Kamis , 20 Juni 2024
Ilustrasi. (Ist)

Awang Garang dan Bajak Laut (Cernak: 2)

Singkat cerita, Awang Garang dan keduapuluh prajurit sudah berada di sebuah pulau kecil.
“Orang Muda Awang, bagaimana caranya kita menghadapi bajak laut yang kuat dan banyak itu?” tanya salah seorang prajurit sehabis mereka membangun tempat berteduh di pinggiran hutan.

“Tenanglah. Aku punya caranya,” kata Awang Garang sambil tersenyum.
Tidak seorang pun di antara prajurit- prajurit itu yang tahu bahwa Awang Garang sebenarnya sudah menyusun rencana dan siasat jitu untuk mengalahkan bajak laut.

Sejak menghadap Sultan, Awang sudah menyiapkan siasat itu. Oleh almarhum ayahnya dulu, Awang Garang sempat diberitahu tentang tumbuhan yang daunnya bisa membuat orang lemas dan pingsan tak berdaya. Bila daun itu diperas, maka akan keluar cairan berwarna hitam. Cairan berwarna hitam itulah yang bisa membuat orang pingsan.

Awang sudah menyiapkan cairan berbisa itu di dalam bambu-bambu kecil yang ditutupnya rapat-rapat. Dengan cairan berbisa itulah, ia bermaksud akan mengalahkan kawanan bajak laut. Mudah-mudahan berhasil. Mudah-mudahan Tuhan melindungi, Awang berdoa. Bila tak berhasil, taruhannya memang nyawa.

Pagi itu, setelah tiga hari berada di pulau, Awang Garang melihat di kejauhan ada perahu besar sedang berlayar. Itu pasti perahu bajak laut, pikirnya.
Awang lalu mengumpulkan para prajurit.

“Perahu bajak laut sudah terlihat di kejauhan. Sebentar lagi mereka pasti akan lewat di pinggir pulau ini. Nah, sekarang sembunyilah kalian semua. Jangan satu pun yang menampakkan diri. Biar aku sendiri yang menemui bajak laut itu nanti,” ujar Awang Garang.

Simak juga:  Malioboro 2057, Yogya di Mata Penyair Sutirman Eka Ardhana

“Kalau nanti terdengar bunyi terompet perahu sebanyak lima kali, baru kalian semua keluar ke tepi laut,” tambahnya.

Meskipun dengan penuh tanda tanya, prajurit-prajurit itu mematuhi perintah Awang Garang. Mereka segera bersembunyi di balik rerimbunan hutan.
Benar dugaan Awang. Perahu itu memang perahu bajak laut. Ia berharap perahu bajak laut itu berhenti di depan pulau. Harapan itu terwujud. Perahu bajak laut itu benar-benar berhenti dan menurunkan jangkarnya di depan pulau.

Melihat perahu bajak laut berhenti, Awang Garang yang mengenakan pakaian seadanya dengan bambu-bambu kecil berisikan cairan berbisa di saku dan balik bajunya, segera menuju ke perahu kecil yang ditambatkan di tepi pantai. Perahu kecil itu dikayuhnya ke laut, menghampiri perahu bajak laut.
Ketika perahunya sudah hampir mendekat ke perahu besar itu, seorang bajak laut yang wajahnya kasar berteriak,

“Hei, siapa kau? Dan, mau apa mendekat ke perahu kami?”

“Saya penduduk di pulau sepi itu. Saya hanya seorang diri. Kalau boleh, saya ingin bekerja di perahu besar ini. Menjadi tukang masak, tukang mencuci lantai perahu atau apa pun saya mau. Tolonglah, saya mau bekerja,” ujar Awang menghiba.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (44)

Pemimpin bajak laut yang mendengar kata-kata itu mendekat ke pinggir perahu. Ia lalu melihat ke bawah, ke arah Awang yang di perahu kecil.

“Mau mengapa anak muda ini?” tanya pemimpin bajak laut yang berkumis tebal itu kepada anak buahnya.

“Dia ingin bekerja di perahu kita. Tukang masak dan tukang bersih perahu pun dia mau.”

“Kebetulan, bukankah kita sedang memerlukan seorang tukang masak untuk menggantikan tukang masak yang sakit payah itu. Suruh dia naik ke perahu. Dia kita terima untuk jadi tukang masak,” kata pemimpin bajak laut.
Tak kepalang rasa gembira di hati Awang Garang. Langkah awal siasatnya berhasil. Ia pun segera naik ke atas perahu bajak laut.

“Lepaskan saja perahu kecil kau itu. Perahu itu tak ada gunanya lagi. Bukankah kau sudah berada di perahu yang besar ini,” kata bajak laut yang menyuruhnya naik ke perahu besar begitu melihat Awang akan menambatkan tali perahunya.

“Baiklah. Perahu kecil ini saya lepas. Biar dia hanyut dan terdampar di pantai pulau kecil itu,” ujar Awang.
Awang memang yakin, jika perahu kecil itu akan hanyut terbawa ombak dan terdampar di pantai pulau. Dan, dia memang sudah berpesan kepada duapuluh prajurit yang mendampinginya di pulau kecil untuk mengamankan perahu tersebut.

(SUTIRMAN EKA ARDHANA/BERSAMBUNG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *