Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Nasional » Menjelang Proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta Diculik
Bung Karno dan Bung Hatta (Foto: net)

Menjelang Proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta Diculik

MENJELANG Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 memang merupakan saat-saat yang menegangkan dan mendebarkan. Terlebih-lebih bagi diri Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Karena menjelang proklamasi kemerdekaan itu, tepatnya tanggal 16 Agustus dinihari, keduanya telah diculik oleh sekelompok pemuda dan ‘diamankan’ di Rengasdengklok.

Pertemuan dengan sejumlah pemuda yang dipimpin Sukarni dan Chairul Saleh pada tanggal 15 Agustus 1945 itu berakhir sekitar tengah malam. Sekilas, ketegangan yang terjadi antara Bung Karno dengan para pemuda itu berakhir begitu saja. Sepertinya para pemuda itu tampak puas dengan penjelasan Bung Karno bahwa kemerdekaan akan diumumkan tanggal 17 Agustus.

Ketika para pemuda itu berpamitan, Bung Karno menangkap isyarat ada sesuatu yang tersembunyi di hati para pemuda tersebut. Apalagi, salah seorang di antara pemuda itu sebelum pulang sempat meninggalkan kata-kata seperti ini, “Besok situasi mungkin semakin bertambah buruk. Pengikut-pengikut kita sudah gelisah. Kalau Bung Karno tidak bertindak seperti yang telah kami janjikan, mereka akan menjadi galak. Dan Bung Karno harus memikul akibatnya.”

Di dalam kamar tidur, Bung Karno tak dfapat memejamkan matanya. Sampai waktu makan sahur tiba sekitar 03.00 tanggal 16 Agustus dinihari itu, ia belum juga sempat tidur. Seusai makan sahur, ia dikejutkan dengan suara detak langkah kaki yang ramai di luar rumah.

Ternyata, dinihari tanggal 16 Agustus itu serombongan pemuda berseragam dan bersenjata telah berada di rumahnya. Pemuda-pemuda bersenjata itu dipimpin oleh Sukarni.

Ketika Bung Karno menemui mereka, Sukarni dengan pistol di tangan dan pedang tergayut di pinggangnya berkata agak keras, “Ayo Bung, berpakaianlah. Sudah tiba saatnya.”

Meski diancam seperti itu, Bung Karno tidak sedikitpun menunjukkan rasa takutnya.

“Ya, sudah tiba saatnya untuk dibunuh! Jika aku yang memimpin pemeberontakanmu ini dan gagal, aku kehilangan kepala, engkau pun juga, begitu pun yag lain. Anak buah mati ada gantinya, tapi pemimpin? Kalau aku mati, coba siapa pikirmu yang akan memimpin rakyat, bila datang waktunya yang tepat?” kata Bung Karno penuh amarah.

Para pemuda bersenjata itu tampaknya sudah tak peduli lagi dengan kata-kata Bung Karno. Mereka lalu menyatakan niatnya untuk membawa Bung Karno keluar kota.

“Oleh karena itu kami akan melarikan Bung ke luar kota di malam buta ini. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman,” salah seorang di antara pemuda itu berkata disertai suara-suara desakan yang lain.

Upaya Bung Karno untuk meredakan niat para pemuda itu tak berhasil. Para pemuda itu tetap bersikeras untuk melakukan gerakan pemberontakan kepada Jepang dan membawa Bung Karno ke luar kota.

“Sekarang ini saatnya! Sekarang! Sekarang! Selagi Jepang patah semangat. Sekarang mereka dalam putus asa. Sekaranglah saatnya kita angkat senjata,” teriakan seperti ini, seperti saling bersahutan di antara para pemuda itu.

Simak juga:  Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (1): Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!

 

Bung Karno Mengalah

Bung Karno menyadari gelora dan semangat para pemuda itu untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap Jepang dan kemudian secepatnya menyatakan kemerdekaan sudah tak bisa dibendung lagi. Akhirnya Bung Karno mengalah dan mengikuti kehendak para pemuda itu yang ingin membawanya pergi ke luar kota, yakni ke tempat yang mereka pandang aman, Rengasdengklok.

Untuk mengelabui tentara Jepang, seprang pemuda menyodorkan seragam PETA kepada Bung Karno dan meminta untuk mengenakannya. Bung Karno yang sadar akan bahaya di perjalanan langsung mengenakan seragam PETA itu.

Bersama istrinya, Fatmawati, dan puteranya yang masih kecil, Guntur, Bung Karno ke luar rumah menuju ke mobil yang disediakan untuknya. Ada dua mobil yang menunggu. Di dalam salah satu mobil itu sudah terdapat Bung Hatta. Ternyata Bung Hatta diculik juga, ujar Bung Karno dalam hati.

Di tengah perjalanan, Bung Karno dan Bung Hatta dipindahkan dari mobil ke truk militer. Dengan truk itulah Bung Karno bersama istri dan anaknya, dan Bung Hatta, dibawa ke tempat tujuan, yakni sebuah rumah di Rengasdengklok. Rombongan tersebut sampai ke Rengasdengklok sekitar pukul 09.00 pagi tanggal 16 Agustus 1945.

Kawasan sekitar rumah yang ditempati di Rengasdengklok itu sudah dijaga ketat pasukan bersenjata. Ternyata kawasan yang sepi dan kecil itu oleh para pemuda dan sejumlah pasukan PETA sudah dinyatakan ‘berada dalam keadaan perang’.

Informasi bahwa tanggal 16 Agustus akan dimulai pemberontakan terhadap Jepang sudah menyebar di kalangan prajurit PETA dan pemuda di kawasan Rengasdengklok. Karena itulah penjagaan di Rengasdengklok tampak diperketat.

 

Tak Terwujud

Rencana para pemuda untuk mengadakan pemberontakan di Jakarta yang didukung PETA dan Heiho itu ternyata tak kunjung terwujud. Seharian Bung Karno maupun Bung Hatta menunggu laporan dari Jakarta, apakah pemberontakan yang direncanakan para pemuda itu sudah berlangsung atau belum.

Sampai menjelang malam belum ada tanda-tanda pemberontakan itu meletus. Bahkan sehabis berbuka puasa, seseorang yang mengendarai mobil tua datang ke tempat Bung Karno ‘diamankan’ tersebut. Orang yang datang itu ternyata Ahmad Subardjo, seorang anggota Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Ahmad Subardjo memang datang secara khusus menjemput Bung Karno, dan juga Bung Hatta untuk segera dibawa pulang ke Jakarta. Berita penculikan terhadap diri Bung Karno dan Bung Hatta ternyata sudah menyebar di Jakarta, khususnya di kalangan anggota Badan Persiapan Kemerdekaan. Sidang Badan tersebut yang khusus akan membahas susunan kata-kata naskah Proklamasi Kemerdekaan akhirnya gagal karena ketidakhadiran Bung Karno.

Keresahan memang sedang terjaid di kalangan para aktivis perjuangan. Penculikan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta itu menjadi bahan perbincangan yang justru bisa menggagalkan semua rencana kemerdekaan bila tidak segera diselesaikan. Para pemuda  yang menculik ikut resah. Apalagi rencana mereka untuk mengobarkan api pemberontakan terhadap Jepang tak terwujud.

Simak juga:  Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

Wikana, salah seorang pemuda yang ikut merencanakan penculikan itu akhirnya berterus-terang kepada Ahmad Subardjo. Ia lalu memberitahukan di mana Bung Karno dan Bung Hatta ‘diamankan’ oleh para pemuda.

Tanpa membuang waktu lagi, Bung Karno beserta keluarga dan Bung Hatta segera meninggalkan Rengasdengklok kembali ke Jakarta. Bung Karno langsung dibawa ke rumjah di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.

 

Proklamasi

Waktu berjalan cepat. Pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno masih sempat berusaha  membicarakan rencana proklamasi kemerdekaan itu kepada para petinggi militer Jepang. Tapi jawaban yang diperoleh ternyata tidak memuaskan, karena pihak Jepang menyatakan mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka harus patuh pada keputusan Sekutu yang meminta Jepang untuk tidak melakukan perubahan apa-apa di Indonesia.

Tetapi seorang petinggi Jepang lainnya, Laksamana Maeda, memberikan dorongan dan jaminan perlindungan bila proklamasi kemerdekaan itu segera dinyatakan.

Maka waktunya pun tiba. Berita akan dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat sekitar. Dalam waktu singkat sekitar 500 orang sudah berkumpul di halaman rumah Pegangsaan Timur 56 itu, menunggu detik-detik diucapkannya proklamasi kemerdekaan tersebut. Mereka datang dari berbagai tempat di Jakarta.

Bung Karno sempat gelisah, karena Bung Hatta yang ditunggu-tunggu untuk bersamanya membacakan  proklamasi itu tak kunjung datang. Padahal waktunya sudah sangat mendesak. Untunglah Ny. Fatmawati bisa meredakan kegelisahan Bung Karno itu. Kegelisahan itu reda setelah beberapa saat menjelang proklamasi Bung Hatta tiba.

Menjelang pukul 10.00 pagi, Bung Karno sudah berdiri di depan mikrofon didampingi Bung Hatta. Massa yang berasa di halaman rumah itu menunggu dengan penuh khikmat. Suasana pun menjadi hening ketika Bung Karno dengan suara yang mantap dan penuh wibawa membacakan naskah proklamasi kemerdekaan.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cvara seksama dalam dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945, atas nama bangsa Indonesia, Sukarno – Hatta,” demikian bunyi proklamasi kemerdekaan RI yang dibacakan Bung Karno itu.

Kegembiraan pun kemudian meledak. Setelah itu bendera Sang Saka Merah Putih yag sebelumnya dijahit oleh isteri Bung Karno, Fatmawati, dinaikkan ke tiang bendera darurat oleh Kapten Latif Hendraningrat. Bendera kebanggaan itu pun kemudian berkibar yang lantas diiringi nyanyian Indonesia Raya. Semua yang hadir di upacara itu menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat, meskipun tanpa iringan musik.

Tak sedikit di antara mereka yang hadir pada peristiwa bersejarah itu meneteskan air mata gembira dan haru. Betapa tidak. Kemerdekaan yang sudah lama diperjuangkan dan diidam-idamkan itu akhirnya terwujud juga.

“Mari kita pertahankan kemerdekaan ini,” seru Bung Karno. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Sumber: Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1966.

Lihat Juga

Pidato Presiden Sukarno pada HUT Ke-1 Kemerdekaan RI 17 Agustus 1946 di Yogyakarta (2): Pemerintah Bukan Pengurus Partai!

DI ATAS lapangan politik pun tak kurang soal! Benar, revolusi kita ini telah membangkitkan banyak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *