Selasa , 28 September 2021
Beranda » Pariwisata » Willem 1 Fort Ambarawa
Penulis ketika berada di Willem I Fort Ambarawa. (Ist)

Willem 1 Fort Ambarawa

AKU bukan arkeolog apalagi arsitektur atau pun ahli sejarah. Tapi aku suka dengan sejarah dan peninggalannya berupa bangunan-bangunan kuno. Kebetulan pernah mendatangi beberapa tempat yang disebut dengan Benteng atau Fort.
Tentu saja buat aku menarik karena menjadi tahu dan membayangkan yang terjadi di zamannya. Beberapa benteng yang pernah aku datangi antara lain Willem 1 Fort Ambarawa.

 

Berbentuk Kubus
Dari sekian benteng atau Fort yang aku kunjungi, paling suka dengan Willem 1 Fort Ambarawa. Tempatnya cukup tersembunyi berada di Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng.
Menuju tempat ini tidak terlalu sulit. Kita bisa melalui jalan disamping RSUD Ambarawa. Ada Gapura tulisan Beteng. ikuti saja jalan yang sudah dibeton. Ada bangunan seperti kotak dan bangunan seperti lorong air atau lorong jembatan. Bangunan ini dikelilingi hamparan sawah. Bangunan berbentuk kubus ternyata berfungsi sebagai sarang walet. Ada warga yg menjadi penjaganya dengan mendirikan bangunan sederhana di samping benteng. Sedangkan bangunan berkolong dibiarkan ditumbuhi rumput liar.

Jalan beton berlanjut hingga di depan sebuah bangunan dua lantai. Kendaraan boleh parkir di sana. Cukup membayar Rp 5000 dan untuk setiap orangnya dikenakan biaya lima ribu rupiah juga. Awalnya saya agak heran dengan orang yang keluar masuk benteng naik sepeda kotor. Padahal kendaraan pengunjung harus parkir. Bahkan ada juga mobil yang melintas sesekali. Ternyata bagian utara bangunan itu masih digunakan pihak Lapas Ambarawa. Ada juga bangunan di bagian selatan yang masih digunakan untuk TNI yang berdinas di sebuah kesatuan. Tidak kurang 125 kepala keluarga yang tinggal di utara maupun selatan bangunan.
Kenapa aku bilang paling suka dengan Benteng ini. Pertama karena arsitekturnya menarik. Kedua letaknya yang berada di tengah persawahan menjadikan cukup mengesankan.

Simak juga:  Usel, Bermula dari Pertanyaan Seorang Belanda

Begitu masuk gerbang yang juga bagian dari bangunan benteng akan disuguhi dua blok bangunan yang saling berhadapan. Ini bangunan benteng bagian selatan. Masih asli bahkan terkesan tidak dipelihara. Ada juga tangga dI kanan kiri gerbang untuk menuju ke lantai dua. Tapi kondisinya sudah rusak. Bahkan jembatan beton dengan dinding kayu yang berada di tengah bangunan kondisinya juga tidak lebih baik.
Tapi meski kondisinya masih asli bangunan yang ada menjadi daya tarik tersendiri. Terlihat deretan jendela melengkung. Mungkin dulu itu pintu penjaranya. Sayang sekali tidak ada panplet atau petunjuk sejarah benteng ini secara lengkap yang dapat ditunjukkan ke pengunjung. Hanya tahu melalui wikipedia atau ulasan di medsos.

 

Dibangun 1834
Fort Willem I dibangun tahun 1834 dan selesai 1845. Ketika ada gempa dahsyat bangunan benteng ini sempat hancur dan diperbaiki kembali tiga tahun kemudian. Saat itu fungsinya sebagai tempat penyimpanan logistik dan barak militer Belanda.

Nama Fort Willem I dianugerahkan untuk Raja Willem yakni Raja Belanda pada masa itu.
Namun dengan perkembangan politik benteng ini sempat dipergunakan sebagai penjara anak dan kemudian juga menjadi penjara orang dewasa. Pemanfaatan sebagai penjara masih berlanjut sampai sekarang dengan beberapa perbaikan di sisi utara. Namun karena sudah termasuk cagar budaya di bagian selatan dibiarkan apa adanya. Sayang sekali benteng ini belum dimaksimalkan sebagai objek wisata terutama wisata edukasi.

Simak juga:  Mercusuar, Objek Wisata Penuh Pesona

Banyak yang menjadikan Willen 1 Fort sebagai lokasi pengambilan gambar pre wedding atau selfi bahkan pernah juga untuk shooting film. Apalagi ketika sore menjelang, sinar matahari memberikan pantulan warna yang sangat menarik di bangunan Benteng ini. Padahal kalau ada info yang bisa disuguhkan pasti lebih menarik tidak sekedar datang hanya foto-foto. Karena nilai sejarahnya sangat tinggi, menggambarkan bagaimana penjajah mencoba menancapkan tapaknya di mana-mana sebagai sebuah kekuatan. Dan kini tapak itu jadi bukti mereka tidak mampu mempertahankannya. * (Dewi Gustiana)

* Dewi Gustiana, mantan jurnalis yang kini jadi penyuka traveling. Menurutnya, ia mencoba menulis yang ringan-ringan biar otak tak jenuh, imun kuat, hati bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *