Kamis , 20 Juni 2024
Ilustrasi. (Ist)

Awang Garang dan Bajak Laut (Cernak: 1)

Sultan Kerajaan Riau Lingga risau. Sudah beberapa bulan lamanya kawanan bajak laut merajalela. Kabarnya, kawanan bajak laut itu datang dari kawasan seberang yang jauh. Mereka tisak saja merompak perahu-perahu dagang yang melewati perairan Riau Lingga dan Selat Melaka, tetapi juga merampas harta benda penduduk di pulau-pulau.

Sudah beberapa panglima perang diperintahkan mengusir kawanan bajak laut itu, namun tak satu pun yang berhasil. Kawanan bajak laut itu cukup kuat untuk dikalahkan. Jumlah mereka cukup banyak. Perahu-perahu mereka layaknya perahu perang milik kerajaan.

Kebanyakan para bajak laut bertumbuh kekar. Selain itu mereka berani-berani menghadang maut dan sangat terlatih dalam peperangan di laut.

Jumlah korban di pihak prajurit kerajaan sudah cukup banyak. Demikian pula korban di kalangan penduduk yang mencoba melawan dan mempertahankan harta bendanya, tidak sedikit jumlahnya. Bahkan sedikitnya sudah dua panglima kerajaan tewas dan tiga lainnya terluka.

Sultan berpikir, sepak terjang bajak laut itu sangat membahayakan. Tidak saja membahayakan rakyatnya, tetapi juga kedudukannya sebagai sultan. Bisa jadi kawanan bajak laut itu menyerang ke pusat kerajaan dan merebut kekuasaannya.

Simak juga:  PASAR KEMBANG: Wajah Yogya yang Buram (2)

Lalu Sultan memanggil para penasihat kerajaan, panglima perang dan kepala-kepala negeri atau batin membahas persoalan yang dipandang gawat itu. Pertemuan itu memutuskan, kerajaan akan mengundang kesediaan anak negeri atau warga kerajaaan untuk mendarmabaktikan pengabdiannya mengusir bajak laut.

Pengumuman atau undangan dari kerajaan itu disebarkan di seluruh wilayah kerajaan. Sampai menjelang sehari batas air undangan tersebut, belum seorang pun yang menyatakan kesediaannya. Sebagian besar rakyat takut, mengingat kekejaman bajak laut.

“Sedangkan para panglima dan prajurit yang terlatih saja tak mampu mengalahkan, apalagi kita,” ujar seorang penduduk.

Sultan benar-benar gundah. Kekhawatirannya semakin memuncak. Tetapi di hari terakhir dari batas waktu undangan itu, seorang batin datang ke istana dengan membawa seorang lelaki muda, bahkan sangat muda, yang berwajah tampan.

“Maaf Baginda Sultan, hamba datang membawa pemuda ini. Namanya Awang Garang. Pemuda belia yang terkenal cerdik dan berani di Pulau Galang. Dia menyatakan keinginannya untuk berdarmabakti mengusir bajak-bajak laut itu,” jelas Batin kepada Sultan.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (6)

“Apakah kau benar-benar berani menghadapi bajak-bajak laut itu?” tanya Sultan kepada pemuda belia bernama Awang Garang itu.

“Saya bersedia mati demi keamanan dan kejayaan negeri ini,” kata Awang Garang penuh hormat.

“Baiklah, kalau begitu. Lantas apakah ada permintaan yang akan kau ajukan untuk itu?”

“Saya minta disediakan duapuluh prajurit, Baginda.”

“Cukupkah? Jumlah bajak laut itu sangat banyak.”

“Cukup Baginda.”

“Dan apakah kau tidak memerlukan senjata?” tanya Sultan lagi.

“Tidak Baginda. Saya sudah punya keris kecil ini, pusaka dari Ayah saya,” ujar Awang Garang sambil mengeluarkan sebilah keris yang panjangnya hanya sejengkal tangan.

Permintaan Awang Garang dikabulkan Sultan. Duapuluh prajurit yang semuanya masih muda-muda dan gagah disiapkan untuk menyertainya. Awang lalu minta dirinya bersama keduapuluh prajurit diantarkan ke sebuah pulau kecil yang perairannya selalu dilewati kawanan bajak laut. Selain itu ia minta disediakan sebuah perahu kecil.

“Kenapa tidak perahu perang saja?” tanya Sultan.

“Tidak, Baginda. Saya hanya memerlukan satu perahu kecil saja,” jawab Awang Garang. (SUTIRMAN EKA ARDHANA/BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *