Sabtu , 16 Oktober 2021
Beranda » Pariwisata » Benteng Vredeburg Yogyakarta
Penulis di depan Benteng Vredeburg. (Ist)

Benteng Vredeburg Yogyakarta

DARI sekian banyak Benteng peninggalan Belanda di Indonesia, menurut aku yang pengelolaannya paling cerdas adalah Benteng Vredeburg Yogyakarta.
Keberadaan Benteng yang dibangun sekitar 1760 oleh Sutan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda ini, dimaksimalkan sebagai ruang sejarah, pendidikan, seni dan budaya. Tentu saja juga sebagai objek wisata yang patut dikunjungi jika berada di tanah Mataram Yogyakarta. Benteng ini kini fungsinya juga sebagai Museum.

Untuk masuk ke dalam Benteng cukup bayar Rp 3000 per orang. Dan Anda akan mendapatkan buku panduan tentang Vredeburg. Jika ada kegiatan di dalam benteng misalnya pameran, Anda akan mendapatkan berbagai liflet dan literasi lainnya. Dalam kondisi Pandemi skrg ini maka protokol kesehatan juga diberlakukan. Harus cuci tangan, jaga jarak dan penting pakai masker. Setelah melewati pintu masuk akan disambut petugas front office yang akan memberikan penjelasan seputar Museum. Anda bisa berkeliling museum yang di salah satu bangunan utamanya yang sejuk dan dilengkapi pendingin menyediakan diorama perjuangan rakyat Jogjakarta melawan penjajah. Berbagai tanaman hias juga terawat dengan baik dan lebih menyenangkan disetiap sudut bangunan sangat bersih karena petugas rutin membersihkan dan merawatnya.

Awalnya Rustenburg
Sebelum menjadi nama Vredeburg yang memiliki arti Perdamaian benteng ini dinamai Rustenburg yang artinya Peristirahatan.
Posisi Benteng berada di titik nol Jalan Malioboro bersebarangan dengan Istana Gedung Agung dan bersebelahan dengan Pasar Beringharjo. Di selatannya terdapat kantor Pos Besar sebagai tanda menuju kawasan Keraton Ngayogyakarta.

Simak juga:  Sejak 1757, di Keraton Yogyakarta ada Sekolah Tamanan

Itulah sebabnya Gubernur Belanda Nicholas Harting yang juga Direktur Pantai Utara Jawa meminta Sultan membangun Benteng. Awalnya bangunan ini sangat sederhana dari tembok tanah dengan tiang dari pohon kelapa dan aren serta dinding bambu dan atap ilalang. Dalihnya untuk menjaga keamanan keraton. Padahal maksud tersembunyi Belanda adalah memudahkan dan mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam keraton.
Benteng ini kemudian direnovasi besar besaran ketika masa Gubernur

Belanda yang dipimpin oleh W.H. van Ossenberg. Pembangunan dimulai tahun 1767, dibawah pengawasan seorang ahli ilmu bangunan dari Belanda yang bernama Ir. Frans Haak dan pembangunan baru selesai tahun 1787, hal ini dikarenakan Sultan HB I sedang disibukkan dengan pembangunan Keraton. Setelah pembangunan benteng selesai kemudian diberi nama ‘Rustenberg’ yang berarti benteng peristirahatan.

 

Diubah Karena Gempa
Pada tahun 1867 di Yogyakarta terjadi gempa bumi yang dahsyat sehingga mengakibatkan rusaknya sebagian bangunan benteng. Setelah diadakan perbaikan, nama benteng diubah menjadi ‘Vredeburg’ (benteng perdamaian). Hal ini sebagai manifestasi hubungan antara Belanda dan keraton yang tidak saling menyerang.
Secara historis sejak awal berdiri sampai sekarang mengalami perubahan atas status kepemilikan dan fungsi benteng termasuk pernah jadi gudang senjata. Kini lebih difungsikan sebagai tempat seni budaya dan wisata. Jika ke Yogyakarta mampirlah, karena banyak pengetahuan di sini yang patut diketahui. * (Dewi Gustiana)

Simak juga:  Bangkitkan Kembali Sektor Parekraf, 6606 Pelaku Usaha Ditargetkan Tersertifikasi “InDOnesiaCARE” Tahun Ini

* Dewi Gustiana, mantan wartawan Harian Suara Pembaharuan kini seorang penyuka traveling.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *