Beranda » Pendidikan » Soekarno dan Pergerakan Wanita Indonesia
Bung Karno bersama tokoh perempuan Indonesia. (Ft: Koleksi Museum Tropen/Wikipedia)

Soekarno dan Pergerakan Wanita Indonesia

SOSOK Sukarno memang tidak dapat dipisahkan dengan wanita. Perhatiannya terhadap kaum hawa ini sangatlah besar. Mungkin semua orang sudah tahu bagaimana perhatian Sukarno terhadap kecantikan wanita, dari kehidupannya yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik.

Namun, Sukarno juga memiliki perhatian besar dalam bidang politik perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Kalau pemerintah saat ini menetapkan kuota 30 persen anggota DPR untuk wanita, Sukarno sudah memikirkannya sejak awal kemerdekaan kita.

 

Lahirnya Buku Sarinah

Pemikiran Sukarno tentang harapannya terhadap peran wanita dalam pembangunan bangsa sudah diawali sejak masa sebelum kemerdekaan, ketika masih berstatus internir.

Suatu saat Sukarno berkunjung kerumah salah satu kenalannya pemilik sebuah toko. Dari pembicaraan basa-basi, Sukarno menanyakan sedang apa isterinya. Dijawab, bahwa isterinya sedang keluar menengok orang sakit. Namun dari gordin pemisah ruangan Sukarno dapat melihat ada sepasang mata yang mengintai, mata seorang perempuan, ya si nyonya rumah, ternyata dia tidak pergi seperti yang dikatakan suaminya. Dari situ Sukarno mencatat bahwa ‘kemerdekaan’ seorang wanita masih sangat dibatasi bahkan hanya untuk ikut menerima kedatangan seorang tamu sekalipun.

Kemerdekaan seorang wanita itulah yang terus berada dibenak Sukarno.  Ketika Kemerdekaan RI sudah diproklamasikan pikiran itu terus mengganggunya, tetapi baru dapat diwujudkan ketika pusat pemerintahan berpindah sementara dari Jakarta ke Yogyakarta. Mulailah Sukarno memberikan kursus-kursus wanita yang materinya kemudian dibukukan dalam buku “Sarinah”. Dalam pengantar buku itu, pada 3 November 1947, Sukarno menjelaskan bahwa nama Sarinah diambil dari nama seorang pengasuhnya, “mbok”nya. Dari dia, Sukarno banyak mendapat pelajaran tentang cinta dan kasih, bagaimana mencintai orang- orang kecil. Ia menilai walaupun Sarinah orang kecil, namun budinya selalu besar.

 

Pemikiran tentang Perempuan

Pikiran itu sangat dipengaruhi juga oleh sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa: “Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baik negeri. Manakala rusak perempuan, rusak negeri.” Namun disamping itu Soekarno juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Madame de Maintenon dari Perancis dan AH Franeke dari Jerman serta pemikir–pemikir pergerakan wanita lainnya.

Menurut Sukarno ada 3 tingkatan pergerakan wanita. Yang pertama, pergerakan menyempurnakan “keperempuannya” seperti memasak, menjahit, memelihara anak dan sebaigainya. Kedua, pergerakan Feminisme. Perjuangan persamaan hak dengan kaum laki-laki atau yang biasa disebut emansipasi wanita. Ketiga, pergerakan sosialisme dalam mana laki-laki dan perempuan bersama-sama berjuang, bahu-membahu untuk mewujudkan masayarakat sosialistis, dalam mana wanita dan laki-laki sama-sama sejahtera, sama-sama merdeka.

Pergerakan sosialisme itulah yang mendapatkan perhatian besar oleh Sukarno. Pergerakan sosialisme merupakan reaksi terhadap pergerakan emansipasi yang hanya memperjuangkan wanita dalam hak politik yang dianggap tidak mampu memecahkan permasalahan pada waktu itu. Pergerakan sosialisme menuntut pergerakan wanita bukan hanya di dalam bidang politik tetapi juga di bidang ekonomi dan sosial.

Dalam memikirkan pergerakan wanita sosialistik ini, Sukarno sangat dipengaruhi oleh pemikiran Lily Braun dan Henriette Roland Holst dari Jerman yang pada dasarnya mempertentangkan antara wanita-wanita kapitalis dengan wanita-wanita pekerja yang belum memiliki kebebasan. Mereka juga menuntut adanya kebersamaan kaum laki-laki dan perempuan dalam memperjuangkan masyarakat sosialis. Soekarno juga mengemukakan August Bebel “die frau un der sozialismus”.

 

Bagaimana di Indonesia?

Sukarno dalam buku Sarinah bab 6. menyatakan, “Hai wanita-wanita Indonesia jadilah revolusioner; tiada kemenangan revolusioner jika tiada wanita revolusioner, dan jika tiada pedoman revolusionernya.”

Tentang pedoman revolusioner itu Sukarno menunjuk Mukadimah Undang-Undang Dasar Negara RI yang menyatakan, ”Untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta mewujudkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Sukarno, wanita harus mengerti bahwa hanya sosialisme sajalah yang dapat menolong dia, oleh karenanya wanita harus ikut serta dalam penyelenggaraan perjuangan itu dengan cara yang sehebat-hebatnya. Keikutsertaan itu tidak akan terwujud bila wanita sendiri belum sadar dan bila pihak laki-laki menolak keikutsertaan wanita  karena masih dihinggapi paham-paham kolot tentang wanita.

Sukarno berpendapat, wanita harus bertindak, wanita harus berjuang.  Tetapi ini tidak berarti wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari pihak laki-laki. Wanita harus menjadi roda hebat dalam revolusi nasional, harus bersatu aksi dengan laki-laki. Wanita jangan terpecah belah, semua golongan harus digerakkan dan diarahkan ke satu tujuan.

Pada akhir buku itu, Sukarno menegaskan kembali: “Wanita Indonesia kewajibanmu telah terang, sekarang ikutlah secara mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat ikutlah mutlak dalam usaha menyusun negara nasional, menyusun masyarakat berkeadilan sosial, dan berkesejahteraan sosial, karena di situlah wanita Indonesia akan menjadi wanita yang bahagia, wanita yang merdeka.” *** (Iman Santosa)

 

Sumber bahan: “Sarinah”, Dr. Ir. Soekarno, Panitia Penerbit Buku-buku karangan Soekarno, cetakan ke 3, 1963.

 

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

DISKUSI Kebangsaan XIV, April 2018, memilih pokok bahasan “Perempuan Pelestari Pancasila”. Perempuan ditantang berperan aktif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *