Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Sukarno Kenal Tokoh Dunia Berkat Buku
Bung Karno sedang membaca (Ft. net)

Sukarno Kenal Tokoh Dunia Berkat Buku

BUKU, dari awal kemunculannya, hingga hari ini memang punya peran besar dalam mengubah perilaku manusia. Dengan kata lain, buku memiliki kemampuan yang besar dalam mengubah atau membentuk kehidupan manusia. Sehingga tak heranlah beragam pendapat, sanjungan dan sebutan ‘istimewa’ diberikan kepada buku. Misalnya, banyak yang menyebut buku sebagai “jendela dunia”. Ada yang menyebut, buku itu “belantara ilmu”. Tak sedikit pula menyebut buku sebagai “makanan bergizi bagi jiwa dan pikiran”.

Dengan bahasa bombasnya, buku bisa mengubah dan membangun peradaban manusia. Bisa membuat manusia dari tak mengerti menjadi mengerti tentang sesuatu. Bisa menumbuhkan semangat untuk membangun keutuhan bangsa, atau juga sebaliknya, memporakporandakan kesatuan bangsa. Bisa menumbuhkan rasa kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi. Dan, bisa pula sebaliknya, menghancurkan rasa serta semangat kebangsaan atau nasionalisme itu. Buku bisa menumbuhkan rasa cinta, tapi juga sebaliknya, menumbuhkan rasa benci. Bisa membangun, dan bisa menghancurkan.

Salah satu contoh buku yang memiliki pengaruh dahsyat bagi peradaban dan kehancuran kemanusiaan adalah buku berjudul Mein Kampf yang ditulis Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman. Buku yang ditulis Hitler di dalam penjara, dan kemudian diterbitkan saat Nazi berkuasa, beberapa tahun menjelang meletusnya Perang Dunia II tersebut benar-benar buku yang dahsyat. Dalam waktu relatif sungkat buku itu terjual lebih dari lima eksemplar. Jutaan eksemplar lagi dibagikan secara cuma-cuma kepada rakyat Jerman.

Dan, dahsyatnya lagi, buku yang berisi tentang keunggulan atau kehebatan ras Aria (bangsa Jerman) serta rendahnya ras Yahudi itu telah memicu terjadinya Perang Dunia II. Buku itu telah mempengaruhi Jerman untuk menguasai atau menundukkan negara-negara lain. Di dalam buku itu disebutkan, bahwa bangsa Jerman adalah bangsa yang terhormat dan berderajat tinggi. Peradaban bangsa Jerman ketika itu benar-benar telah dipengaruhi oleh buku Mein Kampf tersebut.

Simak juga:  Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

Buku Mein Kampf itu telah membawa akibat yang sangat dahsyat. Perang Dunia II berkobar di Eropa, juga Asia. Setidaknya 16 juta jiwa telah menjadi korban tewas dalam perang. Dan, setidaknya enam juta orang Yahudi tewas dibantai Nazi Jerman. Pembantaian terhadap ras Yahudi itu sebagai akibat dari provokasi buku Mein Kampf.

Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II pada tahun 1945, buku Mein Kampf dilarang beredar, dan dilarang diterbitkan lagi. Pemerintah Jerman setelah itu mengambil hak ciptanya. Tapi dua tahun lalu, hak cipta buku tersebut telah dikembalikan ke penerbitnya. Jadi selama 70 tahun lebih, buku Mein Kampf merupakan buku yang dilarang di Jerman.

 

Sukarno dan Buku

Banyak pemimpin di dunia ini yang ‘dibesarkan’ oleh buku. Dengan kata lain, banyak pemimpin dunia yang kehebatan, kecerdasan dan intelektualitasnya terbangun karena membaca buku. Tak sedikit pemimpin-pemimpin di dunia yang memunculkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan cemerlang dalam memimpin bangsanya karena pengaruh dari buku-buku yang dibacanya. Rasanya tak berlebihan bila menyebut, buku telah membawa banyak pemimpin dan tokoh di dunia ke jenjang ketokohan serta kepopulerannya.

Dua tokoh bangsa kita, Sang Proklamator kemerdekaan, Sukarno dan Hatta merupakan contoh sederhana dari sejumlah pemimpin dunia yang ‘dibesarkan’ oleh buku. Karena daya baca yang tinggi, keduanya mampu memunculkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan kreatif, cemerlang dan berkualitas dalam memimpin serta menggerakkan roda pemerintahan demi membangun bangsa dan negara ini.

Sukarno misalnya, ia intens menjadi pecinta buku sejak melanjutkan sekolah di Surabaya dan tinggal di rumah pemimpin Sarekat Islam, H Oemar Said Tjokroaminoto. Di rumah tokoh pergerakan dan pendiri Sarekat Islam itulah ia mendapatkan ilmu tambahan yang sangat luar biasa dari buku-buku yang sengaja diberikan kepadanya. Dan, hari-harinya pun kemudian tak pernah dilewatkan dari membaca buku. Seakan tiada hari tanpa buku. Buku telah menjadi santapan jiwanya.

Simak juga:  Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (2) : "Langkah Guntur ke Politik Dijegal"

“Pak Tjok adalah pujaanku. Aku muridnya. Secara sadar atau tidak sadar, ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku-bukunya, diberikannya padaku miliknya yang berharga,” ujar Sukarno seperti yang tertulis di dalam buku otobiografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (BKPLR) yang ditulis penulis Amerika, Cindy Adams, dan diterbitkan Gunung Agung, pada 1966.

“Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh konpensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia krohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira,” katanya lagi.

Diakui Sukarno, hampir seluruh waktunya saat di Surabaya itu digunakannya untuk membaca. Jika teman-teman sebayanya asyik bermain, ia asyik belajar dan membaca buku. Kesukaan membaca itu membuat ia ‘bertemu’ dan ‘berkenalan’ dengan banyak tokoh dunia. Tokoh-tokoh besar dunia itu telah mempengaruhi pikiran-pikirannya, dan membuka cakrawala pengetahuan yang sangat luas bagi dirinya.

“Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia, karena dia bercerita kepadaku tentang  Declaration of Independence yang ditulisnya di tahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mengalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln, sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia,” ungkap Sukarno tentang ‘pertemuan’ dan ‘perkenalan’ dengan tokoh-tokoh besar dunia itu.

“Di dalam dunia pemikiran, aku pun berbicara dengan Gladstone dari Britannia ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris, aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria. Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin dari Rusia, dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Aku meneguk semua cerita ini. Kualami kehidupan mereka. Aku sebenarnya adalah Voltaire. Aku adalah Danton pejuang besar dari Revolusi Perancis. Seribu kali aku menyelamatkan Perancis seorang diri dalam kamarku yang gelap. Aku menjadi tersangkut secara emosionil dengan negarawan-negawawan ini,” urai Sukarno lagi tentang bagaimana ia bisa ‘bertemu’ dan ‘dekat’ dengan tokoh-tokoh besar dunia berkat bantuan buku-buku yang dibacanya, seperti yang tertera di dalam buku BKPLR tersebut.

Simak juga:  Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (1): Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

 

Membaca Mein Kampf

Buku Mein Kampf karya Adolf Hitler yang sempat menggemparkan dunia akibat daya pengaruh besarnya  dalam memicu Perang Dunia II tersebut juga merupakan salah satu judul buku yang pernah dibaca Sukarno.

Dalam tulisannya di “Panji Islam”, 1940, berjudul “Indonesia Versus Fasisme”, Sukarno mengemukakan tentang bagaimana langkah-langkah Jerman yang dipimpin Hitler mengembangkan pemerintahan dan kekuasaan dengan Fasisme. Fasisme yang dikembangkan Hitler dan mengakibatkan dunia terutama kawasan Eropa porak-poranda karena perang dan ambisi Jerman Raya tersebut. Semua itu terjadi akibat pengaruh dari buku Mein Kampf.

`        — Autoritat jedes Fuhrer nach unten, und Verant wortlichkeit nach oben, begitulah pernyataan Hitler di dalam ia punya buku “Mein Kampf”, yang Indonesia-nya ialah “Perintahnya tiap-tiap pemimpin kepada yang ada di bawahnya, dan pertanggungan-jawab dari yang bawah kepada yang di atas”.– sebagian antara lain yang ditulis Sukarno tentang apa yang ada di buku Mein Kampf di dalam tulisan tersebut (Lihat – Dibawah Bendera Revolusi, Jilid Pertama, Ir. Sukarno, Panitia Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1963). *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.