Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Andaikata Bung Karno Tidak Dilahirkan di Indonesia
Buku "Andaikatamologi" karya Jaya Suprana. (Ist)

Andaikata Bung Karno Tidak Dilahirkan di Indonesia

Sejarah Yang Berbalik dan Filsafat Andaikata: Review Buku Jaya Suprana
BUNG Karno tokoh yang sentral bagi Indonesia. Ia bukan saja sangat mewarnai perjalanan awal kebangsaan sejak tahun 30an hingga 1960an. Ia juga tetap mewarnai Indonesia hingga kini.

Apa yang terjadi jika Bung Karno tak pernah dilahirkan? Atau apa yang terjadi jika Bung Karno dilahirkan, tapi tidak di bumi Indonesia?

Akan samakah Indonesia? Jika tak ada Bung Karno, tak akan ada pula Megawati. Tak akan ada pula PDIP. Jokowi jika tak didukung PDIP akankah tetap terpilih sebagai presiden?

Pertanyaan ini membuat kita merenung. Betapa jika satu orang sangat berpengaruh tidak dilahirkan, hidup yang kita jalani saat ini juga bisa berbeda.

Lebih jauh lagi kita dapat merenungkan masing masing riwayat hidup kita pribadi.

Kita dilahirkan melalui orang tua yang tidak kita pilih. Hidup di waktu yang tidak kita rancang sendiri. Kita tumbuh di masa kecil di tempat yang tak kita tentukan. Dan semua yang tak kita pilih itu sangatlah mewarnai hidup kita.

Jika saja satu variabel itu berubah, berubah pula nasib kita. Jika kita lahir di Afrika di abad sebelum masehi, misalnya, betapa berbedanya hidup kita?

Saya merenung sejauh itu ketika menerima kiriman buku Jaya Suprana. Bukunya berjudul: Andaikatamologi (Gramedia, 2021).

Dalam buku itu ada 20 esai kisah Andaikata. Andaikata Hitler menang perang dunia kedua. Andaikata Xi Jinping menghargai dokter penemu virus Covid-19.

Simak juga:  Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (1) : "Jiwa Revolusionerku Tetap Membara"

Andaikata Donald Trump tak mengeluarkan Amerika Serikat dari Program Perubahan Iklim Dunia. Andaikata teknologi artificial inteligence sudah sampai di tahap itu: lebih tahu tentang diri kita ketimbang diri kita sendiri?

-000-

Begitu menarik imajinasi baru jika satu peristiwa sejarah andaikata saja berjalan dengan hasil berbeda. Menarik pula imajinasi baru itu seandainya seorang tokoh berpengaruh tak pernah ada.

Karena banyak pemikir, penulis yang merenungkan hal ini, maka hadir sebuah genre dalam sastra.

Awalnya lahir dulu historical fiction. Ini fiksi yang berangkat dari peristiwa sejarah. Dalam mayoritas historical fiction, kisah sejarah yang sebenarnya menjadi setting atau inspirasi dari kisah fiksi.

Lalu menyusul genre altenate history (1). Genre ini sungguh berbeda. Kisah di dalamnya justru terbalik. Ini kisah fiksi berdasarkan sejarah yang berbeda. Apa yang terjadi jika sejarah menghasilkan peristiwa yang berlawanan, misalnya?

Stephen Fry menulis buku Making History (1996). Dalam buku ini, dikisahkan Adolf Hitler tak pernah dilahirkan. Akibatnya Nazisme di Jerman justru bertahan lebih lama. Pemimpin yang ada lebih kompeten dibanding Hitler.

Kingsley Amis menulis buku Alteration (1976). Ia menceritakan sejarah tumbuh berbeda. Martin Luther, pendiri Protestan dikisahkan menempuh jalan yang lain. Agama Protestan tak pernah lahir. Martin Luther berdamai dengan pihak gereja dan Ia diangkat sebagai Paus Katolik.

Simak juga:  BK Selamat Berkat Keris di Papua

Philip Rots menulis novel Plot Against America (2004). Dalam novel itu dikisahkan hasil pemilu presiden yang berbeda. Di tahun 1940 bukan Roosevelt yang menang. Ia dikalahkan oleh saingannya Charles Linbergh. Maka Amerika Serikat dikuasai paham yang lebih facist, anti demokrasi.

New Gingrich, politisi Republik yang juga intelektual, bersama William Forstchen, menulis novel pula. Judulnya 1945. Dalam novel itu, Amerika Serikat hanya mampu mengalahkan Jepang di tahun 1945. Jerman tak bisa ditundukkan.

Apa yang terjadi kemudian? Perang dingin berlangsung bukan antara Amerika Serikar versus Uni Sovyet. Tapi Amerika Serikat versus Jerman.

-000-

Jaya Suprana memang tidak menuliskan “Andaikata” itu dalam berbagai buku. Ia membuatkan esai pendek saja untuk setiap kasus.

Setelah “Kelirumologi,” kini “Andaikatamulogi” yang dipopulerkan oleh Jaya Suprana.

Walau esainya ditulis secara ringan, dan pendek, namun renungan soal “andaikata,” jika sejarah berjalan berbeda, mengajak kita merenung jauh.

Betapa satu peristiwa besar akan menentukan peristiwa selanjutnya. Peristiwa besat itu menentukan pula nasib orang banyak. Sementara hasil peristiwa besar itu bisa saja berbeda jika tak hadir satu atau dua variabel utama.

Betapa kaya kemungkinan. Betapa banyak hal tak bisa kita pastikan.*

Oktober 2021

* (DENNY JA)

CATATAN:

1. Jika sejarah berjalan berbeda melahirkan sebuah genre penulisan sendiri
https://www.historians.org/publications-and-directories/perspectives-on-history/january-2016/the-past-conditionally-alternative-history-in-speculative-fiction

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *