Sabtu , 3 Desember 2022
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Sutirman Eka Ardhana
Sutirman Eka Ardhana. (Ist)

Puisi Sutirman Eka Ardhana

SURAT YANG TERTUNDA

Lima puluh tahun lalu
Kata-kata ini telah kusiapkan
Dengan debar dan gemuruh
Menderu di dada

Lima puluh tahun lalu
Masa yang panjang di hitungan waktu
Tapi dalam kenangan, terasa
Begitu lekat, begitu dekat

Lima puluh tahun lalu
Langkahku tergetar, saat berlalu
Kubiarkan serangkai janji pergi
Meninggalkan nyeri

Lima puluh tahun lalu
Kusiapkan selaksa kata
permohonan maaf
Yang tak mampu terucap

Lima puluh tahun telah berlalu
Aku terjerat kelu
Tersayat sembilu
Maafkan, aku

2022

 

LELAKI TUA YANG DIAMUK KENANG

Seorang lelaki tua
Menemukan kembali kenangannya
tertulis di buku kusam
Yang tersimpan di tas usang

Dibukanya kembali
Lembar-lembar kenangan
Ou, jantungnya berdetak kencang
Saat menemukan janji cintanya, dulu

Lalu, ada sesosok wajah datang
Wajah perempuan ayu
Yang dulu selalu bersama
Bergandeng tangan, sepanjang jalanan kota

Lelaki tua itu diamuk kenang
Dan disayat sembilu
Lelaki tua itu didera sesal
Tak mampu tepati janji

2022

 

CERITA TENTANG SEBUAH KOTA

Kota ini tak pernah lelah mengikuti langkahku
Padahal sudah berulangkali
Kulambaikan tangan
Tanda selamat tinggal

Simak juga:  Puisi dan Fotografi Di Tembi

Seperti sekarang, jelang petang
Kota ini kembali menyeret langkahku
Menyusuri jalanan-jalanan kota
Sambil bersenandung tentang rindu

Kota ini tak pernah lelah mengirim kenang
Juga bayang seraut wajah
Dan pepohonan kota
Yang mencatat semua peristiwa

Kota ini tak pernah lelah
Menyimpan rahasia
Tentang cinta

2022

 

SELEMBAR FOTO DI ALBUM LAMA

Selembar foto di album lama
Tiba-tiba mengusik tidurku
“Kenapa tak pernah melihatku lagi, seperti dulu,” katanya.
Di luar, seperti ada suara-suara
Mengajak rinduku pergi
Menyibak rahasia yang disimpan sunyi.

Selembar foto di album lama
Seperti tak berkedip menatap
Tatapnya tajam, bagai sebilah pisau
Siap menunjam dalam
ke relung kenang

Selembar foto di album lama
Bagai bertanya: “Kenapa dulu pergi, dan tak kembali?”
Kurasakan luka menyayat dada

Selembar foto di album lama
Bagai menuduhku, lelaki
Pengingkar janji
Lalu kurasakan perih di hati

2022

 

PADA SUATU MASA

Pada suatu masa
Kita bertemu di ujung jalan itu
Lalu kau bergumam tentang hari-hari
Yang membentang di hadapan

Simak juga:  Noorca, Yudhis dan Rayni Dalam Novel yang Berbeda

Pada suatu masa
Kita berbincang di ujung senja
Melambungkan sederet angan tentang kehidupan
Rumah mungil dan anak yang lucu

Pada suatu masa
Aku terseok di jalan lengang
Langkahku lunglai, hilang daya
Hilang kata-kata

Pada suatu masa
Aku merasa
Jadi pendosa

2022

 

Catatan Kecil:

Ruang “Puisi Kebangsaan” di perwara.com ini sudah muncul sejak 2017 lalu. Tapi lama terkesan sepi. Kali ini dicoba untuk disemarakkan kembali dengan menghadirkan puisi-puisi ini.
Bagi yang punya karya puisi, mari kita semarakkan ruang ini dengan mengirimkan karya-karya puisinya ke email: tirmankalis@gmail.com.
Ayo, ditunggu!

 

Biodata:

Sutirman Eka Ardhana, lahir di Bengkalis, Riau, 27 September 1952. Sejak 1972 menetap di Yogyakarta. Sejumlah buku kumpulan puisinya telah terbit. Di antaranya: Malioboro 2057 (Interlude 2016), Bunga Orang-orang Kalah (Tonggak Pustaka, 2019), Tentang Kata-kata (Kamboja Kelopak Enam, 2020) dan Pengembara (Haksoro, 2021). Sempat sibuk di media pers, dari reporter sampai Pimred. Juga sempat dipercaya mengajar di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *