Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Pariwisata » Van Der Wijck Fort Gombong, Kebumen
Penulis berada di dalam area Benteng Van Wijck. (Ist)

Van Der Wijck Fort Gombong, Kebumen

TULISAN ini tidak menganjurkan untuk wisata di musim Pandemi tapi hanya untuk referensi banyak peninggalan penjajah yang bisa dinikmati sebagai wisata sejarah juga wisata edukasi.
Dan tentunya wisata keluarga.
Kali ini aku mengunjungi Benteng Van der Wijck yang terletak di kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Sangat mudah menuju Benteng bercat merah ini. Karena letaknya tidak jauh dari jalan utama raya Gombong. Untuk tarif masuk setiap pengunjung dikenakan Rp 25 ribu. Cukup mahal dibanding masuk ke Benteng lainnya. Besaran tarif itu karena rupanya kawasan ini difungsikan juga sebagai arena bermain termasuk kolam renang dan disediakan kereta keliling di lantai atas Benteng.

 

Dibangun 1818
Benteng Van der Wijck yang dibangun tahun 1818 oleh Jenderal Van Den Bosch telah mengalami beberapa kali peruntukan. Di saat penjajahan Belanda Benteng yang bangunannya seluas 3606 meter ini digunakan sebagai kantor VOC untuk mengamankan kongsi perdagangan rempah-rempah Belanda.

Pernah juga sebagai pusat pertahanan melawan pejuang-pejuang dalam Perang Diponegoro.
Karena letaknya di tengah kota pernah juga jadi sekolah anak-anak Belanda yang berbasis militer. Tidak heran di Benteng itu terdiri dari banyak kamar. Sedikitnya ada 32 kamar yang sekarang kondisinya terlihat rusak di beberapa tempat. Itu juga salah satu sebab Benteng berbentuk bulat persegi itu dan tediri dua lantai terlihat sangat tertutup.
Di zaman kemerdekaan hingga beberapa puluh tahun ke depannya Benteng Belanda ini dijadikan tempat sekolah militer tentara nasional.

Perubahan fungsi Benteng itu pula yang menyebabkan Van der Wijck mengalami beberapa kali perubahan nama.
Nama Van der Wijck diambil dari nama salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda Carel Herman Aart Wijck yang bertugas di Jawa pada tahun 1893-1899 dari awalnya bernama Forth Cochius.
Benteng Van der Wijck awalnha dijadikan sebagai kantor VOC, kongsi perdagangan milik Belanda
Pada awal pembangunannya, benteng ini bernama Forth Cochius. Dia adalah pemimpin perang Belanda ketika Perang Diponegoro berlangsung. Frans David Cochius yang pernah bertugas di daerah Bagelen, salah satu wilayah Karesidenan Kedu (1787 _ 1876).

Pupillen School
Kemudian pada 1856 benteng tersebut beralih menjadi sebuah sekolah khusus anak-anak dari bangsa Eropa. Sekolah tersebut bernama Pupillen School, yaitu sekolah calon militer. Ketika pendudukan Jepang jadi tempat pelatihan tentara Peta.
Ketika mengunjungi tempat ini beberapa waktu lalu saya ,suami dan anak bujang tiba sudah sore menjelang kawasan ini tutup. Jadi kami tidak bisa menikmati naik kereta di atas Benteng.
Sebelum sampai ke bangunan banyak ditemui berbagai tempat permainan terutama utk anak-anak termasuk juga kolam renang dengan papan luncur. Oleh petugas kami diantar keliling dengan mobil wisata yang memang disediakan. Terlihat empat pintu masuk utama ke dalam benteng.

Tinggi dari benteng, dijelaskan petugas 9,67 meter dan ditambah cerobong setinggi 3,33 meter. Terdapat juga 16 barak.
Kata petugas masih ada satu bangunan gudang yang dibangun hampir bersamaan dan terletak di kawasan belakang benteng. Namun karena kami tidak bisa naik maka posisi gudang tidak terlihat.
Dari sekian banyak Benteng yang dikunjungi, kawasan Benteng Van der Wijck yang terlihat paling ramai karena memang dipergunakan sebagai, arena bermain dan hiburan warga Gombong. Dan tentu saja sebagai spot foto selfi dan foto wedding. * (Dewi Gustiana)

 

* Dewi Gustiana, ibu rumah tangga yang suka traveling dan menulis. Baginya, menulis itu tak ada matinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x