Senin , 26 Februari 2024
Beranda » Humaniora » Mengapa Saya Sinis Pada Mereka yang Omong Enteng Tentang People Power atau Revolusi Berdarah-darah
Dr. Satrio Arismunandar. (Ist)

Mengapa Saya Sinis Pada Mereka yang Omong Enteng Tentang People Power atau Revolusi Berdarah-darah

BELAKANGAN ini ada sejumlah politisi, praktisi politik, dan aktivis mahasiswa yang menuntut Presiden Jokowi mundur, dimakzulkan, dengan ancaman akan terjadi people power atau revolusi berdarah-darah.

Saya heran. Kalau tujuannya cuma Jokowi berhenti jadi Presiden, bukankah beberapa bulan lagi akan ada pemilihan presiden 2024? Siapapun presiden terpilih nanti, Jokowi pasti berhenti jadi presiden. Lantas, mengapa mesti mengancam dengan people power atau revolusi berdarah-darah?

Mereka pun mengucapkan ancaman people power atau revolusi berdarah-darah itu dengan nada enteng, ringan, seperti tanpa beban. Padahal, bagi saya, itu sangat serius.

Sejauh yang saya pahami, revolusi yang berarti perubahan kekuasaan atau sistem pemerintahan yang drastis secara cepat, dalam prosesnya akan memakan banyak korban manusia (human cost).

Sekadar contoh di Asia Tenggara, sebanyak 1,5 – 2 juta warga Kamboja tewas dalam genosida yang dilakukan rezim Khmer Merah di Kamboja pada 1975-1979. Itu hampir seperempat populasi Kamboja 1975! Kaum intelektual, religius atau etnis tertentu yang dianggap menolak rezim ikut dibantai.

Simak juga:  Manuver Perpanjangan Pemilu dan Presiden 3 Periode Pun Tutup Buku

Reformasi 1998 saja di Indonesia, yang menurut saya belum termasuk kategori revolusi, sudah memakan banyak korban manusia. Proses ini disertai dengan huru-hara, kerusuhan, pembakaran, penjarahan, dan pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa (sampai sekarang pelakunya tidak pernah ditangkap atau diadili).

Penderitaan dan kerugian rakyat banyak sangatlah besar. Pertumbuhan ekonomi sempat minus. Butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi menuju normal. Meraih kepercayaan untuk bangkit kembali itu juga butuh perjuangan tersendiri.

Semenderita-menderitanya para tokoh mahasiswa, politisi dan elite politik lainya, yang paling menderita (dan sering jadi korban atau dikorbankan) yang tetap rakyat kecil. Bahkan, rakyat yang tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa soal pertarungan politik.

Maka orang-orang yang dengan enteng mengumbar omongan tentang people power atau revolusi berdarah-darah, itu ada dua kemungkinan.

Pertama, dia tidak betul-betul memahami apa yang dia omongkan. Mungkin yang ia tahu baru sebatas teori yang ia pelajari di diktat kuliah.

Kedua, dia cukup memahami yang dia omongkan. Tetapi dia sangat tahu bahwa darah yang akan terkucur di people power atau revolusi berdarah-darah itu adalah darah orang lain! Bukan darahnya sendiri!

Simak juga:  Menulis dalam Riuh

Makanya ketika dia bilang “berdarah-darah,” itu dia ucapkan dengan nada enteng saja, tanpa beban.

Kita tidak usah naif. Ketua BEM dari kampus ternama sekaliber UI di zaman sekarang ini sadar betul bahwa dirinya tidak akan menjadi bagian dari yang berdarah-darah itu.

Saya yakin, dia juga belum mengalami apa yang disebut “berdarah-darah” itu. Makanya, cara omongnya enteng saja. Mari berpikir waras!

Depok, 22 Juni 2023

(Satrio Arismunandar)

* DR. Satrio Arismunandar, jurnalis senior, pengamat politik, warga Depok II Tengah, Jawa Barat.Peo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *