Kamis , 20 Juni 2024
Ilustrasi. (Ist)

Puteri Melur dan Ikan Buntal (Cernak: 2)

Malam itu karena lelahnya Cik Long tidur terlelap. Demikian pula halnya Mak Long, dia pun tertidur pulas. Ketika bangun di pagi hari, Mak Long terkejut bukan kepalang. Di dapurnya tergeletak sekarung beras. Di dekat beras terdapat pula sayur-sayuran dan lauk-pauk yang siap dimasak. Bukan itu saja. Dapurnya pun sudah dipenuhi peralatan dapur yang serba baru dan bagus.
Mak Long bergegas membangunkan suaminya. Cik Long pun terkejut menyaksikan semua itu.

“Bagaimana semua ini bisa terjadi? Siapa yang telah mengirimkan beras, lauk-pauk dan peralatan yang bagus ini? Jangan-jangan kita bermimpi,” kata Cik Long keheranan.

“Jangan terkejut Pak Long dan Mak Long. Apa yang tersedia itu pergunakanlah. Jadi hari ini Pak Long tak perlu bersusah payah memancing ikan lagi,” tiba-tiba ikan buntal menjawabnya.

Sadarlah Cok Long dan Mak Long, bahwa semua itu terjadi berkat adanya ikan buntal ajaib.
Sejak hari itu, meski tak kaya sekali, kehidupan Cok Long dan istrinya sudah berubah. Mereka tak lagi bersusah payah memenuhi kehidupan sehari-hari. Mereka semakin sayang kepada ikan buntal yang membawa berkah itu.

Atas anjuran ikan buntal, Cik Long dan Mak Long berkebun di sekitar rumahnya. Tanaman-tanamannya subur. Hasilnya melimpah. Berkat hasil kebunnya itu, kehidupan keluarga Cik Long terus semakin membaik.
Tibalah suatu hari, Cik Long dan istrinya dikejutkan dengan permintaan ikan buntal.

“Pak Long dan Mak Long, bolehkah saya mengajukan satu permintaan?” tanya ikan buntal.

Simak juga:  FEATURE, dari Fakta, Kepekaan hingga Imajinasi

“Apa yang kau minta? Katakanlah,” kata Cik Long.

“Tolong bawalah saya ke hadapan anak gadis Datuk Batin yang lima orang itu. Saya ingin melihat kecantikan wajah mereka.”

Cik Long dan Mak Long saling berpandangan heran. Bagaimana mungkin mereka akan datang ke rumah Datuk Batin, pemimpin negeri dan pemuka masyarakat yang sangat disegani itu, membawa seekor ikan yang akan bertemu dengan anak-anak gadisnya.

Tapi setelah mengingat jasa-jasa yang diberikan ikan buntal kepada kehidupan keluarganya, Cik Long pun mengabulkan permohonan itu.

Lalu, Cik Long dan Mak Long dengan mengenakan pakaian yang bagus datang membawa ikan buntal ke rumah Datuk Batin. Pengawal Datuk Batin semula menghalangi maksud mereka dengan mengatakan Datuk Batin tidak menyukai ikan yang dibawa itu. Untunglah ribut-ribut itu didengar Datuk Batin. Ia lalu memerintahkan
pengawalnya untuk membiarkan Cik Long dan Mak Long menemuinya.

“Hai Pak Long, apa maksud engkau dan istrimu datang menemuiku dengan membawa baskom itu?” tanya Datuk Batin yang ketika itu didampingi istri dan kelima anak gadisnya.

“Maafkan atas kelancangan saya, Datuk Batin. Saya dan istri datang kemari membawa seekor ikan buntal,” ujar Cik Long apa adanya.

“Untuk apa ikan buntal itu? Apakah kau berikan untuk santapanku?” potong Datuk Batin cepat.

“Oh, bukan. Sama sekali bukan, Datuk Batin. Saya membawa ikan ini, karena ia menyatakan ingin bertemu anak-anak gadia Datuk Batin. Sekali lagi, maafkan saya. Itulah tujuan saya membawa ikan buntal ini,” jelas Cik Long seraya meletakkan baskom berisi ikan buntal itu di depan Datuk Batin.

Simak juga:  Dua Makam Syekh Baribin dan Desa Grenggeng

Tentu saja Datuk Batin, istrinya dan keempat anak gadisnya tertawa mendengarkan penjelasan Cik Long. Mereka tentu mengira Cik Long hanya mengada-ada.

Berbeda dengan si bungsu yang bernama Puteri Melur. Meski heran, dia gembira mendengar ada ikan ingin bertemu dengannya. Puteri Melur segera mendekat ke baskom dan memandang ke arah ikan buntal penuh kekaguman.

“Bukannua seorang pangeran muda yang datang ingin bertemu. Tapi seekor ikan buntal yang bulat dan anyir yang datang… ha…ha..ha..,” cemooh keempat saudaranya kepada Puteri Melur.

“Ayahanda, ananda sangat suka melihat ikan ini. Biarlah dia ananda bawa ke dalam kamar. Ananda ingin memeliharanya,” kata Puteri Melur yang disambut tawa cemooh saudara-saudaranya yang lain.

Datuk Batin mengizinkan keinginan anak gadisnya yang bungsu, yang memang selain terkenal cantik juga baik budinya itu untuk memelihara dan membawa ikan buntal ke kamarnya.

Sejak itu ikan buntal tak lagi bersama Cik Long dan Mak Long, ia tinggal bersama Puteri Melur. Meskipun begitu kehidupan Cik Long dan istrinya terus membaik. Bahkan semakin berkecukupan, berkat hasil pertaniannya yang melimpah. (SUTIRMAN EKA ARDHANA/BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *