Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Nasional » Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (1): Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!
Bung Karno (ft. wikipedia)

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (1): Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komiter Nasional Pusat!

Seluruh rakyat Indonesia di seluruh daerah Indonesia, dan yang merantau di luar negeri, laki dan perempuan!

Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas ucapan-ucapan yang telah diucapkan oleh Paduka Tuan Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Pusat!

Saya terharu sekali, bahwa kita pada hari ini dapat merayakan hari ulang tahun Republik kita yang pertama. Saya ingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, menmgucapkan syukur alhamdulillah, sebab, usia Republoik kita yang satu tahun itu, tak lain tak bukan ialah berkat dan rahmat Tuhan Yang Mahakuasa.

Alangkah hebatnya tahun yang telah lalu itu! Tiga ratus enam puluh lima hari kita bekerja, membanting tulang, berjuang mati-matian, menderita, menghadapi gunung-gunung kesulitan, mengatasi gunung-gunung kesulitan itu di mana dapat. Tiga ratus enam puluh lima hari kita berjuang dan bekerja secara laki-laki, secara herois.

Tatkala pada 17 Agustus tahun yang lalu kita memproklamirkan kemerdekaan kita dengan kata-kata yang sederhana, belum dapat kita membayangkan benar-benar apa yang kita hadapi. Kita hanyalah mengetahui, bahwa proklamasi kita itu adalah satu pekik “berhenti!” kepada penjajahan yang 350 tahun. Kita majukan proklamasi kita itu kepada dunia sebagai hak asli kita, hak bangsa kita, hak kemanusiaan kita, hak hidup kita, dengan cara yang setajam-tajamnya. Kita majukan proklamasi kita itu, pula sebagai seruan yang sejelas-jelas serta yang selangsung-langsungnya kepada rakyat dan bangsa kita sendiri, untuk menentukan nasibnya sendiri dengan tindakan dan perbuatan sendiri.

Dan proklamasi kita itu menderu di udara, sebagai arus listrik yang menggetarkan jiwa bangsa kita! Seluruh rakyat kita, seluruh bangsa kita, menyambut proklamasi kita itu sebagai penebusan janji pusaka yang lama, sebagai aba-aba yang menggledek untuk memulai kehidupan yang baru.

Apakah yang kita miliki pada waktu itu? Pada waktu itu yang ada pada kita hanyalah kehendak, kemauan jiwa, yang menyala-nyala dengan semangat kemerdekaan. Kekuasaan masih di dalam tangannya balatentara Jepang, yang jumlahnya berpuluh-puluh ribu serdadu yang bersenjata selengkap-lengkapnya. Dan balatentara Serikat segera akan mendarat pula, menambah persenjataan asing yang ada di negeri kita. Dunia belum mengenal bangsa kita serta belum mengenal kehendak kita akan kemerdekaan. Rakyat kita badannya lemah, seakan-akan remuk redam, oleh penderitaan-penderitaan yang dialaminya selama penjajahan Jepang. Di seluruh negeri kita, yang kelihatan hanyalah kesukaran, kekurangan, kemelaratan.

Di dalam keadaan yang demikian itulah kita memulai perjuangan kebangsaan kita yang sekarang ini, kita nyatakan ke seluruh dunia: “kita Republik”, “kita merdeka!”. Gelap.gelap dunia di keliling kita, akan tetapi di dalam batin kita terang benderang, menyala-nyala api kemerdekaan dan api kebangsaan.

Dengan kehendak yang membulat menjadi satu,  ketetapan hati yang menggumpal menjadi satu, tekad yang membaja menjadi satu, seluruh bangsa kita – kaya, miskin, tua, muda, laki, perempuan, terpelajar, buta huruf – seluruh bangsa kita bangkit, bergerak, berjuang untuk membenarkan, mewujudkan proklamasi 17 Agustus itu. Balatentara  Jepang yang telah kehilangan semangatnya, dapat kita desak dan enyahkan dari pemerintahan. Dalam beberapa minggu saja, seluruh pemerintahan di pulau-pulau Jawa dan Sumatera dan lain-lain, benar-benar di dalam tangan kita.

Dengan begitu, maka proklamasi kita bukan lagi satu janji dan tuntutan, bukan lagi satu seruan di awang-awang. Tetapi kemerdekaan kita menjadi satu kenyataan, negara Republik Indonesia menjadi satu realiteit bagi dunia dan kemanusiaan. Dengan begitu, kita, sebagai bangsa, telah turun bertindak dan menentukan sejarah kemanusiaan dan nasib kemanusiaan. Dengan begitu, pertanggungjawaban kita kepada seluruh dunia bertambah pula.

Simak juga:  Nasionalisme dalam Impian Sukarno

Alangkah hebatnya kesulitan-kesulitan yang kita hadapi! Kesulitan-kesulitan itu tidak akan berkurang, bahkan bertambah, sesudah kita merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Serikat telah mendaratkan beribu-ribu serdadu bersenjata, di antara mana serdadu Belanda. Bersama-sama dengan itu, datang pula wakil kekuasaan Belanda yang mengaku dirinya pemerintah Hindia Belanda. Di pulau-pulau di luar Jawa dan Sumatera, – di mana rakyat kedudukannya terpencar-pencar -, balatentara Belanda yang menamakan dirinya NICA dapat meluaskan kedudukannya serta kekuasaannya. Lawan kita dapat menguasai laut dengan kapal-kapal perang serta kapal terbang, merintangi perhubugan antara kita dengan saudara-saudara di seberang, mengasingkan kita dari saudara-saudara di seberang itu, meskipun di dalam batin, kita tidak dapat diasingkan dan tidak akan dapat diasingkan. Dan lawan kita itu pun memblokade kita terhadap dunia luar, mencoba hendak melumpuhkan kita dengan blokade itu.

Kesulitan-kesulitan tiumbul mula-mula di dalam negeri sebagai akibat pertempuran dengan Jepang, yang dapat berhasil menggunakan kaki tangannya dari bangsa kita sendiri dan orang Indo, sehingga timbul suasana benci-membenci di antara beberapa golongan bangsa kita sendiri. Dan lawan dari pihak Belanda bukan lawan, kalau ia tidak mempergunakan kemungkinan ini! Sebagian kecil daripada bangsa kita dapat dihasut untuk mengadakan tindakan-tindakan ganas yang bersifat provokasi terhadap barisan kita. Tembak menembah terjadi, bunuh membunuh. Sehingga tak dapatlah dihindarkan, bahwa antara tentara Serikat dengan rakyat kita pun timbul persengketaan. Orang-orang tawanan bangsa Belanda, yang pada mulanya diterima kembali di dalam masyarakat kita dengan penuh rasa peri kemanusiaan, mereka pun terseret di dalam gelombang perasaan kebencian dan permusuhan, yang timbul dari pertempuran-pertempuran antara NICA dan rakyat kita. Di dalam keadaan demikian, orang-orang ini, yang berada di antara rakyat kita yang amarah, terpaksa kita lindungi dari kemarahan rakyat itu. Berpuluh-puluh ribu orang Indo dan APWI yang harus diselamatkan dari kemarahan rakyat, dikumpulkanlah oleh pemimpin-pemimpin kita yang merasa bertanggung jawab, di dalam tempat-tempat yang diperlindungi. Maka dengan sedih hati,beribu orang yang bertahun-tahun telah menderita kehilangan kemerdekaannya di zaman Jepang, tak dapat dikembalikan pada masyarakat; beribu orang yang telah mengecap kemerdekaan sedikit hari di zaman Republik, harus dikembalikan pada tempat-tempat perlindungan.

Dan sudah barang tentu hal-hal ini memperbanyak kesulitan kita terhadap balatentara Serikat, yang menurut keterangannya mendarat di Indonesia untuk menawan orang Jepang dan memerdekakan orang-orang yang ditawan oleh Jepang dahulu. Seolah-olah, seperti, kita menghalangi pekerjaan tentara Seikat! Padahal, sejak mula-mulanya kita mengatakan, menyatakan, membuktikan, bahwa kita sedia membantu dengan segala kekuatan kita, supaya balatentara Serikat dapat menyelesaikan kewajibannya di negeri kita ini, akan tetapi pihak Serikat sendiri menyulitkan kita benar-benar memberi pertolongan itu kepadanya! Meskipun kita tidak meminta kepadanya, supaya mengakui Republik kita atau pemerintahan kita pada waktu itu juga, – hal mana tentu tidak mungkin bagi tentara yang sekadar menjadi alat negaranya saja -, maka yang kita anggap mungkin dikabulkannya, – dan jika dikabulkannya, niscay memudahkan pemecahan segala soal serta penyelesaian segala soal – ialah: tuntutan kita, supaya di antara tentara Serikat yang mendarat, hendaknya jangan ada balatentara Belanda.

Simak juga:  Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (2) : "Langkah Guntur ke Politik Dijegal"

Tuntutan kita ini bukan semata-mata diadakan supaya menunjukkan curiga kita terhadap bangsa Belanda, bukan supaya menyatakan permusuhan kita kepada pihak Belanda. Kepada pihak Belanda kita berkata, “Percayalah, bahwa kami sebenarnya tidak apriori menghendaki permusuhan dan pertentangan dengan Tuan. Percayalah, bahwa kami sebenarnya mengharapkan penyelesaian soal-soal kami dengan Tuan secara damai. Apakah  yang lebih baik daripada damai?”

Tetapi kita mengerti, bahwa jika tentra Belanda dimasukkan ke dalam daerah Republik, kemungkinan akan menyelesaikan soal-soal dengan damai, tentu dibahayakan dengan gerakan militer. Hal ini ternyata di kota Jakarta dan di kota Bandung, di mana balatentara Belanda segera bertindak sangat agresif dan provokatoris, malahan bertindak bergandengan tangan dengan balatentara Jepang, mengadakan suatu macam terreur terhadap pihak kita. Kejadian-kejadian di Jakarta itulah, dan kemudian di lain tempat, yang meluap-luapkan perasaan bangsa kita hingga menjadi gelombang kebencian terhadap keganasan yang diperlihatkan oleh tentara Belanda terhadap pihak kita. Inilah terutama, yang mendorong kita untuk mendesak pada pihak Serikat, supaya jangan, jangan mendaratkan  tentara Belanda, oleh karena terang akan mengacaukan suasana umum, terang akan merusakkan suasana umum, tidak saja untuk usaha Serikat di negeri kita ini, tetapi juga untuk usaha penyelesaian soal Indonesia – Belanda sendiri!

Sayang! Sayang pihak Inggris rupanya tidak dapat menolak tuntutan Belanda supaya memasukkan juga tentaranya. Tentara Serikat yang sebagian besar terdiri dari bangsa yang kita saudarai, bangsa India, terlibat pula di dalam suasana pergeseran, permusuhan, pertempuran, yang disebabkan oleh hal ini. Pertempuran di Surabaya terjadi sebagai akibat dari suasana ini. Dalam pada itu ternyata kepada dunia, bahwa kita hendak mempertahankan kehormatan kita dengan segala tenaga yang ada pada kita. Beratus ribu rakyat kita menjadi korban, beratus mati, beribu luka, beribu remuk-redam dan hancur-lebur rumahnya dan harta bendanya. Kota Surabaya yang berpenduduk hampir semilyun, menjadi sunyi senyap, diliputi api, ditimpa kerusakan. Akan tetapi bangsa kita menerima segala hal ini sebagai tebusan kehormatan bangsa, yang harus dibayar, yang mesti dibayar. Kemudian Magelang, kemudian Ambarawa, kemudian Semarang, kemudian Bandung, kemudian Medan, kemudian Padang. Di mana pihak Serikat memasukkan tentara Belanda, di sana menjadi neraka. Dan di sana pula pihak Serikat tak dapat menjalankan dengan sempurna kewajibannya yang diletakkan di atas bahunya.

Pertempuran-pertempuran ini menggoncangkan benar-benar masyarakat bangsa kita. Terpaksa kita pun terhadap balatentara Serikat menyatakan curiga kita, terpaksa kita membatasi kebebasannya bergerak di dalam Republik, meskipun kita tidak diakuinya sebagai negara. Bertambah banyak dan tajam persoalan kita dengan Belanda. Bertambah pula persoalan kita dengan Serikat. Ini kita sayangi.

Tetapi akhirnya kita diperlakukan sebagai pemerintahan de facto. Dengan begitu maka beberapa hal dapat diurus sebagai persetujuan antara dua pihak yang sama derajatnya. Dengan begitu maka beberapa hal dapat diselesaikan, zonder pertumpahan darah. Sungguh, kita tak dapat menyerahkan kekuasaan atau daerah pada pihak Serikat dengan begitu saja, hal mana menimbulkan pertempuran, dan sebagai akibatnya, kekacauan di dalam beberapa daerah!

Simak juga:  Bung Karno Sempat Diancam Todongan Pisau

Di tengah-tengah nyala api, di tengah-tengah menggeledeknya meriam, di tengah-tengah menghebatnya kekacauan, kita harus menjalankan, memperlengkapi, menyempurnakan pemerintahan kita. Mula-mula kita mendirikan tentara kebangsaan. Kemudian kita memperbaiki pemerintahan sipil yang menderita kerusakan di dalam revolusi. Kemudian lagi kita berikhtiar mengatasi kekacauan, mengurus dan menyusun kehidupan rakyat murba dalam hal keamanan dan kemakmuran. Perusahaan-perusahaan umum diperhatikan, diurus, diperlengkapi. Jawatan kereta api, jawatan listrik, jawatan pengairan, jawatan kehutanan, jawatan kesehatan, – semuanya itu harus diurus di dalam kesulitan yang mahabesar. Rancangan untuk menyelenggarakan kemakmuran rakyat, atau sedikitnya meringankan penderitaan rakyat, pun dipikirkan. Kekalutan yang ditinggalkan oleh Jepang di atas lapangan ekonomi, bukan kepalang. Kekalutan warisan Jepang di atas lapangan keuangan, tiada hingganya. Beribu juta uang Jepang beredar di dalam Republik, dan beribu jura uang Jepang ini menghambat segala usaha untuk memulai pembersihan ekonomi. Maka yang menjadi soal yang pertama ialah: mengadakan pembersihan uang. Yang sejak dari mula-mulanya Republik berdiri, telah dimengerti oleh pemerintah kita. Akan tetapi juga di dalam usaha mengadakan pembersihan uang itu, kesulitan mahahebat. Bukan saja kesulitan-kesulitan teknis dan materiil untuk mengeluarkan dengan lekas uang Republik sendiri, tetapi juga kesulitan oleh karena perlengkapan alat kekuasaan, – seperti polisi biasa dan polisi ekonomi -, masih belum memadai kepada keperluan yang timbul karena niat pembersihan ekonomi itu. Kesulitan keuangan masyarakat dan keuangan pemerintah mahahebat, dan sebelum hal keuangan ini dapat disehatkan, belum dapatlah diusahakan perbaikan kemakmuran negeri, belum dapat dibasmi tukang catut, belum dapat diberantas korupsi dengan sempurna.

Maka di dalam keadaan demikian alat-alat penghasilan yang seharusnya dapat membantu meringankan beban pemerintahan, tidak dapat menolong. Malahan di sana-sini timbul semacam anarko-sindikalisme, yang sebenarnya bukan anarko-sindikalisme yang prinsipil. Kaum buruh bertindak seolah-olah merekalah yang berhak atas perusahaan dan hasil perusahaan dengan langsung, mula-mula oleh karena tiada orang yang membayar gajinya. Ia mesti makan untuk dapat bekerja, dan ia bekerja buat makan. Kemudian hal ini dipergunakan oleh orang-orang di antara mereka yang tidak baik, supaya berlaku sebagai tukang catut. Hasil perusahaan yang seharusnya milik negara, dicatut oleh orang-orang yang mengangkat dirinya menjadi pengurus perusahaan-perusahaan. Demikian pula dengan isi gudang-gudang negeri. Orang-orang yang tidak baik telah mencatutkan isi gudang-gudang itu, dan dengan begitu merugikan, mengkhianati kepada negara. Usaha untuk memusatkan pimpinan segala perusahaan yang dalam pengawasan negara, terus diikhtiarkan, terus dijalankan, setapak demi setapak berhasil pula, akan tetapi belum dapat berbuah sebagai dikehendaki, oleh karena alat-alat kekuasaan belum cukup, dan pengertian yang sehat di kalangan kaum buruh belum tersebar di mana-mana. Usaha untuk menghematkan segala alat dan benda yang datang dari luar negeri pun diikhtiarkan, akan tetapi menemui pula kesulitan-kesulitan yang serupa. Terutama sekali penghematan alat-alat lalu lintas minta perhatian yang sungguh-sungguh.

Demikianlah gambaran lautan kesulitan, rimba berlukar kesulitan, gunung-gunung kesulitan yang kita lalui di tahun yang lampau di atas lapangan ekonomi dan pemerintahan. (Sutirman Eka Ardhana)

                                                                                              (Bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.