Senin , 29 November 2021
Beranda » Pendidikan » Seorang Gadis dalam Kungkungan Adat Istiadat – Azab dan Sengsara (1920)

Seorang Gadis dalam Kungkungan Adat Istiadat – Azab dan Sengsara (1920)

(Serial 100 Buku yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial)

APA yang salah dari gadis bernama Mariamin? Ia sudah ikuti adat istiadat Batak Angkola tempatnya berdiam di Sipirok, Sumatra Utara. Tapi mengapa yang Ia alami hanyalah azab dan sengsara?

Ia dan kekasihnya Aminuddin saling mencintai. Ia tolak lamaran lelaki lain karena Aminuddin berjanji akan kembali dari Medan untuk menikahinya. Ibunya Aminuddin yang juga adalah tantenya menyetujui rencana pernikahan.

Namun Aminuddin menikah dengan gadis lain karena dijodohkan Ayahnya Baginda Diatas, seorang kepala kampung yang kaya dan banyak akal.

Aminuddin tak kuasa melawan adat Batak Angkola dimana sang Ayah memiliki otoritas kuat untuk menjodohkan anaknya.

Awalnya Ibu Aminuddin setuju menikahkan Mariamin dengan Aminuddin untuk mendekatkan tali perkauman. Bagi Mariamin, Aminuddin adalah anak nomboru (anak lelaki dari saudara perempuan Ayah). Sedangkan bagi Aminuddin, Mariamin adalah Boru Tulang (anak perempuan dari saudara laki- laki pihak ibu).

Namun ada adat istiadat lain yang jauh lebih kuat. Peran Ayah dalam pernikahan yang dijodohkan.

Ayahnya Aminuddin menyewa seorang dukun yang di era itu sangat didengar. Sang Ayah sudah mengatur apa yang harus dikatakan dukun itu. Ibunya Aminuddin yang tadinya dipihak Mariamin kemudian berbalik setelah mendengar ramalan dukun itu. Jodoh Aminuddin bukan Mariamin. Jika dipaksakan, hidup Aminuddin akan celaka.

Kecewa dan sedih mendalam hati Mariamin ditinggal Aminuddin. Tapi sekalagi ia ikuti adat istiadat. Karena Ayahnya sudah wafat, Ibunya yang mencarikan jodoh. Mariamin ikut saja menikah dengan pria pilihan ibunya, Kasibuan.

Setelah menikah, mereka pindah ke Medan. Ternyata Kasibuan bukan lelaki yang baik. Ia terkena penyakit kelamin. Mariamin menolak hubungan intim sampai Kasibuan sembuh dari penyakit kelaminnya. Acapkali Kasibuan tega pula menyiksa Mariamin secara fisik.

Tak tahan disiksa, Mariamin mengadu kepada polisi. Kasibuan dihukum, dan terjadi proses perceraian.

Mariamin pulang kembali ke Sipirok, sebagai seorang janda. Namun bagi masyarakat setempat, seorang janda, yang bercerai dengan suami, pulang kampung, itu sesuatu yang hina.

Dalam kondisi cintanya pada Aminuddin yang terhempas, gagal dalam perkawinan, dan hidup dalam kemiskinan, padahal sudah ia ikuti semua adat Batak Angkola, Mariamin semakin menderita. Mengapa hingga wafat, Mariamin hidup dalam azab dan sengsara?

-000-

 

Kisah itu direkam oleh Merari Siregar melalui sebuah novel: Azab dan Sengsara. Dinyatakan sendiri oleh Merari, kisah itu diinspirasi oleh kisah nyata. Merari sendiri memang lahir dan sempat hidup di Siporok, Sumatra Utara.

Novel ini terbit pertama kali di tahun 1920. Penerbitnya Balai Pustaka. Novel ini dipuji di eranya karena dua hal.

Pertama, Azab dan Sengsara dianggap novel pertama Indonesia yang lepas dari hikayat. Novel itu ditulis dalam bahasa melayu tinggi, berbeda dengan hikayat sebelumnya.

Novel itu juga tak lagi mengangkat kisah seputar istana. Kisah yang ditampilkan adalah kisah rakyat sehari- hari. Yang terpenting, yang paling membedakannya dengan hikayat, novel itu berisi kritik sosial yang absen dalam hikayat.

Hal kedua yang membuat novel Azab dan Sengsara penting, ia mampu memotret adat istiadat setempat dalam cara bertutur dan kisah cinta yang dramatik.

Merari Siregar sendiri mulai mampu menarik jarak dengan adat istiadatnya ketika ia bersekolah ke Betawi. Melalui pendidikan itu, pergaulan di kota besar seperti Betawi, matanya terbuka. Betapa zaman sudah begitu berbeda.

Sejak tahun 1901-1942, Belanda menerapkan politik etis (1). Seorang ahli hukum dan politisi bernama Van de Venter menyatakan. Belanda sudah mendapatkan banyak sekali keuntungan dari tanah jajahan. Saatnya Belanda memberi tanggung jawab memajukan penduduk pribumi melalui politik etis.

Pandangan Van de Venter ini didukung oleh Pieter Brooshooft, penulis koran terkemuka De Locomotief. Pandangan ini menjadi kebijakan resmi Ratu Wilhelmina untuk Hindia Belanda.

Tiga hal yang dilakukan dalam politik etis: Irigasi, Emigrasi dan Edukasi. Pendidikan modern dibuka seluasnya bagi pribumi. Taman bacaan didirikan. Satu dari taman bacaan itu, Taman Bacaan Rakyat, kemudian berubah menjadi Balai Pustaka.

Merari Siregar merasakan manfaat dari politik etis ini. Ia bersekolah guru. Dari Taman Bacaan Rakyat, Ia dapatkan bacaan dunia.

Kekayaan pengetahuan itu membuat Merari kritis terhadap kungkungan adat istiadatnya sendiri, adat Batak Singkola di Sipirok.

-000-

 

Forum penulis dan tim ahli yang diisiniasi oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena sudah memilih di bulan Oktober 2021. Buku Azab dan Sengsara (1920) termasuk dalam daftar “100 Buku Yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial.”

Satupena berikhtiar menerbitkan kembali 100 buku itu dengan seizin pemilik copy rights dalam bentuk Print On Demand (POD). Tak lain agar pembaca di masa kini dapat kembali berdialog dengan suasana yang membentuk keindonesiaan di masa lalu.

Pernikahan yang dijodohkan (arranged married) menjadi tema sentral novel Azab dan Sengsara. Kini di era modern, pernikahan yang dijodohkan kembali dibicarakan.

Data menunjukkan, pernikahan perjodohan memiliki angka prosentase perceraian kecil sekali. Itu berbanding terbalik dengan pernikahan bebas, dimana seseorang memilih sendiri pasangannya secara bebas.

Dalam dekade ini sebagai misal, perceraian dalam pernikahan di Amerika Serikat sekitar 48 persen. Namun dalam komunitas Amish, juga di Amerika Serikat, tapi pernikahannya dijodohkan, tingkat perceraiannya hanya 1 (satu) persen saja.

Studi mengenai stabilitas perkawinan, membandingkan pernikahan bebas versus pernikahan yang dijodohkan terus berlanjut. Hasilnya sama. Pernikahan yang dijodohkan menghasilkan prosentase perceraian jauh lebih kecil.

Apa penyebabnya? Sebagian ahli menyatakan itu karena pernikahan perjodohan terjadi dalam masyarakat tradisional. Dalam masyarakat itu, perceraian dianggap hina dan dipersulit.

Riset juga menunjukkan. Untuk kasus pernikahan bebas yang berhasil, pasangan itu jauh lebih bahagia.

Novel Azab dan Sengsara menjadi dokumen. Ia memberikan pada kita data yang hidup mengenai pernikahan yang dijodohkan dalam lingkup adat istiadat setempat, seratus tahun lalu. *

November 2021

(Denny JA)

 

CATATAN:

1. Politik Etis menyediakan pendidikan modern dan taman bacaan bagi kaum pribumi ikut mencerahkan dan melahirkan lapisan intelektual Indonesia.

Thompson, Dennis F. (2013-02-01), “Political Ethics”, International Encyclopedia of Ethics, Oxford, UK: Blackwell Publishing Ltd, doi:10.1002/9781444367072.wbiee633, ISBN 978-1-4051-8641-4, retrieved 2021-07-06

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *