Selasa , 16 Januari 2018
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi-puisi Kebangsaan

Puisi-puisi Kebangsaan

MULAI Minggu ini perwara.com (Warta Kebangsaan) mencoba menampilkan puisi-puisi yang berbicara tentang “Kebangsaan”. Tak ada maksud lain, kecuali “Puisi-puisi Kebangsaan” diharapkan bisa menginspirasi kita semua tentang arti pentingnya mengobarkan, menghormati dan menjaga harkat, nilai-nilai dan semangat Kebangsaan.

Puisi-puisi Kebangsaan diawali dengan dua puisi karya penyair kenamaan yang pernah dimiliki negeri ini, Sitor Situmorang. Kedua puisi Sitor ini terhimpun di dalam buku kumpulan puisinya berjudul “Angin Danau” yang diterbitkan Penerbit Sinar Harapan, tahun 1982. Sitor Situmorang lahir di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923, dan meninggal dunia pada 21 Desember 2014 di Apeldoorn, Belanda, dalam usia 91 tahun.

Bila Anda ingin berpartisipasi, silakan kirim karya puisi-puisi “Kebangsaan” tersebut ke sutirmaneka@gmail.com. Kami tunggu. Tabik. (Sutirman Eka Ardhana)

NYANYIAN TANAH AIR

Salamku pada negeri tercinta
Salamku pada gunung-gunungnya
Salam pada lembah dan ngarai
Salam pada Danau Toba permai.

Salam kawan, jabat tanganku,
Ini aku kembali menjenguk engkau,
Salam pada desa tercinta-
kutinggal lama, lupa tak bisa.

Salam pada putra dan putri
Padamu yang berkecimpung di kali,
Salam pada kalian di tengah sawah-
Jauh merantau, lupa tak pernah.

Salam kawan. Salamku kenang,
Samosir tersayang menunggu di seberang,
Salam padamu, pulau kelahiran,
Bila umur panjang, jadi peristirahatan.

Salam negeriku. Salam jiwaku.
Biar tak lupa, kuambil sejemput
Aku datang lalu pulang ke perantauan,
Meninggalkan, negeri diberkahi Tuhan.

Sitor Situmorang (ft. net)

UNTUK IVANA DAN TAN YOE HOK

Hampir 50 tahun lalu di masa kecil
ada temanku nama Oei Seng Hoat
bersekolah dasar di pedalaman
di Tanah Batak Sumatra Utara

Kami hidup dalam Lembaga Adat
di tanah margamarga
di alam konstitusinya
yang tiada kienal beda
derajat maupun darah

Hormat pada Leluhur
pastortunggal budi-bahasa
Loyalitas terhadap tradisi lingkungan
yang dihibahkan dalam upacara

Ia pun jadi anggota marga: Napitupulu
seperti aku marga Situmorang
tanpa perlu ganti nama
jadi Oei Seng Hoat Napitupulu

untuk selama hayat di kandung badan.
Menyangkalnya dosa adat terbesar
tak boleh menggolonggolongkan diri
tak boleh digolonggolongkan

Kita kini punya marga yang tunggal:
Marga Indonesia kesatuan
dihibahkan oleh sejarah pengabdian
tak kenal warna, tak kenal darah.

Sekali dihibahkan tak boleh disangkal.
Hukumnya: Yang menyangkal pantas dikucilkan,
sekalipun orangnya pemilik pembuktian
7 x 7 tambo turunan

Bukti dan jaminan satu-satunya
ialah kepatriotan, jasa, keyakinan bertanahair.
Syukur jadi juara atas nama bangsa
atas nama warganegara tak bernama

puluhan juta penghuni Nusantara
yang tak pernah mempersoalkan warna kulit
apalagi darah keturunan
di alam Pancasila kerakyatan

bebas dari prasangka.

Lihat Juga

Kampus Biru di Bulan Purnama

Sekaligus mengawali tahun baru 2018, Sastra Bulan Purnama edisi 76, akan menampilkan para penyair dari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *