwal Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) dimajukan. Awalnya, even ini akan dihelat 19-24 Mei. Namun, …

1 komentar

  1. puisi media abadi untuk menyampaikan pesan pesan kehidupan sama seperti lagu atau musik. Gaya bahasa puisi juga bisa beraneka macam ga musti baku plus bisa membuat suatu makna menjadi multi tafsir tergantung si pembaca sndiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *