Senin , 29 November 2021
Beranda » Pendidikan » Habis Kartini, Terbitlah Terang

Habis Kartini, Terbitlah Terang

(Serial 100 Buku yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial)

 

KETIKA Kartini lahir tahun 1879, usia Wilhelmina Drucker sudah 22 tahun. Di negerinya Belanda, Wilhelmina dikenal sebagai penulis, politisi, dan yang terpenting: tokoh generasi pertama dan utama gerakan feminisme.

Ketika usia Kartini tujuh tahun di tahun 1886, Whilmelmina mulai aktif berkampanye dalam gerakan emansipasi wanita. Pada pertemuan Sociaal- Democratisched Bond, Wilhelmina menyerukan saatnya wanita diikut sertakan dalam pemilihan umum. Wanita harus pula diberikan hak suara menentukan politik negaranya.

Ujar Wilhelmina: jumlah wanita tak kalah banyak dibanding jumlah pria. Para pemimpin membuat kebijakan publik yang juga mempengaruhi hidup para wanita. Mengapa wanita tak diberikan hak memilih pemimpinnya dalam pemilu seperti hak yang dimiliki para pria?

Setahun kemudian, 1889, Wilhelmina mendirikan Vrije Vrouwen Vereeniging (Free Women’s Association) yang berkembang di tahun 1894 menjadi gerakan hak- hak wanita.

Wilhemina pun menjadi tokoh Eropa ketika di tahun 1891, dalam pertemuan internasional para pekerja di Brussels, Jerman, Ia menyerukan persamaan hak legal dan politik kaum wanita untuk segala perkara!

Perjuangan itu begitu dihayati oleh Wilhelmina karena pengalaman pribadi. Ia tak diakui anak oleh Ayahnya yang kaya raya karena Ia lahir dari seorang wanita yang miskin.

Hanya saudara tirinya, lelaki, yang mendapatkan warisan, karena Ibu saudara tirinya itu jauh lebih kaya.

Alangkah semena menanya kaum pria. Ia bebas menentukan anak mana yang ingin Ia akui dan tidak. Anak mana yang ingin Ia berikan warisan atau tidak.

Wilhelmina menggugat kasus ini ke pengadilan dan menang. Ia pun menyadari. Hak perempuan hanya mungkin berubah jika diperjuangkan. Ia iba dengan kondisi perempuan lainnya.

Perjuangan Wilhelmina menginspirasi kaum terpelajar di Eropa, terutama di Belanda.

-000-

 

Jauh dari Eropa, di Rembang, Indonesia, RA Kartini tumbuh. Dibandingkan wanita lain, Kartini termasuk beruntung.

Ia anak bupati yang terpandang. Karena itu Ia punya hak istimewa bisa mengecap pendidikan. Ia belajar bahasa Belanda dan gemar membaca.

Kartini pun bersentuhan dengan gagasan feminisme itu. Ia membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia mengikuti majalah wanita Belanda De Hollandschr Lelie.

Simak juga:  Peserta Saling Berjanji Garap Proyek Penelitian

Kartini menekuni novel Max Havelaat karya Multatuli. Ia ekspresikan kesukaannya atas novel itu. Di tahun 1901, ketika usianya 22 tahun, novel itu sudah selesai Ia baca dua kali.

Ia juga lahap membaca novel roman feminis karya Goekoop de Jong Van Beek. Pada usia yang sangat muda, Kartini tertarik dengan kemajuan kaum perempuan Eropa.

Ujar Kartini, “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”

Kartini merenung. Kartini berpikir. Karena ia wanita, ia hanya dibolehkan sekolah hingga berusia 12 tahun saja. Setelah itu, ia mulai dipingit menunggu lamaran pria untuk menikah. (1)

Karena ibunya bukan keturunan ningrat, walau Ibunya istri pertama Ayahnya yang bupati, ibunya tidak menjadi istri utama. Harus wanita keturunan ningrat yang menjadi istri utama.

Karena Ia wanita, Ia dipaksa Ayahnya menikah dengan seorang bupati yang sudah memiliki tiga istri.

Kartini selaku wanita Jawa dalam kultur dan politik saat itu, Ia tak bisa memberontak frontal terhadap Ayahnya. Tapi pemikirannya bergolak.

Kartini pun berkorespondensi dengan tokoh dan kawannya, termasuk yang dari Belanda. Ia berkirim surat kepada Stella (14 surat), Ny Ovink-Soe (8 surat), Prof dr GK Anton di Jena dan Istrinya (3), Dr. N Andriani (4), Ny HG de Booy- Boisevain (5), Ir HH Van Kol (3), Ny RM Abendanon Mandri (49). Total koreapondensi RA Kartini berjumlah 106 surat.

Begitu pentingnya gagasan yang tersimpan dalam banyak surat Kartini untuk konteks Indonesia saat itu, di tahun 1911, surat itu diterbitkan oleh Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, yang juga menjadi kawan korespenden Kartini: Abendanon.

Judul bukunya: Door Duisternis tot Lict. Habis Gelap Terbitlah Terang.

-000-

 

Armyn Pane secara kreatif menerjemahkan dan mengedit buku itu ke dalam bahasa Indonsia. Ia hanya menampilkan 87 surat saja dari total 107 surat itu.

Simak juga:  Mercusuar, Objek Wisata Penuh Pesona

Surat itu pun Ia klasifikasi dalam lima pembahasan. Ujar Armijn Pane, Ia ingin isi surat itu tersusun secara berirama selayaknya sebuah roman. Balai Pustaka menerbitkan buku ini pertama kali di tahun 1936.

Forum penulis dan ahli yang diinisiasi oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, pada bulan Oktober 2021, memilih buku ini. Dalam daftar “100 Buku Yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial,” buku Habis Gelap Terbitlah Terang” terbitan Balai Pustaka masuk dalam pilihan itu.

Tentu banyak yang mengkritik sikap pemerintah Indonesia. Mengapa pemerintah RI menetapkan Hari Kartini sebagai tonggak perjuangan emansipasi wanita? Bukankah ada Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, dan Dewi Sartika?

Bukankah Kartini bekerjasama dengan penjajah Belanda? Sementara Cut Nyak Dien justru melawan penjajah Belanda? Bukankah Kartini mati muda dalam usia 25 tahun, sementara sepanjang 25 tahun Cut Nyak Dien memimpin perang gerilya untuk kemerdekaan?

Mengapa Kartini ditokohkan untuk gerakan emansipasi wanita? Bukankah Kartini tak konsisten? Ia menyerah dan bersedia dipoligami?

Seberapa asli surat RA Kartini? Mungkinkah surat itu dimodifikasi atau bahkan dikarang- karang saja oleh Abendanon, yang saat itu Menteri Kebudayaan Hindia Belanda, dalam rangka politik etis?

Bukankah Belanda yang menciptakan Kartini? Belanda perlu citra bahwa dalam era penjajahannya, lahir seorang perempuan pribumi yang sadar emansipasi wanita? Bukankah Sekolah Kartini, Yayasan Kartini itu didirikan oleh orang Belanda, keluarga Van Deventer, yang juga tokoh dalam “Politik Etis.?”

Kartini memang tak pernah memanggul senjata seperti senapan atau bambu runcing. Tapi senapan Kartini lebih ampuh. Yaitu; Pena! Tulisan. Gagasan. Pemikiran. Pendidikan.

Kartini memang tak pernah membawa meriam dan bambu runcing. Tapi gagasan emansipasi wanita untuk zaman itu lebih bendentum ketimbang bunyi gelegar meriam. Gagasan yang waktunya telah tiba lebih tajam ketimbang bambu runcing.

Setelah RA Kartini, terbitlah terang! *

 

November 2021

(Denny JA)

CATATAN

1. On feminism and nationalism: Kartini’s letters to Stella Zeehandelaar 1899-1903. Monash University Press. 2005. hlm. 2. ISBN 1876924357.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *