Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Pariwisata » Pasar Beringharjo, Riwayatnya Dulu

Pasar Beringharjo, Riwayatnya Dulu

Setiap kali berbicara tentang Jalan Malioboro yang melegenda di Yogyakarta itu, tentu tidak akan bisa melupakan keberadaan Pasar Beringharjo, yang terletak di sisi timur jalan, dan sebelah utara Benteng Vredeburg (Loji Besar). Bahkan, sejarah perjalanan panjang Malioboro memang tidak bisa lepas dengan keberadaan Pasar Beringharjo.

Kehidupan bisnis yang terus berkembang dari masa ke masa di Malioboro, sangatlah berkaitan erat dengan keberadaan Pasar Beringharjo. Dapat diperkirakan, gaung bisnis Malioboro tak akan pernah terdengar tanpa Pasar Beringharjo tersebut.

Sebelum bernama Pasar Beringharjo, pasar ini lebih dulu populer atau dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan nama Pasar Gedhe. Nama Pasar Gedhe diberikan karena pasar itu satu-satunya terbesar di seputar Kota Yogyakarta masa itu, serta satu-satunya pula yang terdapat di kawasan jalan utama yang membentang dari depan Keraton sampai ke Tugu Pal Keraton.

Sejak kapan Pasar Gedhe atau Pasar Beringharjo itu dibangun? Tidak ada data resmi tentang awal mula kemunculan pasar di lokasi Pasar Beringharjo sekarang ini. Namun diyakini, ketika kawasan Hutan Beringan sudah berubah menjadi kawasan hunian dan pusat pemerintahan Kerajaan Ngayogyakarta-Adiningrat, di lokasi itu disiapkan lahan kosong yang dimaksudkan untuk dijadikan lapangan luas, tempat masyarakat beraktivitas.

Ketika aktivitas bisnis mulai tumbuh di Malioboro, lapangan itu pun berkembang menjadi ajang bisnis masyarakat. Di lapangan itu masyarakat melakukan transaksi jual-beli berbagai barang atau bahan kebutuhan hidup mereka. Warga yang berjualan lalu membangun tempat-tempat berjualan yang sederhana, terhindar dari panas dan hujan. Bangunan warung-warung atau gubug-gubug kecil tempat memajang barang dagangan lambat laun memadati area lapangan tersebut. Lapangan itu pun telah berubah menjadi pasar tradisional atau pasar rakyat yang ramai.

Simak juga:  Puisi Malioboro

Semua kebutuhan masyarakat, baik yang berada di pusat kerajaan atau dikenal dengan sebutan daerah Kutonegoro dan daerah Negoro Agung, maupun di daerah-daerah pinggiran atau daerah-daerah seputar pusat pemerintahan yang disebut daerah Monconegoro serta pesisiran tersedia di pasar tradisional itu. Tidak hanya para penghuni Keraton, para penghuni Loji Kebon (pusat pemerintahan Belanda), Loji Besar (Benteng Vredeburg), dan Loji Kecil (asrama serdadu Belanda) juga mencari keperluan pangan sehari-hari mereka di pasar tersebut.

 

Pasar Tiban

Pasar Beringharjo yang kini merupakan satu-satunya pasar terbesar dan teramai di Yogyakarta punya sejarah perjalanan yang panjang. Bermula dari pasar tiban, kemudian berubah menjadi pasar rakyat atau pasar tradisional dengan bangunan-bangunan berbentuk warung-warung atau gubug-gubug kecil serta los-los darurat, kemudian berkembang menjadi pasar dengan bentuk bangunannya yang indah dan megah. Sejak kapan pasar tradisional atau pasar rakyat yang berlokasi di lapangan dekat Benteng Vredeburg itu berubah menjadi pasar cukup representatif, bangunannya indah dan megah tersebut?

Mengingat betapa besarnya manfaat dari keberadaan pasar tradisional itu bagi pemenuhan keperluan masyarakat, Keraton Yogyakarta, dan terutama bagi penguasa Belanda terutama untuk para pegawai serta para serdadunya, Residen Belanda di Yogyakarta kemudian merencanakan merubah pasar tradisional itu menjadi pasar yang representatif. Penguasa Belanda memandang lokasi pasar itu memang sangat strategis, terletak di pinggiran jalan utama, tidak jauh dari pusat pemerintahan dan pusat serdadu, sehingga sangat layak untuk dirubah menjadi pasar yang besar dan modern, setidaknya buat ukuran masa itu.

Rencana merubah pasar rakyat itu memerlukan waktu beberapa tahun, apalagi dana yang diperlukan untuk membangunnya cukup besar. Setelah rencananya matang, proyek pembangunan atau perubahan pasar rakyat itu menjadi pasar modern diserahkan kepada Nederlandcsh Indishe Beton Maatschappij untuk mengerjakannya. Pembangunannya dimulai pada tahun 1920. Diawali dengan merobohkan atau membongkar bangunan-bangunan los darurat, warung-warung sederhana dan gubug-gubug kecil yang semula memenuhi lapangan. Untuk sementara aktivitas pasar rakyat itu berpindah ke kawasan di seputar lapangan tersebut.*** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.