Kamis , 21 September 2017
Beranda » Peristiwa » Ini Memoriam Budhi Wiryawan, Penyair, Wartawan Anggota PWS
Budhi Wiryawan membaca puisi di Tembi Rumah Budaya
Budhi Wiryawan membaca puisi di Tembi Rumah Budaya

Ini Memoriam Budhi Wiryawan, Penyair, Wartawan Anggota PWS

Selain pernah menjadi wartawan, Budhi Wiryawan juga bergiat dibidang sastra dan teater. Dia banyak menulis puisi, dan bahkan sudah menerbitkan antologi puisi tunggal karyanya. Puisi-puisinya juga dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya buku puisi berjudul “Parangtritis’’, “Menyisir Senja’, ‘Negeri Awan’ dan sejumlah kumpilan puisi lainnya. Sebagai orang yang pernah bergiat menjadi wartawan, meskipun sudah tidak lagi terikat dengan media, Budhi Wiryawan masih terus menulis dalam bentuk artikel, dan dia juga ikut satu komunitas wartawan Yogya yang diberi nama ‘Wartawan Sepuh’.

Budhi Wiryawan meninggal, Senin malam 17 Juli 2017 dalam usia 54 tahun dan dimakamkan Selasa, 18 Juli 2017 di makan keluarga di Kricak, Yogyakarta.

Budhi Wiryawan, bukan hanya sekali datang ke Tembi Rumah Budaya, bahkan sudah berulangkali, dan sudah tak terhitung berapakali dia bertandang ke Tembi. Sejak dia masih menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPUD) Bantul, dia seringkali mampir di Tembi dan ngobrol di Angkringan sambil menikmati teh dan gorengan.

Ketika Sastra Bulan Purnama diawali pada bulan Oktober 2011, perbincangannya bersama dengan Budhi Wiryawan. Berbincang untuk menyelenggarakan pembacaan puisi sambil duduk-duduk di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, dan Budhi Wiryawan ikut tampil membacakan puisi karyanya, apalagi pada awal Sastra Bulan Purnama dimulai dia baru saja menerbitkan antologi puisi berjudul “Sripah”.

Sejak pertamakali Sastra Bulan Purnama dimulai, hampir tidak absen Budhi Wiryawan hadir dalam acara baca puisi, lebih-lebih dia masih menjabat sebagai ketua KPUD Bantul,  sehingga seringkali mampir sebelum pulang ke rumah.

Sebelum sebagai komisioner KPUD di antul, Budhi memang sudah bergerak dibidang sastra, teater dan jurnalis. Ketiga area itu digeluti bersama dengan para seniman lain dari Bantul, tempat di mana dia tinggal. Ketika facebook mulai dikenal dan dia memiliki akun facebook Budhi Wiryawan sering mengupload puisi-puisi karya. Suatu kali dia meng-upload puisi ditahun 2011 di akun facebooknya.

“Wah, bagus juga kalau puisimu dibacakan di Tembi” saya memberi reaspon atas puisi dia yang diulpoad.

“Bagus itu pak, penyair Bantul baca puisi di Tembi” dia balik merespon.

Lalu ada kawan lain, yang juga berteman di Facebook, Wadhie Maarif, seorang wartawan dan jurnalis, yang tinggal di kota Yogya, ikut  memberi komentar dan menanggapi.

“Masak hanya khusus penyair Bantul, yang dari kota Yogya dan kota lain tidak boleh ikut membaca”

“Oh, tidak. Ini untuk siapa saja” jawab saya pada Wadhie.

“Iya, ini bukan hanya untuk penyair dari Bantul, tetapi bisa dari mana saja” Budhi Wiryawan ikut menegaskan.

Dari berbincang dengan Budhi Wiryawan melalui media sosial facebook dan dilanjutkan bertemu langsung di Tembi Rumah Budaya, akhirnya satu acara baca puisi yang kemudian dikenal dengan nama Sastra Bulan Purnama, pada Oktober 2011 diselenggarakan, Budhi Wiryawan, Wadhie Maarief (alm) Slamet Riyadi Sabrawi dan beberapa nama penyair lain tampil membaca puisi untuk pertamakali di Sastra Bulan Purnama.

Kabar duka segera menyebar, Senin malam 17 Juli 2017, bahwa Budhi Wiryawan meninggal. Tentu kepergian Budhi yang begitu cepat sangat mengejutkan teman-temannya. Dalam usia yang termasuk masih muda 53 tahun, Budhi Wiryawan telah meninggalkan kita untuk selamanya. Dimakamkan Selasa siang, 18 Juli 2017.

Budhi Wiryawan selain menulis puisi, juga menulis geguritan, puisi yang ditulis dalam bahasa Jawa. Ia juga menulis artikel di media cetak. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua KPUD Bantul, pengalaman bersentuhan dengan politik praktis di KPUD sering dia tuangkan dalam bentuk tulisan.

Puisi dan artikel, dua aktivitas kreatif Budhi Wiryawan yang terus dia lakukan. Bahkan dia tidak bisa dipisahkan dari dua kegiatan itu. Proses kreatifnya dibidang  menulis terus dia tumbuhkan, dan puisi terakhir dia yang  masuk dalam antologi puisi 174 Penyair Nusantara yang berjudul ‘Negeri Awan’ belum sempat dia bacakan, bahkan dia belum pernah melihat bukunya terbit.

Kini, Budhi Wiryawan, penyair dari Bantul, yang tinggal di Sleman bersama anak dan istrinya, telah pergi untuk selamanya. Selamat jalan Budhi. (*)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (5)

PIDATO kenegaraan terakhir Bung Karno itu cukup panjang. Hal itu bisa dimaklumi, karena Bung Karno …

1 komentar

  1. Dyah Kencono Puspito Dewi

    Sugeng tindak menuju keabadian, dalam cinta kasih Allah.. nama Budhi Wartawan, tentu banyak dikenang dalam kebaikan, ketabahannya serta karya nya yang selalu apik ditulisnya..
    Selamat jalan menuju negeri keabadian, moga husnul khotimah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *