Jumat , 28 April 2017
Beranda » Pertanian » Pemikiran Baru Diversifikasi Pangan : Mengembangkan Pangan, Hortikulutra, Bumbu-Bumbuan dan Obat-Obatan Masa Depan Berbasis Pohon

Pemikiran Baru Diversifikasi Pangan : Mengembangkan Pangan, Hortikulutra, Bumbu-Bumbuan dan Obat-Obatan Masa Depan Berbasis Pohon

Ketika terjadi kesulitan mencapai swasembada pangan (beras) yang berkesinambungan, maka banyak orang referensinya adalah program diversifikasi pangan yang sudah lama dicanangkan tetapi tidak jalan.

Akhirnya yang mengemuka adalah kritikan atas kebijakan pangan  yang mengubah pola  penduduk yang dulunya makan  non beras digantipola makan beras seperti yang dikemukakan oleh salah seorang pemakalah dalam diskusi dengan tema Kebangsaan dan Kedaulatan Pangan tanggal 24 Januari 2017 di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta. Tulisan ini berusaha menyoroti pemahamanprogram diversifikasi pangan“lama”dan  mengngangkatkonsep baru serta mengajak untuk memikirkan diversifikasi pangan untuk 30 tahun kedepan dengan pangan berbasis pohon.

Inspirasinya berasal dari obrolan di rumah Dr. Suharno di Malang akhir November 2016 tentang tanaman kurma atas info dari kakak saya di Malang yang mengatakan bahwa di Pasuruan ada obyek wisata baru yaitu petik kurma di pohon. Setelah diskusi dengan Ir. Agus Syaifulah M. Sc tanggal 31 Januari 2017 dalam rangka konfirmasi penyusunan risalah diskusi tanggal 24 Januari 2017 di Yogya, maka konsep seperti judul di atas semakin mengerucut.

Selain itu juga sudah lama terpikir dari kasus pengembangan perkebunan kelapa sawit, dimana pemerintah sendiri tidak terlalu banyak campur tangan,tetapi berkembangnya perkebuanan kelapa sawit benar-benar spektakuler karena didorong oleh permintaan pasar. Apa yang terjadi, sekarang luas perkebunan kelapa sawit Indonesia sudah melebihi Malaysia. Produk kepala sawit juga sudah membanjiri dunia,  negara pesaing produk kelapa sawit terkejut, mereka berusaha menghalangi masuknya produk kelapa sawit ke negaranya.

Apabila kita pahami konsep diversifikasi pangan “lama”adalah sebuah program yang mendorong masyarakat untuk memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsinya sehingga tidak terfokus pada satu jenis. Di Indonesia, diversifikasi pangan dimaksudkan untuk memvariasikan konsumsi masyarakat Indonesia agar tidak terfokus pada nasi.Jadi kritikan pada acara diskusi di Tembi tesebut memang wajar, karena kosepnya memang seperti itu.Di jaman pemerintahan Presiden Soeharto menggunakan gandum/terigu untuk “mengganjal” konsumsi beras.  Sebelum program swasembada beras tercapai pada tahaun 1984, Dharma Wanita Bulog mempunyai program yang mengkampanyekan penganeka ragaman konsumsi non beras, kemudian Kantor Menteri Negara Ururan Pangan mencanangkan program Aku Cinta Makanan Indonesia yang sekarang geliatnya tiap daerah menonjolkan makanankhas daerah untuk promosi kuliner daerah.

Akhirnyan program diversifikasi pangan digunakan menjadi salah satu cara untuk menuju swasembada beras dengan “meminimalisasi konsumsi beras”. Definisi diversifikasi pangan tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 17/2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Namun konsepnya tidak beranjak dari pemikiran awal tahun 1980-an bahwa Indonesia memiliki beragam hasil pertanian yang bisa difungsikan sebagai makanan pokok seperti sukun, ubi, talas, dan sebagainya yang dapat menjadi faktor pendukung utama diversifikasi pangan. Belum ada pembaharuan pemikiranapalagi untuk penyediaan pangan masa depan.Pemikiran baru ini masih dalam kerangka penganekaragaman sumber pangan yang sebelumnya lebih banyak dari tanaman semusim (seralia dan umbi-umbian), tetapi sekarang diarahkan bersumber dari “pohon”.

Diversifikasi Pangan  Masa Depan

 

Konsep diversifikasi pangan yang benar adalah upaya “merubah atau mengarahkan” pola konsumsi penduduk dari makanan yang nilai gizinya rendah ke nilai gizi yang lebih baik.Dengan demikian apabila kita menghendaki pola makan penduduk yang sebelumnya mengkonsumsi gaplek, jagung atau sagu agar tetap pada pola tersebut apabila ditinjau dari segi gizi merupakan suatu yang tidak bijaksana.

 

Diversikasi pangan yang dianjurkan adalah dari karbohidrat ke protein  atau ke makanan yang mengandung protein, ditambah vitamin dan mineral. Bangsa Jepang  mempunyai pola konsumsi yang paling baik, seimbang seperti segitiga samasisi antara karbohidrat, protein dan lemak. Bangsa barat segitiganya umumnya menjorok ke lemak, sedang bangsa Indonesia menjorok ke karbohidrat atau terlalu banyak makan nasi.

Dengan demikian dibersifikasi pangan harus memenuhi syaratyaitu “berGizi”, namun juga harus “aman diKonsumsi” (disingkat GAK). Selain itu juga barangnya harus “mudah” didapat dan menyimpannya, “murah” baik dari segi harga barangnya maupun biaya  memasaknya, kemudian “enak” atau sesuai selera yang mengkonsumsinya dan “tersedia” setiap saat atau (disingkat MUMET) atau lengkapnya harus memenuhi syarat GAK MUMET. Dengan demikian “beras” merupakan komoditas yang memenuhi syarat  “gak mumet” (tidak pusing) bagi konsumen karena dari segi gizi aman dan tersedia dimana saja, mudah memasaknya, cukup dimasukkan di “rice cooker” ditambah air secukupnya dalam waktu 15 menit sudah siap menjadi nasi yang siap dimakan.

Dengan berkembangnya produk mie instant sajak tahun 1980-an, kemudian lebih berkembang lagi karena didukung teknologi pengepakan setelah tahun 2000, maka impor gandum terus berkembang pesat.Produk mie instant terus berkembang dengan berkembngnya jaringan supermarket dan minimarket yang menjamur diseluruh pelosok tanah air.Apa resepnya, yaitu tadi konsumen “nggak dibikin mumet”. Oleh karena itu untuk diversifikasi pangan masa depan tidak akan terlepas dari persyaratan tersebut.

Masalahnya besar yang kita hadapi dalam hal penyediaan beras (karbohidrat) saja sampai kini tetap belum teratasi secara mantab, hal ini pun juga masih ditunjang impor gandum yang sudah mendekati 8 juta ton.Kita juga masih bermasalah dalam penyediaan sumber protein. Sebagaimana diketahui bahan baku kedelai sebagian besar masih mendatangkan dari luar, demikian juga sapi dan daging masih dengan susah payah untuk mencukupinya. Untuk sumber protein dari telor dan ayam memang sudah hampir terpenuhi, tapi ketergantungan pada bahan baku makanan ternak dari luar masih tinggi.

Pemikiran baru “diversikasi pangan untuk masa depan” harus bisa menjawab kebutuhan untuk 30 tahun kedepan, ketika penduduk kita  mungkin sudah  lebih dari 400 juta. Untuk itu kita harus merubah cara berpikir kita yaitu menganekaragamkan sumber karbohidrat dari biji-bijian ke pohon seperti misalnya kurma  dan sukun. Thailand sudah selangkah lebih maju yaitu membuat perkebunan kurma.Kurma itu satu famili dengan tanaman aren yang sudah kita kenal.

Kurma sendiri sudah menjadi makanan pokok sejak Nabi Musa dan Fir’aun berkuasa.Tanaman kurma ini bisa meyimapan air sampai 2 tahun, dan pohon kurma tetap berproduksi sampai umur 100 tahun.Hebatnya lagi produk tananamn kurma dapat disimpan selama 2 tahun tanpa pengawet.Dengan demikian kurma memiliki persyaratan yang paling baik dari aspek ketahanan pangan karena selain kandungan gizi/karbohidrat yang tinggi juga mudah disimpan, tidak perlu dimasak, tahan lama tanpa harus ada perawatan khusus.Kurma dikenal memiliki khasiat obat-obatan seperti atasi demam berdarah, anti tifus, perbaiki fungsi hati, control gula darah, atasi hiperkolesterol, kerusakan otak dan antidiare serta antiartitris.

Thailand mengembangkan bibit kurma dari biji, dari cangkok seperti petani salak dari Sleman dan atau mengimpor bibit yang berasal dari kultur jaringan dari  Date Palm Development Ingris dengan harga 1.400 Baht (Rp 560.000). Thailand sudah mendaptakan bibit genjah KL-1 yang mulai berbuah pada umur 3 tahun. Pada umur  4 tahun sudah dapat mengahasilkan 100 kg per pohon dan mencapai 250 kg pada umur 7 tahun. Ternyata di Thailand kurma dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 700 m dari permukaan laut.Menurut infomasi setiap pohon dapat menghasilkan pendapatan sekitar dari Rp 20 juta per tahun.

Malaysia juga sudah merencanakan sebagian peremajaan kebun kelapa sawitnya dengan pohon kurma.Selain itu di Malaysia sejak lama juga sudah membudidayakan tanaman sagu sebagai perkebunan, bukan sebagai tanaman hutan lagi. Oleh karena itu sebaiknya sarjana kita ditantang untuk melakukan penelitian untuk sumber pangan kita  untuk 20-30 tahun kedepan. Apakah tidak mungkin membuat pembibitan kurma dengan kultur jaringan disini. Inggris dan Perancis sudah memulainya sejak 1980-an. Apakah kita tidak bisa mencari bibit unggul aren, sagu, nipah, lontar dan lain sebagainya.

Kita sendiri juga lupa bahwa Indonesia telah menemukan varitas sukun yang yang berbuah besar dan manis yang dulu dikembangkan di Cilacap. Kelebihan tanaman sukun ini akan berbuah lebat pada musim kemarau yang kering. Tanaman sukun ini bisa ditanam dipekarangan malahan dulu banyak tumbuh di bantaran sungai di Yogyakarta.Mungkin pada tahap awal pemerintah membagikan bibit tanaman sukun untuk keluarga miskin yang mau menanam di pekarangannya.Apabila tananam tersebut berbuah pasti ada yang memanfaatkannya.Tanaman sukun juga dapat menjadi cadangan pangan masyarakat.

Selain itu kita juga lalai bahwa kita mempunyai sumber protein yaitu biji tanaman lamtoro yang kandungan proteinnya hampir mendekati kedelai.Pohon lamtoro dapat tumbuh dimana saja namun sayang buahnya belum kita teliti pemanfaatnya. LIPI pernah meneliti secara mendalam soal tanaman lamtoro, tinggal kita meneruskan bagaimana dapat menjadi sumber  atau bahan baku makanan ternak untuk mengurangi ketergantungan kita pada bahan baku impor.

Sebenarnaya banyak sumber karbohidrat, protein lemak dan sayuran yang “berbasis pohon”. Kesemuanya tantangan bagi para ilmuwan kita untuk merancang masa depan pangan kita bagi 500 juta penduduk dihadapkan areal sawah yang semakin menciut. Dengan demikian harus ada perubahan paradigma diversifikasi pangan dari tanaman semusim yang umumnya berupa biji-bijian dan umbi-umbian menjadi berbasis pohon yang bisa dipanen terus menerus sampai ada peremajaan.Program diversifiksai pangan berbasis pohon tidak berarti mengganti makanan pokok kita beras, tetapi kita menyediakan altrenatifnya sehingga tekanan terhadap permintaan beras dapat dikurangi.

Kita sudah membuktikan tanaman yang berbasis pohon seperti kelapa sawit ternyata produknya dapat bersaing di dunia malahan pemasarannya direcoki oleh negara teretentu dengan berbagai alasan.Kita punya pohon kelapa dan aren yang menghasilkan gula.Untuk pohon buah kita punya pohon mangga, salak, manggis durian dan sebagainya. Kita punya pohon sebagai sumber sayur seperti nangka (gori), kluwih, kelor, katuk, mlinjo, pete, jengkol, kemang, poh-pohan dan lain sebaginya tetapi kita sendiri tidak meliriknya.

Pendekatan pengembangan pangan berbasis pohon apabila untuk mencukupi kebutuhan sendiri dapat berbasis rumah tangga  atau usaha tani/pertanian rakyat.  Semakin dekat dengan rumah tangga semakin efisien karena tidak ada unsur transportasi, kata Agus Syaifullah. Namun apabila akan perdagangan antar daerah dan atau nasional, apalagi untuk menguasai perdagangan dunia, pendekatanya harus korporasi (agribisnis), uniknya kalau di Brazil penedekatannya melalui koperasi. Semoga pemikiran ini menginsipirasi kita semua untuk turut serta memikirkan pangan kita ke depan.

Penutup

Adalah suatu keniscayaan, suatu negara dengan penduduk banyak seperti Indonesia akan menjadi maju, tetapi tidak didukung ketahanan pangan yang kuat. Negara akan memiliki ketahanan pangan kuat apabila didukung pertanian yang tangguh. Pertanian yang tangguh itu kalau sudah teruji menghadapi rintangan, gangguan dan hambatan baik dari luar maupun dari dalam. Untuk itu kita sudah harus memikirkan bagaimana mencukupi pangan bagi penduduk kita 20-30 tahun kedepan dengan merubah paradigma diversifikasi pangan pangan “berbasis pohon”, baik itu untuk karbihodrat, protein, lemak (sudah berhasil dengan pengembangan kelapa sawit) dan sumber vitamin dan mineral. Apabila untuk sumber karbohidarat kita masih berkutat pada basis serealia akan menemui jalan melingkar tak berujung kita tidak tahu kapan selesianya.

Jakarta, 6  Februari 2017.

Sapuan Gafar

Sekretaris Menteri Negara Urusan Pangan 1993-1997,  Sekretaris Menteri Negara Pangan,  Hortikultura dan Obat-Obatan 1997-1998, Sekretaris Menteri Negara Pangan dan Hortikultura 1998-1999.

Lampiran diversifiksi pangan masa depan

Lihat Juga

Akibat Lalai Mengurus Pangan

Lalai disini bisa tidak sengaja, ataupun disengaja. Faktor utama kelalaian adalah keterbatasan anggaran atau cadangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *