Kamis , 20 Juni 2024
Ilustrasi. (Ist)

Puteri Melur dan Ikan Buntal (Cernak: 3)

Sudah sebulan ikan buntal berada di kamar Puteri Melur. Tapi anehnya, berbeda ketika bersama Cik Long dan Mak Long, bersama Puteri Melur ia tak pernah berbicara. Jadi Puteri Melur belum mengetahui jika ikan buntal itu bisa berbicara.

Genap empatpuluh hari ikan buntal di kamar Puteri Melur, Datuk Batin mengadakan sayembara yang diperuntukkan bagi para pangeran muda, anak-anak Raja, maupun anak-anak Batin dari berbagai negeri.
Barangsiapa yang paling banyak mendapatkan ikan terubuk, akan dijadikan menantu, dengan diberi kebebasan memilih salah satu dari kelima anak gadisnya untuk dijadikan istri.

Ketika itu memang sudah berbulan-bulan ikan terubuk hilang dari Selat Bengkalis. Padahal Datuk Batin tidak akan mau makan, bila tidak berlaukkan ikan terubuk.

Semua pengawal sudah dan anak negeri sudah diperintah Datuk Batin untuk mencari ikan terubuk. Tidak saja di Selat Bengkalis, bahkan juga perairan-perairan di sekitar Bengkalis. Tapi hasilnya tetap nihil. Akibatnya, karena tak mau makan, badan Datuk Batin menjadi kurus.

Sayembara pun tersebar ke berbagai negeri. Berpuluh-puluh pangeran muda, anak Raja dan anak Batin, yang sudah mendengar perihal kecantikan anak-anak gadis Datuk Batin datang mengikuti sayembara mencari ikan terubuk itu.

Tak hanya Selat Bengkalis, kawasan laut di sekitar Bengkalis menjadi semarak. Karena para pangeran muda, anak-anak Raja dan anak-anak Batin dari negeri-negeri lain itu mengerahkan puluhan bahkan ratusan pengikutnya untuk mencari ikan terubuk. Akan tetapi tetap sia-sia. Tidak seorang pun di antara peserta sayembara itu yang berhasil mendapatkan ikan terubuk. Jangankan yang besar, seekor ikan terubuk yang kecil pun tak ada yang dapat menangkapnya.

Batas waktu sayembara itu berlangsung sebulan. Di hari yang keduapuluh sembilan, seluruh peserta sayembara sudah menyerah, karena mereka tidak berhasil mendapatkan ikan terubuk. Mereka semua kecewa. Demikian pulalah halnya Datuk Batin, ia pun merasakan kecewa yang teramat sangat.
Namun, pagi-pagi di hari terakhir sayembara, di tengah-tengah rasa kecewanya, Datuk Batin dikejutkan oleh datangnya seorang pangeran muda tampan yang mengenakan pakaian gemerlap.

Simak juga:  Ada Apa di Balik Upacara Ritual Jawa?

“Maafkan saya Datuk Batin. Tanpa memberitahu lebih dulu, saya telah mengikuti sayembara ini. Dan ini hasilnya, satu keranjang penuh ikan terubuk,” kata pangeran muda yang tampan itu sambil menunjuk ke keranjang besar yang dipadati ikan terubuk.
Tak kepalang gembiranya hati Datuk Batin menyaksikan sekeranjang penuh ikan terubuk di depannya. Datuk Batin pun lalu memanggil istri dan anak-anak gadisnya untuk ikut menyaksikan.

“Wahai anak muda, siapa gerangan dirimu, dan dari negeri mana datangmu?” tanya Datuk Batin dengan mata berbinar-binar.

“Maafkan saya Datuk Batin,” ujar pangeran muda itu sambil melirik ke arah Puteri Melur.

“Saya sebenarnya ikan buntal yang semula ada di kamar Puteri Melur. Saya adalah anak raja dari Tanah Semenanjung. Karena satu kesalahan, saya dihukum oleh Ayahanda Raja menjadi seekor ikan buntal. Hukuman itu akan berakhir bila saya berada di kamar seorang gadis selama tujuhpuluh hari. Dan bila hukuman berakhir, saya akan kembali ke wujud semula sebagai manusia, kemudian akan diterima lagi sebagai putera mahkota. Hukuman itu telah berakhir tadi pagi,” jelasnya.

Datuk Batin, istri dan anak-anak gadisnya terkesima mendengar penjelasan itu.

“Maafkan kami Pangeran Muda. Kami tidak mengira bila ikan buntal yang dipelihara si bungsu Melur adalah seorang putera raja dari Tanah Semenanjung. Siapakah gerangan namamu Pangeran Muda? Dan bagaimana Pangeran Muda bisa mendapatkan ikan terubuk sebanyak ini?” ujar Datuk Batin.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

“Nama saya, Megat Lela Perkasa. Selama menjadi ikan buntal, ikan-ikan terubuk itu adalah sahabat saya. Jadi ketika saya meminta pertolongan mereka, mereka pun beramai-ramai datang menyediakan dirinya untuk dibawa ke hadapan Datuk Batin,” urai pangeran tampan itu.

“Sesuai sayembara, sekarang kau berhak memilih siapa di antara kelima anak gadisku untuk menjadi istrimu,” kata Datuk Batin kemudian.

Megat Lela Perkasa diam sesaat. Dia memandang dalam-dalam ke arah Puteri Melur. Dan Puteri Melur tertunduk malu karenanya.

“Bila diizinkan saya memilih Puteri Melur untuk menjadi istri saya,” ucap Megat Lela Perkasa setengah tergagap.
Betapa riang dan bahagianya hati Puteri Melur. Dia pun sudah terpikat pada ketampanan Megat Lela Perkasa. Akan halnya keempat puteri Datuk Batin lainnya menyesal dan kecewa. Menyesal, karena mereka dulu mencemoohkan ikan buntalq yang tak lain adalah putera mahkota dari Tanah Semenanjung.

Perkawinan Puteri Melur dengan Megat Lela Perkasa berlangsung meriah. Setelah pesta perkawinan, Puteri Melur dibawa suaminya ke Tanah Semenanjung. Di Tanah Semenanjung kedatangan Megat Lela Perkasa disambut meriah.
Tak berapa lama kemudian, Megat Lela Perkasa diangkat sebagai raja menggantikan ayahandanya. Karena suaminya menjadi raja, maka Puteri Melur pun menjadi permaisuri. Sedang Cik Long dan Mak Long juga dipanggil Megat untuk datang ke Tanah Semenanjung. Dan, Cik Long diangkat sebagai salah seorang penasehat raja. * (SUTIRMAN EKA ARDHANA/SELESAI)

* Cernak ini sebelumnya pernah di majalah Dongeng Kak Seto edisi 4.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *