Sabtu , 3 Desember 2022
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Marjuddin Suaeb
Marjuddin Suaeb. (Ist)

Puisi Marjuddin Suaeb

METEOR BENDA LANGITKU

Goyang. Bumi goyang benda langit
dan gerhana. Tata tanah tata bumi.
Dan peristiwa semesta. Seperti.
Seperti jauhkah hari kiamat.

ingatkah. Jika saja benda langit tabrak.
Laut luap. Gunung layang-layang.
Api bakar api. Petir ledakkan halilintar
Bongkar. Terbongkar seribu perkara.

Dan perkara kubur hidup-hidup
Aborsi. Bongkar perkara diri
O akhir adil. Butuh adanya
Sebelum satu kembali padanya

Kembali Gusti
Rindu sejati
Satu
Di muasal asal

Yk 2022

 

TERATAI KOLAM. KOLAM TERATAI.

Sediakan. Bikin air kolam
Bak sedia besar jiwa. Terima suara.
Kuping tampung. Apapun kata ujaran
Sedia sebagai halnya ucapan orang.

Ucapan orang menurut air akal
Bak teratai di kolam jiwa
Semua sudah ditakar
Tinggal pakai. Jangan dusta ya

Barangkali saatnnya ketemu itu kolam
Kolam keringat saat kepanasan
Kepanasan padang tunggu hisab Gusti
O. Jika sama ingat. Lurus benar jalan ini

Jalan hidup bersama di satu negeri
Bersama bernegara. Berbangsa-bangsa.
Beda tak beda itu kehendak
Berkenalan bersalingan butuh butuhkan

Yk 2022

 

GUMAM DARAH UJAR

Saat itu. Gumam syair tak sekedar kata.
Alirkan darah rasa. Susuri nadi.
Jantungi ruh. Menjelang doa.
Tak pernah selesai mengiang

Simak juga:  Fragmen Pohon-Pohon di Bulan Purnama

Mengiangi kuping suara.
Suara hati terkecil. Harap.
Di mana. Di mana ucapku tadi
Sembunyi. Intaikan jawab semu.

Masihkah meledek. Tanggung jawab
Ucap terujar. Jiwa menanggung
Jiwa berbuat. Jasad menanggung.
Ya. Aku ‘kan tanggung mau tak mau.

Mau tak mau. Juga lahir.
Dan rahmat gendong abadi
Kenapa suka dipecundangi
Tidak. Siapa mampu rebut garis Gusti

Yk 2022

 

FANTASIA FANTASI

Seperti. Meski belum lihat fatamorgana.
Tapi lagi mabok. Kian kejar kian lari.
Adakah itu cita. Apa yang dikejar.
Keunggulan. Keangkuhan. Sombong.

Dunia tak sekedar bumi.
Di balik dunia ada dunia
Dunia sehabis dunia.
Mahkamah sejati.

jika tidak. Kemana adil duduk
Drama licik terbuka
Tindas menindas terbalas
Juga lalimnya pada diri

O fantasia fantasi
Kenapa suka ampuni diri
Mata tak melek
Aku dah terjerumus terdalam.

Yk 2022

 

MONOLOG SUCI

Taukah. Rasa neraka di ini tengkuk.
O urat leher. Urat neraka.
Mata pagi buka. Mata api
Ya api ya bakar diri. Gusti ampuni.

Tak cukup ini amal dusta.
Sembahyang kadang. Selebihnya dusta
Berjalan bawa api dosa
Tidur selimut api dusta. Ampuni Gusti..

Simak juga:  Dua Penyair Yogya Tampil di Sastra Bulan Purnama

Semudah itukah ampuni.
Cukupkah puasa. Sembahyang sesisa usia
Tebus api. O kian taubat kian panas
Tak ada mampu ini senyum.

Senyum? Tidak. Kecuali bungkam
Bungkam rasa dosa o bukan sekedar rasa
Jika saja rahmat tak singgahi diri.
Pada siapa ini api. Gusti. Maafi aku.

Yk 2022

 

Biodata:

Marjuddin Suaeb, lahir di Kulonprogo 13 Maret 1954. Alumni UNY.(dulu IKIP). Karangmalang. Alumnus RENAS. INSANI. PSK, meski ketemu Umbu tinggal buntutnya. Antologi bersama di antaranya: Bencana, Cermin Akhir Tahun, Lima Tujuh Lima, Penyair Yogya 3 Generasi, Ziarah (berdua bersama Budi Nugraha), Parangtritis, Gunungan, Genderang Kuru Kasetra, Silhuet. Gondomanan 15, dan dalam Antologi Dari Negeri Poci 11: KHATULISTIWA. Juga ikut dalam Antologi Puisi Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, serta Antologi Puisi Pulang ke Rumahmu.
Namanya masuk buku Apa Siapa Penyair Indonesia.
Kumpulan puisi tunggalnya, Bulan Bukit Menoreh dan Teka Teki Abadi.
Perlu dicatat, ia bertiga bersama Marwanto dan Marno (Trio Mar) merintis embrio sastra Kulonprogo.
Namanya masuk dalam “Ensklopedi Ķulon Progo“. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *