Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Nasional » Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (2): Pemerintah Bukan Pengurus Partai!
Bung Karno (ft. wikipedia)

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (2): Pemerintah Bukan Pengurus Partai!

DI ATAS lapangan politik pun tak kurang soal! Benar, revolusi kita ini telah membangkitkan banyak sekali tenaga-tenaga yang konstruktif. Benar, revolusi kita ini telah membangunkan, dengan cara yang mengagumkan, tenaga-tenaga yang positif, yang berguna, yang menyusun, yang membangun. Tetapi di samping itu, sebagai buah dari kekacauan umum, lahir pula tenaga yang merusak, yang destruktif. Yang membahayakan perjuangan rakyat kita. Yang membahayakan negara. Tak berhenti-henti pemerintah berikhtiar mengasuh tenaga-tenaga yang  dapat dipakai, tak berhenti-henti pemerintah mengajak: mari menyusun, mari membangun! Tetapi di sampingnya mengasuh dan mengajak itu, pemerintah berusaha pula menghindarkan segala bahaya yang mungkin timbul dari pikiran dan jiwa pengacau.

Dengan pengertian yang sedalam-dalamnya serta keyakinan yang sekuat-kuatnya akan arti persatuan bangsa, maka pemerintah selalu mencari mempersatukan, selalu menghindarkan perselisihan, selalu menunjuk kepada ajaran sejarah: “Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh”. Akan tetapi dalam pada itu, pemerintah mesti memperkuat kedudukannya sebagai pemerintah, memperkuat kedudukannya sebagai stable goverment, memperkuat kedudukannya sebagai pucuk pimpinan negara yang ditaati oleh segenap rakyatnya. Hanya dengan kedudukan yang kuatlah pemerintah dapat melakukan kewajiban-kewajiban mahabesar sebagai pucuk pimpinan negara. Pemerintah bukan pengurus partai, bukan pengurus golongan, tetapi pengurus negara, kekuasaan negara, dan harus tahu dan dapat bersikap dan bertindak sebagai kekuasaan negara.

Kekurangpengertian di antara beberapa golongan menyulitkan kedudukan pemerintah dalam hal ini, membahayakan keselamatan perjuangan kita, membahayakan keselamatan negara kita. Maka tenaga pengrusak dan pengacau politik ini sekarang terpaksa ditetapkan oleh pemerintah sebagai bahaya negara dan bahaya perjuangan, terpaksa dibasmi. Ia telah merugikan negara dan perjuangan kita, ke luar dan ke  dalam. Pemerintah terpaksa keras. Terhadap orang-orang yang bersangkutan dengan peristiwa Solo dan Yogya baru-baru ini, akan dituntutkan hukuman yang selayaknya. Dan terhadap segala kemungkinan yang semacam itu. sikap pemerintah akan sama. Tiap-tiap pengacau, tiap-tiap pengrusak akan berhadapan langsung dengan kekuasaan pemerintah, dan pemerintah tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan yang sepantasnya terhadap mereka itu!

Di dalam politik pemerintah terhadap luar negeri, kita menjalankan haluan yang tetap. Tetap mengemudikan kapal negara Republik Indonesia di antara negara-negara yang lain, sehingga mendapat pengakuan serta kedudukan yang sama derajat. Pembicaraan yang kita lakukan dengan pihak Belanda adalah satu bahagian saja dari usaha yang kita lakukan untuk mendapat kedudukan yang kita maksudkan itu. Jika pembicaraan ini mendapat persetujuan, maka haruslah hal ini dipandang sebagai hasil sementara di dalam usaha kita mencapai dan mendirikan satu negara yang merdeka yang meliputi seluruh Hindia Belanda dahulu. Dan jika tidak mendapat persetujuan? Jika tidak mendapat persetujuan, maka dengan segala tenaga yang ada pada kita, kita akan melanjutkan usaha kita di lapangan lain. Dan jika pihak Belanda akan memakai kekerasna? Jika pihak Belanda akan mencoba memaksa kita dengan kekerasan untuk menerima penjajahannya kembali, maka kita akan mempertahankan kemerdekaan kita itu mati-matian, dengan segala kekuatan kita, dengan segala alat-alat kita, dengan segala apa saja yang ada pada kita, materiil, spirituil, lahir, batin!

Terhadap negeri-negeri lain, terutama negeri-negeri tetangga kita, kita menyelenggarakan persahabatan, dan segala soal yang timbul, dapat kita selesaikan dengan baik dalam suasana persahabatan. Pemerintah kita lebih lama lebih banyak diperlukan oleh negeri-negeri itu sebagai pemerintah bangsa Indonesia yang ada di dalam lingkungan Republik. Demikian pula oleh tentara Serikat yang telah kita tolongkan mengeluarkan tawanan Jepang serta sebagi besar daripada APWI. Hanya saja kita tetap merasa belum cukuip mendapat penghargaan atas bantuan kita itu. Kita masih terus diganggu oleh bagian tentara Serikat yang berupa tentara Belanda. Kita mengalami pengeboman kapal Kangean oleh pihak Belanda, kapal yang memuat orang, perempuan, anak-anak kecil, anak-anak bayi! Kita mengalami pengembakan Banyuwangi, pelabuhan beras yang oleh penembakan itu menderita rusaknya gudang-gudang, tenggelamnya beberapa kapal pengangkut, kocar-kacirnya persediaan gabah, sehingga terhalang benar-benar sempurnanya usaha kita di tempat itu untuk memenuhi panggilan perikemanusiaan menolong bangsa India yang menderita bahaya kelaparan.

Oleh karena gerak-gerik tentara Belanda itulah, yang rupanya tak dapat dikemudikan oleh panglima Serikat, dengan menyesal usaha kita untuk mengeluarkan kaum APWI baru-baru ini terhalang dan tertunda. Perhatikan: terhalang, tertunda, tidak diberhentikan! Mudh-mudah halangan ini lekas dapat dihilangkan, supaya pengangkutan APWI itu dapat lekas kita lanjutkan.

Sementara itu pihak Belanda terus mendesak, dan terhadap desakan Belanda itu pimpinan tentara Serikat kelihatan tidak terlalu kuat. Akibatnya ialah, bahwa di tempat-tempat yang pada lahirnya berada di dalam pengawasan Serikat, bangsa kita terdesak, terjepit, terancam. Ini tidak saja terjadi di kota-kota yang sudah terang-terangan diserahkan kepada Belanda, tetapi juga di Jakarta, di mana pengadilan kita dicoba dihapuskan serta rakyat kita diserahkan pada pengadilan yang berdasarkan hukum Belanda. Tetapi pemerintah kita pun tidak diam, tidak pernah lalai mempertahankan kedudukan bangsa kita dengan jalan apa pun yang mungkin.

Simak juga:  Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (3)

Hasil usaha politik terhadap luar negeri yang paling memuaskan, ialah perjanjian beras yang kita adakan dengan pemerintah India. Tidak saja kita mendapat persahabatan, mendapat persaudaraan, mendapat pertalian cinta dengan bangsa India yang di kemudian hari akan mempunyai suatu negara besar di dunia, oleh karenanya, tetapi langsung kita mendapat bukti yang nyata dari salah satu negeri besar bahwa kita telah mempunyai kedudukan yang terpandang di dunia, telah mendapat kepercayaan sebagai negara, telah dipandang dan diperlakukan sebagai suatu bangsa yang dewasa.

Alangkah baiknya, jika lain bang dan negara yang juga bersahabat dengan kita, lekas menurut langkah India ini. Dunia akan menyaksikan, bahwa kita bukan bangsa yang serakah. Dunia akan menyaksikan, bahwa kita suka “memberi”. Tiap-tiap bangsa mempunyai “corak” sendiri, mempunyai “warna jiwa” sendiri, mempunyai central theme sendiri, mempunyai raison d’etre sendiri. Ada bangsa yang “coraknya” ialah senang kepada kemegahan  politik. Ada bangsa yang “coraknya”  ialah militer. Ada bangsa yang “coraknya” ialah kebudayaan. Tetapi bukalah kitab sejarah kita, dan lihatlah betapa “corak” bangsa kita. Kita tak pernah, sekali lagi: tak pernah di dalam sejarah kita yang ribuan tahun itu, menjajah bangsa lain, tetapi sebaliknya, kita selalu membagikan kekayaan-kekayaan kita kepada bangsa lain.

Tidakkah negeri kita dahulu sebagian dinamakan orang “Jawa-dwipa” oleh karena kita selalu memberikan gandum kita kepada bangsa lain, sebagian lagi dinamakan “Suvarna-dwipa” oleh karena kita selalu membagikan emas kita kepada bangsa lain? Sungguh, saya bersedia meminjam lenteranya Diogenes untuk mencari seseorang yang dapat membuktikan, bahwa “corak” bangsa Indonesia adalah lain daripada itu. Dan “corak” ini tetap, tidak berubah! Dan siapa mengatakan bahwa “corak” ini berubah, bahwa kita tidak lagi seperti dulu, ia sama dengan orang yang mengatakan bahwa air dapat mengalir ke hulu. Dapatkan air Bengawan Solo kembali mengalir ke sumbernya di Gunung Sewu, atau air Sungai Gangga kembali mengalir ke sumbernya di lereng Gunung Himalaya?

Tidak, kita tidak berubah. Kekayaan kita yang dapat digunakan oleh dunia, kita sediakan untuk dunia, juga untuk negeri Belanda, untuk ditukarkan dengan keperluan-keperluan bangsa kita sendiri. Sedangkan kita di dalam keadaan terancam sebagai sekarang ini membuktikan, bahwa kita dapat dan sedia menegerjakan segala usaha perdamaian yang diperlukan oleh kemanusiaan, apalagi nanti jika kita telah mendapat kesempatan untuk hidup dalam damai, tidak diancam atau diserang dari luar!

Alhamdulillah, ini pun sebenarnya telah diketahui oleh banyak orang. Umumnya di dunia adalah banyak sahabat kita, banyak orang yang membenarkan perjuangan kita, tidak saja oleh karena dipandangnya adil, akan tetapi juga oleh karena yakin, bahwa yang kita kehendaki itu sebenarnya adalah memang paling baik juga untuk pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Maka adalah suatu usaha politik luar negeri kita, untuk menyebarkan keyakinan yang demikian itu di antara bangsa-bangsa di dunia, dengan bukti-bukti yang nyata tentang kesanggupan-kesanggupan kita sebagai bangsa, sebagai pemerintah, sebagai negara.

Gambaran yang saya berikan di atas, melukiskan dengan nyata, bahwa, meskipun kesulitan-kesulitan di tahun yang lalu adalah besar mahabesar, hebat mahahebat, meskipun kesulitan-kesulitan ini kadang-kadang tampaknya seperti lautan rintangan yang tiada hingganya, kita toh dapat melaluinya dengan selamat, berkat bantuan Tuhan Yang Mahakuasa.

Kita masih hidup. Banyak kesulitan yang telah kita alahkan! Yang kita capai belum lagi yang kita harapkan, akan tetapi bukti-bukti adalah cukup, bahwa kita maju di segala lapangan. Kedudukan pemerintah telah lebih kuat, ke luar dan ke dalam. Segala hal yang harus diperbaiki lagi akan terus diperbaiki, disempurnakan. Susunan pemerintah akan disempurnakan, susunan tentara akan disempurnakan. Pengangkutan beras ke India serta segala akibatnya, sepertinya pembagian barang-barang yang akan diterima dari India, akan terus diselenggarakan serapi-rapinya. Kekuatan bertahan kita di atas segala lapangan diperbaiki terus, dengan pimpinan Dewan Pertahanan Negara dan Dewan Militer.

Bagaimana banyak juga lagi kesulitan di hadapan kita, terutama jika pihak Belanda berniat akan mengadakan gerakan militer di negeri kita ini, insya-Allah kita terus, kita terus maju. Yang paling berat telah kita lalui. Kepada tentara diletakkan kewajiban yang sangat berat sekarang, yaitu menjaga, supaya tiap-tiap percobaan pihak Belanda untuk mengalahkan kita dengan paksaan senjata, gagal. Kita tidak mau dijajah lagi. Rakyat seluruhnya pun harus tetap tekadnya menolak segala serangan perkosa dari lawan, dengan segala tenaga dan segala alat yang ada padanya. Kita cinta damai, tetapi kita lebuh lagi cinta kemerdekaan. Kita memelihara perdamjaian hingga batas yang sejauh-jauhnya, tetapi kita sekalian akan bertahan habis-habisan terhadap tiap-tiap perkosaan pada Republik kita dan bangsa kita!

Simak juga:  Bung Karno dan Pancasila (2) : "Mufakat, Tempat Terbaik Memelihara Agama"

Apakah Republik Indonesia harus dihancurkan? Kalau Republik Indonesia dihancurkan, maka perdamaian akan hancur, maka kesejahteraan dunia akan hancur, maka ekonomi dunia akan hancur, maka demokrasi akan hancur, maka keadilan akan hancur, maka moral akan hancur, dan sebagai gantinya akan datang kekacauan terus-menerus. Kita mendirikan Republik, karena kita cinta demokrasi, kesejahteraan dunia, persaudaraan bangsa. Kita mendirikan Republik untuk kebaikan kita sendiri dan untuk kebaikan dunia. Kita mengetahui, bahwa soal Indonesia, satu bagian dari soal dunia, menarik perhatian seluruh dunia, dan bahwa soal Indonesia itu barangkali malah lebih penting daripada beberapa soal yang harus dipecahkan oleh pemimpin-pemimpin bertanggung jawab atau politik luar negerinya Serikat Bangsa-Bangsa.

Kita sendiri ingin selekas-lekasnya ikut serta dalam usaha mendirikan perdamaian dunia dan dalam usaha rekonstruksi ekonomi dunia. Oleh karena itulah, maka kita berseru kepada semua bangsa-bangsa di dunia yang cinta damai, kepada semua bangsa-bangsa yang cinta demokrasi, kepada semua bangsa-bangsa yang bertanggung jawab atas perdamaian dunia dan kesejahteraan dunia, supaya membantu agar supaya Republik Indonesia lekas diakui. Sekali lagi, kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan. Kita memelihara perdamaian sampai batas yang sejauh-jauhnya, tetapi kalau diperkosa oleh pihak Belanda, kita akan melawan! Melawan, dengan tidak gentar, sebab Tuhan Yang Mahaadil dan Mahakuasa adalah kita punya jenderal!

         

          Paduka Tuan Ketua Badan  Pekerja Komite Nasional Pusat!
          Rakyat Indonesia di seluruh Kepulauan Indonesia!

 

Pada hari ulang tahunnya proklamasi kita ini, saya menundukkan kepala untuk mengheningkan terima kasih kita kepada Tuhan Seru Sekalian Alam. Saya menundukkan kepala pula, untuk menyatakan hormat kepada semua pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah gugur, dan semua korban-korban di atas padang kehormatan membela kehormatan bangsa. Saya menyampaikan terima kasihnya bangsa dan pemerintah pula kepada semua orang dan golongan, baik di dalam maupun di luar negeri, yang telah memberi bantuan yang berupa apa pun kepada perjuangan kita.

          Setahun kita telah merdeka!

Mari kita berjalan terus. Mari kita berbesar hati. Di dalam sejarah dunia, sering orang dengan revolusi mendirikan suatu republik, tetapi banyak sekali di antaranya yang gagal. Ada yang berumur hanya beberapa bulan, ada hanya beberapa minggu. Tetapi Republik Indonesia telah berdiri satu tahun! Ini adalah perbedaan yang besar! Marilah kita berjalan terus. Insya-Allah, kalau kita dapat berdiri satu tahun, kita dapat pula berdiri dua tahun. Kalau kita dapat berdiri dua tahun, kita dapat pula berdiri tiga tahun, tiga puluh tahun, tiga ratus tahun, dan seterusnya sampai ke akhir zaman, asal kita memenuhi syarat-syarat untuk berdiri terus.

Asal jiwa kita tetap jiwa merdeka yang lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai, asal kegiatan bekerja kita emoh mengenal lelah, asal keridaan berkorban kita senantiasa hidup berseri-seri, asal kejujuran kita tak mau menjadi serong sedikit pun juga, asal kesadaran bernegara bersarang benar-benar di dalam kita punya dada, asal pekerjaan bersma dengan lain-lain bangsa kita selenggarakan sebaik-baiknya, asal kemauan hendak maju tetap menyala-nyala di dalam kalbu kita, asal persatuan nasional, ya sekali lagi persatuan nasional, kita jaga, maka Republik tidak akan tenggelam, tetapi akan tetap kekal dan abadi.

Dan, kita harus sebar, tak boleh bosan, ulet, terus menjalankan perjuangan, terus tahan menderita. Kita harus jantan! Jangan putus asa, jangan kurang tabah, jangan kurang rajin. Ingat! Memproklamirkan negara adalah gampang, tetapi menyusun negara, mempertahankan negara, memiliki negara buat selama-lamanya, itu adalah sukar. Hanya rakyat yang memenuhi syarat-syarat sebagai yang saya sebutkan tadi itulah, rakyat yang ulet, rakyat yang tidak bosanan, rakyat yang tabah, rakyat yang jantan, hanya rakyat yang demikianlah dapat bernegara kekal dan abadi. Siapa ingin memiliki mutiara, harus ulet menahan napas, dan berani terjun menyelami samudra yang sedalam-dalamnya.

Marilah kita menjadi rakyat yang gemblengan! Jangan lembek! Segenap jiwaku, segenap rohku, memohon kepada Tuhan, supaya bangsa Indonesia menjadi satu bangsa yang menjadi penjaga persaudaraan dunia dan kesejahteraan dunia, satu bangsa yang kuat, yang ototnya kawat, dan balungnya wesi, yang di dalam tubuhnya bersarang jiwa yang membuat dari zat yang sama dengan zatnya halilintar dan guntur!

          Mari kita berjalan terus!
          Ke arah pengakuan Republik Indonesia!
          Ke arah kekalnya Republik Indonesia, sampai akhir zaman!
          Hidup Ketuhanan Yang Maha Esa!
          Hidup nasionalisme Indonesia.
          Hidup persaudaraan dunia.
          Hidup demokrasi!
          Hidup kesejahteraan sosial!
          Kepada Tuhan saya mohonkan taufik dan hidayah!
          Sekianlah!
          Merdeka! ****

                                  (SEA)

Lihat Juga

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (1): Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komiter Nasional Pusat! Seluruh rakyat Indonesia di seluruh daerah Indonesia, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *