Beranda » Peristiwa » Pengakuan Bung Karno: “Adakah Kepala Negara yang Melarat Seperti Aku?”
Bung Karno dan Haji Agus Salim. (Ft: Koleksi Museum Tropen/Wikipedia)

Pengakuan Bung Karno: “Adakah Kepala Negara yang Melarat Seperti Aku?”

JABATAN tertinggi di negara republik adalah presiden. Presiden merupakan Kepala Negara. Sebagai Kepala Negara, presiden tak hanya jabatan tertinggi, tapi juga terhormat. Karena itu seorang presiden sering disebut sebagai tokoh “nomor satu” di negaranya.

Menyebut jabatan presiden, maka yang terbayang adalah kehidupan enak, menyenangkan, bergaji besar, semua biaya kehidupan ditanggung negara, tinggal di istana kepresidenan, dan beragam lainnya yang serba gemerlap. Hidupnya serba dilayani oleh petugas-petugas atau pekerja-pekerja yang diniayai negara. Tak ada yang salah dengan anggapan seperti itu, karena realitanya di sejumlah negara memang banyak presiden yang hidup serba mewah, dan gemerlap.

Tapi, bagaimana dengan Sukarno, presiden pertama negeri kita, Indonesia? Apakah Bung Karno dan keluarganya hidup serba mewah dan bergelimang harta?

Di dalam buku otobiografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” (BKPLR), yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno mengaku jika dirinya merupakan seorang presiden yang melarat. “Adakah seorang Kepala Negara lain yang melarat seperti aku, dan sering meminjam-minjam dari ajudannya?” katanya.

Melarat? Sepertinya tak masuk akal bila ada seorang presiden yang mengaku hidupnya melarat. Tapi, demikianlah yang dialami oleh Sukarno.

“Gajiku $200 sebulan dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Dari segi keuangan tidak banyak kemajuanku semenjak dari Bandung,” jelasnya.

Itu pengakuan Sukarno tentang gajinya. Untuk ukuran waktu itu, gaji sebesar itu memang terlalu kecil buat jabatan presiden. Tak hanya tentang gaji yang kecil, rumah pribadi pun ia tidak punya. Sejak jadi presiden ia tinggal di istana, dan tak pernah sempat berpikir untuk membuat rumah pribadi yang kelak ditempatinya bersama keluarga bila sudah tidak lagi menjadi presiden.

 

Tak Ingin Dilayani

Sukarno menyadari, sebagai seorang presiden, ia selalu dipandang banyak orang, terutama para pengamat Indonesia di luar negeri kala itu dengan penuh ‘teka-teki’. Tidak semua orang atau para pengamat itu bisa memandang Sukarno, baik mengenai kehidupan pribadi maupun politiknya dengan pengamatan yang sempurna.

Bahkan tak sedikit yang salah menduga. Salah dalam menilai dan menafsirkan. Misalnya, kebanyakan presiden suka atau selalu minta dilayani oleh para ajudan atau pembantu di sekelilingnya. Tapi tidak dengan Sukarno. Dia bukan model seorang presiden yang seperti itu. Model presiden yang senantiasa minta dilayani.

Seperti yang dikemukakannya di dalam buku BKPLR itu, “Orang senantiasa memandang sebagai teka-teki, baik mengenai pribadinya maupun politiknya. Tak seorang pun pernah melihat presiden seperti Sukarno. Biasanya seorang presiden duduk bersandar dan menunggu untuk dilayani. Sukarno tidak begitu. Aku baru merasa senang, kalau orang yang berada di sekelilingku merasa senang. Apabila kudengar ajudan bahwa ajudanku datang jam tiga malam, maka esok paginya dia sengaja kudatangi dan menanyakan – Bagaimana tidak mengantuk? Apakah cukup tidurmu? – Dan aku pun menanyakan juga apa yang dikerjakannya di malam itu, akan tetapi yang penting bagiku ialah menanyakan keadaannya, supaya dia menghadapi harinya itu dengan gembira.”

Ada kisah lainnya yang menarik, tentang Bung Karno yang suka melayani itu. Dalam suatu perjalanan ke luar negeri dengan pesawat udara, Sukarno merasakan dan juga melihat para penumpang lainnya kedinginan, karena pendingin udaranya sangat tinggi. Ia juga melihat para pramugara sedang tertidur.

Sukarno lalu berinnisiatif melakukan sesuatu. Ia tidak ingin mengganggu para pramugara yang sedang beristirahat itu. Apa yang dilakukannya? Ia mengambil selimut-selimut dari dalam raknya, kemudian berjalan dari satu kursi ke kursi lainnya, menyelimuti para penumpang yang sedang terlelap tidur.

Tak banyak penumpang yang menyadari kalau seorang presiden dari sebuah negara di Asia telah membantu mereka agar terhindar dari kedinginan dengan menyelimutkan selimut. Tapi ada seorang penumpang perempuan yang sempat terkejut, ketika melihat ada seorang presiden sedang menutupkan selimut ke tubuhnya.

“Ya Tuhan. Saya baru melihat De Gaulle menyelimuti wartawan-wartawan,” kata perempuan itu dalam keterkejutannya.

 

Menyanyi dan Menari

Sebagai seorang presiden, Sukarno memang pekerja keras. Ia selalu menggunakan waktunya dengan semaksimal mungkin, yang tentu bermanfaat bagi banyak pihak. Jam kerjanya terbuka sejak pagi. Dari jam tujuh sampai sembilan pagi ia sudah berhadapan dengan banyak orang, yang tidak secara resmi ikut minum kopi bersamanya.

Sukarno mengaku saat minum kopi bersama banyak orang itu merupakan waktu-waktu yang menyenangkan buatnya. Karena pada saat seperti itulah ia bisa bergurau, tertawa, mengendorkan otot-otot syarafnya yang banyak digunakan untuk memikirkan berragam persoalan bangsa dan negara. Suasana seperti itu baginya sungguh sangat menggembirakan dan menyenangkan.

Sukarno berterus terang, semangatnya untuk bergembira memang luar biasa. Demi kegembiraan itu, ia bisa menyanyi dan menari berjam-jam. Seperti dikemukakannya di dalam buku BKPLR, “Semangatku untuk bergembira tidak ada batasnya. Aku dapat menyanyi dan menari hingga jam tiga pagi, dan aku dapat menundukkan setiap orang. Akan tetapi karena sedikit sekali kesempatan untuk bergembira, aku mau tidak mau harus menyelipkannya dalam waktu kerja. Kalau tidak begitu, napasku akan sesak.” *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

Sumber: Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1966.

 

 

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *