Senin , 26 Februari 2024
Beranda » Humaniora » Pantun, Karya Sastra Lama yang Layak Diberdayakan Lagi
Buku kumpulan pantun "Pantun Mat-matan". (sea)

Pantun, Karya Sastra Lama yang Layak Diberdayakan Lagi

PANTUN itu juga puisi. Karena puisi itu masuk sebagai karya sastra, maka pantun jelas, juga masuk dalam karya sastra. Ini pasti, tak bisa diganggu gugat.
Dalam ragam puisi, pantun merupakan bentuk puisi tertua. Eksistensi atau keberadaan pantun sudah ada, diakui dan berpengaruh jauh sebelum munculnya puisi-puisi seperti di era kekinian ini.

Bahkan, hingga kini di kawasan masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Melayu, pantun masih tetap terjaga dan mendapat tempat yang terhormat. Pantun senantiasa dibaca, dikumandangkan dan didendangkan dalam berbagai acara dan kesempatan. Meminang calon istri dengan pantun. Mengantarkan pengantin dengan pantun. Bersyukur dengan pantun. Dan beragam aktivitas kehidupan lainnya. Hingga kini, bagi masyarakat Melayu, pantun dan kehidupan tak bisa dipisahkan. Pantun ada dalam kehidupan. Kehidupan ada dalam pantun.

 

Buku Pantun
Saya lahir dan setengah dibesarkan di kawasan yang berbudaya dan berbahasa Melayu, yakni di Bengkalis, Riau. Sejak kecil, saya sudah merasakan denyut pantun itu dalam denyut kehidupan. Bahkan setelah saya bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, denyut dan degup pantun itu tak pernah hilang. Jadi tidaklah berlebihan kalau saya selalu rindu akan pantun. Rindu akan berpantun.

Simak juga:  Dua Makam Syekh Baribin dan Desa Grenggeng

Di bulan Agustus 2023 ini, saya diberi kepercayaan oleh Satupena DIY untuk ngobrol soal pantun. Satupena DIY yang merupakan Perkumpulan Penulis Indonesia di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta itu menaruh kepedulian terhadap keberadaan pantun. Bagi saya yang pernah merasakan denyut kehidupan pantun itu serta merindukannya, tawaran atau kepercayaan untuk berbicara tentang pantun tersebut sungguh sesuatu yang sangat berharga.

Acara saya berbincang tentang pantun itu dilaksanakan pada Minggu, 20 Agustus 2022 di Griya Adhipraya Purbonegoro, Yogya. Seminggu sebelum acara itu berlangsung saya pun bekerja keras untuk mewujudkan sejumlah pantun untuk disampaikan di forum tersebut. Saya pun bertekad untuk mewujudkan sebuah buku kumpulan pantun karya sendiri. Seperti layaknya saat bekerja di media koran dulu, saya pun membuat deadline selama satu minggu buku kumpulan pantun itu harus sudah terwujud.

Untunglah seorang teman yang punya penerbitan buku membantu upaya untuk mewujudkannya.
“Ini kerja gila. Mau buat buku kok waktunya cuma seminggu. Oke, saya bantu. Tapi tidak bisa pakai ISBN, bisanya cuma pakai QRCBN. Kalau pakai ISBN waktunya lumayan lama bisa sampai dua atau tiga bulan. Kalau QRCBN bisa cepat. Bisa untuk buku yang ditarget seminggu terbit. Data QRCBN ini juga berlaku secara internasional,” kata teman yang penerbit itu.

Simak juga:  Pelukis Hardi, dari Desa Gambar 'Menggambar' Kehidupan Semesta

 

Pantun Mat-matan
Demikianlah, buku kumpulan pantun tersebut terbit sesuai target waktu seminggu. Apalagi saya memang benar-benar rindu akan keberadaan pantun, sehingga berupaya keras untuk mewujudkannya.

Dan, buku pantun yang diberi judul Pantun Mat-matan ini merupakan wujud dari kerinduan itu. Kerinduan akan pantun. Tapi maaf, ini hanya sekadar pantun untuk bersantai, menghibur diri, dinikmati sambil istirahat. “Mat-matan”  ini kata yang cuma dikenal di Yogya atau di Jawa. Arti sederhananya, menikmati sesuatu sambil santai, istirahat, menghibur hati, bersenang-senang dan gembira.

Ya, Pantun “Mat-matan” ini merupakan cara memadukan kerinduan akan kampung halaman, Bengkalis, dengan keberadaan saya di Yogyakarta sekarang ini.
Jayalah pantun. 
Tabik. Dan salam takzim dari saya.
Salam Indonesia. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *