Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Pariwisata » Speelwijk Fort Serang, Banten
Penulis di dalam Benteng Speelwijk, di depan makam Hugo Pieter Faure. (Ist)

Speelwijk Fort Serang, Banten

DIKELILINGI kanal, keberadaan Benteng Speelwijk atau Speelwijk Fort menggambarkan benteng ini dulunya sangat penting sebagai simbol kekuasaan Belanda menguasai Kesultanan Banten.
Benteng Speelwijk dibangun sebagai pertahanan menguasai Banten dan rumah bagi Belanda.
Konon nama Banten sendiri berarti rumah dalam Benteng. Keberadaan Benteng yang berada di Kampung Pamarican sekitar 600 meter ke arah Barat Laut Keraton Surosowan atau Situs Banten Lama sebenarnya cukup menarik. Karena sejarah Banten yang merupakan salah satu Kesultanan terbesar di Nusantara waktu itu tidak terlepas dengan cerita Benteng ini.

 

Dibangun 1682
Dibangun tahun 1682 dan diperbarui tahun 1685 dan 1731, Speelwijk sekarang sebagian tinggal puing. Namun pemerintah setempat kini berusaha menjaga dan mengamankan puing bernilai sejarah tersebut dengan memagar kawasan benteng juga membuat taman. Memberi kesan bekas Benteng ini bukan hal menakutkan untuk dikunjungi. Meskipun sebagian ada yang takut menapakkan kaki di kawasan ini. Apalagi di depan salah satu gerbang menuju bangunan ini terdapat sebuah makam panglima besar Belanda waktu itu Hugo Pieter Faure (1718 – 1763), serta beberapa makam kecil lainnya. Makam makam ini dinamakan Kerkhoff.

Benteng Speelwijk yang dirancang oleh Hendrick Lucaszoon Cardeel baru diperhatikan dalam beberapap tahun terakhir. Ini juga yang menyebabkan banyak tangan jahil yang merusak bahkan mencuri sebagian bangunan situs. Terlihat banyak bagian bangunan yang dicorat-coret, ada juga yang runtuh dan dinding bangunan hilang. Bagian dalam benteng juga masih untuk beternak kambing.

 

Awalnya Milik Banten
Menurut sejarah dulunya justru merupakan benteng penguasa Kerajaan Banten. Namun kemudian beralih dikuasai Belanda karena pengkhianatan oleh Sultan Abdul Nasr Abd Kahhar atau dikenal dengan nama Sultan Haji yang mudah dibujuk Belanda. Sultan Haji anak dari Sultan Banten Tirta Ageng. Namun berbeda dengan sang ayah yang tegas dengan Belanda, Sultan Haji justru lemah.

Dan sejak dikuasai Belanda, bangunan benteng dirancang lagi dengan tujuan pertahanan dan pemukiman.
Belanda memantau aktivitas Kesultanan Banten dari Benteng tersebut. Selain itu juga menjadi tempat pemukiman Belanda untuk memperkuat kedudukan mereka memonopoli perdagangan rempah-rempah. Terutama pengiriman lada dari wilayah Lampung untuk selanjutnya dijual Belanda ke pedagang dari Arab, India, Malaysia, Cina maupun Vietnam melalui pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan besar saat itu. Pelabuhan besar inilah yang diperebutkan Belanda dan masyarakat Banten.

Ini masih jelas terlihat dengan masih adanya menara pengintai di bagian utara. Dari sini dapat melihat laut di dan pelabuhan Banten serta Kesultanan Banten Lama dimana terdapat Keraton Sorosowan.
Selain itu masih terlihat utuh ruang penyimpanan dibawah tanah, ruang meriam. Sedangkan ruang administrasi dan juga gereja tinggal sebagian. Bangunan benteng Ini kemudian dinamakan Speelwijk mengambil nama Gubernur VOC waktu itu Cornelis Jansz Speelman.

 

Tenaga dari Tiongkok
Sedangkan tenaga yang membangun benteng ini diperkirakan tenaga dari Tiongkok yang dibayar sangat murah oleh Belanda. Ini diperkuat dengan adanya Vihara Avalkitesvara yang posisinya persis di barat Benteng. Vihara ini masih berdiri kokoh dan dimanfaatkan untuk ibadah umat Budha. Para pekerja membangunan benteng selain dari bata merah juga dari karang yang direkatkan dengan batu kapur.

Patut diapresiasi upaya Pemprov Banten dan Pemerintah Kota Serang yang melestarikan tempat ini dengan mempercantik kawasan sekelingnya. Apalagi untuk masuk kawasan ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Hanya saja perlu informasi yang lebih banyak bagi pengunjung dengan keberadaan benteng tersebut misal dengan pamplet atau diorama. Karena mungkin tidak banyak yang tahu asal usulnya. Bahkan ada yang asyik berfoto-foto dan ternyata baru mengetahui kalau tempat berfoto itu adalah makam warga Belanda bukan bangunan B. * (Dewi Gustiana)

 

* Dewi Gustiana, ibu rumah tangga penyuka traveling ini memang suka menulis. Menurutnya, menulis yang ringan-ringan di masa pandemi ini biar otak tidak beku, imun kuat dan hati senang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x