Sabtu , 20 April 2019
Beranda » Angkring Mataraman » Kerja Udara
Ilustrasi cyberspace (ft. pixabay)

Kerja Udara

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

 
DENMAS Kasut, belum sibuk. Maka, untuk memperlihatkan kesetiannya pada Angkringan Lek Man di Jokteng Square. Selepas matahari tenggelam, surup, ia sudah lenggah jegang di posisi pojok, dingklik fasilitasi round tables gelar gorengan fresh from the wajan. Kali ini, ia meminta minuman khusus kepada Lek Man, teh jahe gula jawa. Pol khusunya karena minta ruas jahenya dibakar, kemudian dibebeg baru dijerang. Bukan air teh yang dituang cairan rebusan jahe, sumber wedang jahe seumumnya. Air jahe kolosal.

Tentu saja permintaan itu segera dipenuhi Lek Man. Utamanya, karena pelanggan belum banyak yang andher pepak, lenggah siniwaka di pagelaran istana angkringan. “Timsesnya libur, apa Denmas?”

“Ya tidak lah. Timses itu kerja 30 jam sehari, 35 hari sebulan, dan 400 hari setahun, Lek.”

“Hah. Mosok?” kata Lek Man seraya mengulungkan teh jahe gula jawa pesanan Denmas Kasut yang anggota Timses Caleg dan Partai. “Sehari cuma 24 jam Denmas?”

“Itukan hari-harinya orang biasa. Jamnya wong lumrah. Kalau jamnya wong pinunjul, wong ngaluhur,  itu bisa minta tambah, Lek Man….”

“Hah!?”

“Kok hah? Kaget? Menggumun?”

“Lha kok Denmas misih lenggah di rumah, tidak gabung ke markas?”

“Hahaha….jaman sekarang kantornya itu di udara Lek. Tidak perlu temu darat.”

“Hah, mabur ta Denmas? Ini menu yang pas. Baceman”

“Baceman apa Lek?” tanya Denmas Kasut saat Lek Man menyodorkan sepiring menu baceman.

“Ini baceman sayap ayam. Makanlah biar kuat terbangnya. Membantu kerja udara sampeyan, Denmas Kasut …. hahaha….”.

Lek Man tertawa. Denmas Kasut pun terbahak. Masuk ke area angkringan, beberapa pelanggan yang lain. Anak-anak muda yang kerja sales, kerja mekanik di bengkel sepeda motor, debt collector perusahaan leasing. Umumnya, mereka misih bujang. Sebelum pulang kos, mampir makan di Angkringan Lek Man. Artinya mereka para migran inap. Ada juga yang migran sirkuler, masuk kota pagi pulang desa petang hari.

Angkringan, mengisi ruang kosong pelayanan publik. Ruang kosong itu, makanan murah, siap saji, dalam cita rasa makan rumahan wong cilik: gorengan. Ada sedikit nasi dalam takaran kucing, dan mihun dalam takaran meong. Nah, kalau sedikit mis mis sebagai pembangkit daya gizi, disediakan kepala dan ceker bacem yang luwes buat dihangatkan di atas bara arang tungku ceret telu. Ada pula satee telur puyuh atau sate usus ayam. Mis mis angkringan, buta kadar kolesterol.

Ceker bacem Angkringan Lek Man, jadi kesukaan Denmas Tet. Setiap kali tedhak turba lenggah siniwaka di Angkringan Lek Man, Denmas Tet selalu memborong baceman ceker. Kali ini, Lek Man menyediakan menu baru olahan had madame chef, Yu Man alias prime minister and fist lady Angkringan Jokteng Square, yaitu menu sayap bacem, yang diberi nama swiwi bactheem. Jika ceker bacem jadi kesukaan Denmas Tet, maka swiwi bactheem diharapkan oleh Lek Man menjadi kesukaan Denmas Kasut. Pasalnya, lipatan duwit di dompetnya menjangkau harga sayap bacem, menu termewah kalau tidak untuk dikatakan termahal.

Kata mBah Mul, juru foto paripurna, pinisepuh asosiasi paguyuban pelanggan Angkringan Lek Man, teknik masak bacem itu lahir pada zaman dimana minyak goreng masih barang mahal. Minyak goreng baru berupa minyak klentik dari santan kepala. Belum ada minyak sawit cerah. Jumlahnya pun terbatas sehingga kalau menggoreng dengan minyak banyak dan yang dogoreng sampai pating krampul, masih belum memungkinkan. Goreng bacem oposan goreng krampul. Maka, ceker ayam, kepala ayam, sayap ayam, tempe, tahu, semuanya dimatangkan lewat cara bacem. Direbus, saat mau matang baru dibumbui gula, ketika menjelang air asat, maka di wajan segera dituang minyak goreng tak seberapa. Masakan matang karena rebusan, dan minyak membuat lebih makanan kasat dan tambah gurih di lidah. Manis-manis gurih. Cara bacem keterusan, bahkan ketika minyak goreng curah sudah tersedia melimpah. Masak bacem, jadilah masakan yang tetep ngangeni.

“Menu sajian sini itu mengandung berkah, lho Denmas Kasut,” kata Lek Man bolehnya promo dengan bujukan maut menyodorkan swiwi batcheem persis di depan Denmas Kasut duduk.

Simak juga:  Debatnya Wong Cilik

“Berkah pegimana, Lek? Berkah-berkah …,” setengah gerutu Tolis yang datang menyusul sendirian tanpa Kang Kuncung. Tolis sudah duduk dan meniru kebiasaan mBah Mul, minta kopi tubruk kepyur garem. Sebelum kopinya siap, Tolis sudah menggawel gorengan kesukaannya: timus. “Nek timus ini mberkahi ndak, Lek Man?”

“Wooo… Lis, kamu ndak tahu khasiat timus ku? Itu akan membuat hidup pemakannya empuk eyup, gurih manis bak manisnya timus ku….”

“Kok hidup saya misih rekasa, Lek?”

“Hanya belum saja Lis. Sabar,” hibur Lek Man.

Denmas Kasut menyahut, “Lis, jangan khawatir. Denmas Tet itu, suka makan ceker bacem di sini, ternyata dia jadi cerdas bolehnya ceker cari duwit ….”

“Dan, Denmas Kasut ini Lis,” kata Lek Man serius. “Denmas Kasut ini, sudah amat sangat sukses mengudara, kerja berterbangan di angkasa, tidak lagi kerja darat, gara-gara melihat menu baru kita, sayap bacem … swiwi batcheem … itu lihat.  Lihat sayap di piring, sebentar lagi habis dimakan sendiri, Lis….”

Denmas Kasut celegukan melihat swiwi batcheem, warna coklat mlekoh meleleh-leleh di piring.

“Sayap terbang …. menggiurkan ta?”

Tolis tertawa bersamaan dengan usai promonya Lek Man, diterimanya kopi tubruk kepyur garem pesanannya, dan datangnya Kang Kuncung, pendagel yang sedang laris-larisnya. “Kok tidak ngampiri, Lis?”

Yang kena tuduh pun hanya senyum. “Lho katanya peye Wonosari. Sore berangkat. Lha ya saya ndak ngampiri apel ke angkringan,” sahut Tolis santai.

“Kengsel,” jawab Kang Kuncung pendek.

“Kengsel fi. Minta kengsel fi.”

“Gak ada. Panitiyanya minggat.”

“Tuntut. Penipuan. Laporkan polisi!” sambung Denmas Kasut tangkas.

Kang Kuncung diam, malah duduk dan menyambar bakwan kesukaannya. Tampak bajunya rapih, tanda sudah siap berangkat mendagel ke lokasi penanggapnya. “Males bikin perkara.”

“Elho. Ini soal harga diri, Cung. Martabat Cung.”

“Bennya saja, Denmas. Biarken aja.”

“Yang ngundang siapa ta Cung?” tanya Lek Man.

Kang Kuncung tidak segera menjawab pertanyaan. Diam dan mulai menambah bakwan serta lapapan lombok ijo kesukaannya. Satu potong bakwan, lima atau enam biji lombok dihabiskan. Tolis mesam mesem karena tahu duduk soalnya. Diam-diam Kang Kuncung terima order dari Wonosari, tidak memberitahukan kepadanya sebagai manajer tim produksi. Tolis tahu dari kawan yang lain sehingga hanya membiarkan supaya Kang Kuncung juga bisa bekerja sendiri dan membangun solo karier.

“nDak ada kontraknya, Cung?” tanya Denmas Kasut.

“Tidak.”

“Le ngubungi situ pakai apa?”

“Telepon”

“Kenal orangnya?”

“Tidak.”

“Lha kok tahu kalau batal.”

“Oalaaaa… saya ini tadi sudah sampe sana. Sampe alamatnya. Tapi di sana ndak ada apa-apa.”

Denmas Kasut terheran. Tolis bengong. Lek Man tampak rautnya membelaskasihani Kang Kuncung. Geleng-geleng kepala.

Simak juga:  Tahun Politik

“Salah alamat mungkin?”

“Tidak. Wong semua tak catet. Alamatnya. Tanggalnya. Nama orangnya. Bener alamatnya. Tapi ndak ada pentas. Nama orangnyapun tak dikenal.”

“Apes Cung.”

Kang Kuncung celingukan, kimbih-kimbih. Tolis, Denmas Kasut, dan Lek Man tertawa. “Kok pada tertawa, ta? Senang ya kalo saya cilaka?”

Di tengah celingukan wajah memelas Kang Kuncung, Tolis, Denmas Kasut, dan Lek Man terus tertawa. Bahkan menjurus terpingkal-pingkal. Pelanggan angkringan pun ikut tertawa. Tentu saja Kang Kuncul bingung dan bertanya-tanya.

Semua melihat ke arah wajah Kang Kuncung. Lek Man menyodorkan cermin kecil yang biasa diletakkan di dekat selorokan uang di angkringannya. Kaca cermin disodorkan dan Kang Kuncung menerimanya. Kang Kuncung bercermin dan mendekat ke arah terang lampu angkringan. Di dalam cermin itu terlihat wajahnya yang bedak putihnya meleleh, hitam celak alis dan lingkar mata luntur, dan pemerah bibirnya juga sudah melebar melewati garis batas bibirnya. Bahkan giginya ikut memerah, mulutnya berlepotan minyak bakwan. “Asemkik. Kalau ini sama badut saja masih bagus badutnya. Asemkik.”

Semua masih tertawa. Tolis menyela, ”…jadi kamu ini ke we en es er sudah dandan. Sudah ke lokasinya. Ke sana tadi naik apa?”

“Nyewa mobil ….”

“Blaik. Rugi gede Cung,” sahut Denmas Kasut. “Lapor polisi, Cung. Lapor!”

Kang Kuncung bengong diam. Tolis mendekat dan memberikan segebok kertas tisu yang selalu siap di tas punggungnya. Lek Man masih belum menghentikan tawanya sampai ada seorang pelanggan yang meminta tambah kopi jahe. Kang Kuncung sibuk mengelap wajahnya dengan tisu pemberian Tolis. Pelanggan lain kembali ke kesibukan masing-masing merespon sediaan gelar gorengan derada meta, bergunduk bercampur-campur tidak karuan. Tapi mata mereka masih awas, memilih yang disuka, tangan tidak pernah keliru memilih gorengan. Menjadi tata krama atau kode etik pelanggan angkringan, sebisa mungkin tidak ngemuk-muk atau melilih gorengan secara pasti bagai gelar garuda nglayang, sekali sambar untuk satu pilihan pasti. Tabu memilih gorengan dengan cara mengolak-alik banyak jenis gorengan, padahal hanya akan ambil satu. Memilih gorengan dengan cara tidak dimuk-muk.

“Besok lagi itu, kalau berias jangan pake kosmetik murahan. Kena keringat ambyar,” nasihat Tolis sambil membantu membersihkan wajah Kang Kuncung. “Besok lagi tidak usah mengiyakan pesanan peye lewat udara, harus konkrit hitam di atas putih dan temu darat.”

“Ya namanya apes, ta Lis,” potong Lek Man. “Untung tak kan dikejar, rugi tak kan diraih….”

“Pepatah mana itu, Lek?” tanya Denmas Kasut

“Embuh.”

“Dasar penyair wurung, modalnya kata-kata indah.”

“Prex.”

Kang Kuncung masih termehek-mehek menyesali kelengahannya. Tolis solider memperbaiki wajah sahabat sekaligus musuh kreatifnya itu. Lek Man menyodorkan gelas minuman ke arah lebih dekat Kang Kuncung duduk. Lalu, direspon dengan cara menyeruputnya. Kang Kuncung membiarkan Tolis terus membersihkan wajahnya. Denmas Kasut mendorong piiring berisi sayap bacem ke arah lebih dekat Kang Kuncung duduk. “Cung, ini menu baru Lek Man. Sayap bacem, namanya swiwi batcheem, made in madame chef Yu Man. Sudah, saya rela memborong semua.  Untuk kau nikmati. Semua.”

“Semua?” tanya Kang Kuncung dengan mata berbinar.

“Iya semua. Semua. Habiskan. Makanlah sayap bacem ini agar kamu pandai terbang dan waspada dalam kerja-kerja udara. Makan ….”

Tolis geleng-geleng kepala. Lek Man mengacungkan jempol kanannya. Tentu, dihiasi senyum lepas.***

 

Yk. 27-01-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *