Senin , 26 Februari 2024
Beranda » Humaniora » Yogya, Rindu dan Kenangan
Pesona di Malioboro sekarang. Bisa duduk santai. Suasana yang merindukan. (Ist)

Yogya, Rindu dan Kenangan

YOGYA itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Ini kata penyair Joko Pinurbo, dalam sepenggal puisinya. Apa yang dikatakan penyair alumnus Sanata Dharma Yogya itu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Bukanlah hal yang mengada-ada.

Bagi siapa pun yang pernah singgah di Yogya, jalan-jalan, tamasya, liburan dan semacamnya, sudah dapat diduga akan merasakan rindu dan ingin datang lagi ke Yogya. Apalagi bagi mereka yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun tinggal di Yogya. Bertahun-tahun menghirup udaranya. Bertahun-tahun menghirup aroma masakan gudeg. Tak terbayang, betapa rindu itu selalu mendera. Rindu tipis, sampai rindu berat.

Bagi yang pernah tinggal, Yogya tak hanya kota yang senantiasa menautkan rindu. Tapi juga kota yang menyimpan banyak kenangan. Yogya bagaikan sebuah buku diary, yang di dalamnya tertulis beragam kenangan. Kenangan pahit dan manis. Kenangan saat sekolah atau kuliah. Kenangan saat jatuh cinta, memburu cinta, putus cinta, patah hati, dan kecewa. Kenangan saat lapar, dahaga, dan entahlah apa lainnya lagi.

Tapi satu hal yang pasti, sepahit apa pun kenangan, tetap saja indah untuk dikenang. Apalagi bila kenangan itu kenangan yang indah, tentu akan semakin berlipat-lipat lagi keindahannya.

Simak juga:  Menulis dalam Riuh

 

Duduk di angkringan, pesona yang ada di Yogya. (Ist)

 

Rindu Itu Indah
Mari kita buka lagi lembar-lembar kenangan itu. Kenangan saat di Yogya. Kenangan saat mula menapakkan kaki di Yogya. Jangan takut diamuk rindu. Karena rindu itu sesuatu yang indah.
Oh iya, masihkah tersimpan dalam catatan ingatan dan kenanganmu, tahun berapa pertama kali datang ke Yogya? Syukur tak hanya ingat tahunnya, tapi juga ingat tanggal, hari dan bulannya. Lebih hebat lagi, ingat jamnya. Pukul 04.00 pagi, pukul 10.00, 13.00, 19.00 atau tengah malam?

Masihkah ingat, di tempat atau lokasi mana pertama kali menapakkan kaki di Yogya dan menghirup udaranya? Di Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, terminal bus atau Bandara? Atau di mana?

Betapa berkesannya saat itu, saat pertama datang ke Yogya. Saat pertama didera anginnya. Saat pertama berada di jalanannya. Saat pertama memandang bangunan-bangunannya, baik yang tradisional maupun modern. Saat pertama memandang kawasan pertokoannya, dan lain-lainnya lagi.

Tentu banyak hal yang berkesan ketika merasakan saat-saat yang pertama di Yogya.
Eh, Yogya dikenal sebagai Kota Gudeg, Kota Wisata, Kota Pelajar, Kota Perjuangan, dan sejumlah predikat lainnya. Nah, sudah pernah makan gudeg? Rugi lho, kalau belum. Kalau pernah, bagaimana kesan pertama saat pertama menikmati gudeg yang bahannya terbuat dari nangka muda itu? Bagaimana kesan pertama saat lidah merasakan pedasnya sambal krecek itu?

Simak juga:  Mendaki dan Menyanyi

Pernah nikmati oseng-oseng mercon? Satu hal lagi, pernah makan nasi kucing di angkringan? Pernah minum teh gula batu di angkringan? Rasanya kenangan di Yogya menjadi tak lengkap bila belum singgah di angkringan. Angkringan, warung minum dan makan rakyat khas Yogya, yang kini justru jadi tempat ngobrol orang berkantong tipis sampai kantong tebal.

Pendek kata, seakan tak ada habisnya jika mengingat dan membicarakan berbagai keindahan dan kenangan yang ada di Yogya. Belum lagi bicara tentang Keraton (Istana Kesultanan Yogyakarta), Malioboro, Gembiraloka, dan banyak lainnya lagi.
Mari mengenang-ngenang. Mari merindu-rindu. Karena rindu itu indah. Apalagi rindu kepada Yogya. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *