Sabtu , 3 Desember 2022
Beranda » Musik » Hobi Menyanyi, Membuat Hidup Jadi Lebih Berarti
Saat menyanyi di Sanggar Melody. (Ist)

Hobi Menyanyi, Membuat Hidup Jadi Lebih Berarti

MASA-MASA remaja merupakan awal masa-masa yang paling menyenangkan dan berkesan. Masa-masa yang indah. Bila di masa anak-anak atau di masa kecil, hanya bisa menyanyikan lagu anak-anak, di masa remaja seakan bebas untuk menyanyikan lagu apa pun. Ou, betapa senang dan bahagianya ketika memasuki masa remaja. Dan itu saya alami sejak meninggalkan bangku SD, kemudian menjadi murid SMP. Di bangku SMP itulah awal masa remaja saya alami. Kemudian keindahan demi keindahan, kegembiraan demi kegembiraan pun mengisi hidup saya dengan menyanyi. Ya, hobi menyanyi telah membuat hidup saya menjadi lebih berarti.

Sejak duduk di bangku SMP di kota kelahiran, Magelang, saya sudah mulai memiliki keleluasaan untuk menyukai lagu-lagu populer yang berkisah tentang cinta, tentang kehidupan remaja, dan hal-hal serba indah lainnya. Tak hanya sebatas menyukai atau menyenangi saja.  Saya pun mempunyai keleluasaan dan keberanian pula untuk menyanyikan lagu-lagu tentang cinta itu, ketika sedang berada di rumah atau di mana pun. Tak lagi punya kekhawatiran  dimarahi oleh Ayah dan Ibu, maupun takut akan ditertawakan oleh siapa pun.   

Seingat saya, sejak tahun 1976, kesukaan atau hobi menyanyi itu terasa sekali peningkatannya. Sepertinya saya selalu saja ingin menyanyi atau melantunkan lagu-lagu yang sudah dihapal.  Tak hanya ketika berada di rumah, di saat-saat senggang, atau di waktu sedang tidak belajar. Di mana pun, misalnya di pesta ulang tahun teman, atau ketika berkumpul gembira bersama teman-teman, saya selalu ingin menyanyi. Saya ingin tunjukkan ke teman-teman, bahwa saya suka menyanyi. Tak sebatas suka, tapi juga bisa menyanyi.

 

Latihan di Depan Cermin

Masa-masa di SMP itu memang masa-masa menyenangkan. Masa-masa mulai jatuh cinta. Masa-masa mulai mengagumi dan menyukai seseorang. Masa-masa belajar bagamana caranya membangun pesona diri, dan menarik perhatian orang lain. Belajar untuk bisa selalu terlihat cantik, dan menarik. Demikian pula masa-masa ketika di SMA, dan kemudian saat berstatus mahasiswa.

Semasa di Magelang, saya pernah membuktikan kesukaan dan kemampuan menyanyi itu dengan mengikuti lomba pop singer di RSPD Magelang. Untuk lomba pop singer itu, saya latihan berhari-hari. Latihan sendiri, tanpa bimbingan siapa pun. Pokoknya, saya bertekad untuk mengikuti lomba pop singer itu. Pokoknya harus ikut. Perkara menang atau kalah, itu urusan belakang.

Saya tersenyum-senyum sendiri bila ingat bagaimana cara berlatih mempersiapkan diri untuk ikut lomba pop singer itu. Saya berlatih di depan cermin kaca. Berlatih bagaimana menyanyi, bergaya dan bergoyang di depan cermin. Waktu itu lagu pilihan saya adalah Apanya Dong dan Tua-tua Keladi. Lagu-lagu yang hits kala itu. Itu lagu-lagu yang iramanya enerjik, karenanya gaya saya saat menyanyikannya harus enerjik juga. Jika sudah berdiri di depan cermin, saya bisa menyanyi,bergaya dan bergoyang berjam-jam lamanya. Dan, berhari-hari itu saya lakukan.

Ketika masih di Magelang dulu, saya juga ikut grup folk song, ikut grup paduan suara. Oh iya, saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Tidar Magelang [UTM], angkatan tahun 1981. Nah, saat jadi anak kampus itu, saya juga sempat ikut grup band kecil-kecilan. Di grup band kampus itu, hobi menyanyi saya semakin tersalur.

Simak juga:  "SOLO JOGJA DADI SAKSI" - KINKA BAND

Selain itu saya juga ikut di grup Mahasiswa Pecinta Alam [Mapala]. Sebagai anggota Mapala, saya berulangkali ikut kegiatan mendaki gunung. Di saat mendaki gunung itu pun, saya pun tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyanyi. Menyanyi untuk menghibur diri dan melepaskan rasa lelah saat mendaki. Sekaligus juga menghibur teman-teman sependakian. Lumayan dengan menyanyi, rasa lelah bisa terobati.

Pengalaman ikut grup paduan suara saat masih di Magelang, terulang lagi ketika tinggal di Yogya. Ya, saya mulai pindah ke Yogya sejak tahun 1989. Sebelumnya, setelah meninggalkan kampus saya sempat tinggal di Jakarta, bekerja. Dari Jakarta, pindah ke Yogya. Di Yogya juga ikut grup paduan suara yang diasuh oleh Bu Nana [almh], pengasuh acara Kuncup Mekar di TVRI Yogyakarta dulu. Bersama Bu Nana itu juga saya sempat berlatih olah vokal.

 

Mengidolakan Arie Koesmiran

Dulu, bahkan sampai kini, saya menyukai banyak penyanyi. Tapi dari dulu, salah satu penyanyi yang saya idolakan itu adalah Arie Koesmiran. Sebagai penyanyi yang diidolakan, sudah barang tentu saya menyukai sejumlah lagu yang  dulu dipopulerkan oleh Arie Koesmiran.

Kalau ada yang bilang, lagu-lagu kenangan itu selalu berhubungan dengan kisah cinta [tentu maksudnya kisah cinta di masa lalu], saya tak menolaknya. Saya sepakat dengan pernyataan itu. Ya, di masa-masa sedang belajar jatuh cinta itu, saya kebetulan sedang menyukai lagu John yang dinyanyikan oleh penyanyi Arie Koesmiran itu.

Lagu John yang dinyanyikan Arie Koesmiran itu sangat berkesan buat saya. Ya, lagu itu, merupakan lagu kenangan yang sampai hari ini tak bisa saya lupakan. Kenangan yang penuh kesan. Kenangan masa muda. Kenangan ketika bunga-bunga cinta remaja sedang bermakaran di hati. Dan, sampai hari ini, saya masih hapal dan ingat secara jelas lirik-lirik lagu itu.

 

John

 

John, kau bagai gelombang
Kudiam kau datang
Kukejar kau hilang
Hei John, daku yang wanira
Terjatuh kau cumbu rayu

 

John, kejamnya hatimu
Kudiam kau benci
Kusapa kau benci
Oh John, tiada satu pun
Pemuda yang sepertimu

 

Reff:

Engkau seganas gelombang
Bila kuabaikan dirimu
Engkau menyakitkan  hati
Bila luharapkan dirimu
Apakah yang engkau inginkan
Apakah yang engkau harapkan
Dariku….
Katakanlah….
Katakanlah….

 

Di tahun 1980-an hobi menyanyi itu pun semakin meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dan, di tahun 1980-an itu ada beberapa lagu yang saya sukai dan sangat berkesan. Lagu-lagu yang sering saya nyanyikan dalam berbagai kesempatan. Salah satu di antara lagu-lagu yang saya sukai dan berkesan itu adalah Antara Anyer dan Jakarta.   

Lagu Antara Anyer dan Jakarta itu sudah saya sukai sejak lagu itu pertama kali dinyanyikan atau dipopulerkan oleh Atiek CB. Lagu ciptaan Oddie Agam itu sebelum dipopulerkan oleh penyanyi asal Malaysia, Sheila Madjid, sudah terlebih dulu dipopulerkan oleh Atiek CB.

Simak juga:  Indahnya, Diajari Menyanyi Bapak dan Ibu

Lagu Antara Anyer dan Jakarta itu menjadi semakin disukai banyak orang ketika dinyanyikan oleh Sheila Madjid. Tapi buat saya, lagu itu lebih berkesan ketika dinyanyikan oleh Atiek CB. Karena sejak dinyanyikan Atiek CB, lagu itu sudah saya sukai. Kebetulan memang ada kesan dan kenangan khusus di dalam lagu itu.

Jadi, ketika kemudian lagu tersebut dipopulerkan lagi oleh Sheila Madjid, saya masih tetap merasa lebih suka mendengarkannya lewat vokal Atiek CB. Di saat banyak orang memuji-muji vokal Sheila Madjid, saya biasa-biasa saja. Karena kesan dan kenangan atas lagu itu muncul saat masih dinyanyikan oleh Atiek CB.  

 

 

Bergabung Komunitas Melody

Hobi dan semangat untuk menyanyi itu tak pernah padam, tak pernah mereda, bahkan semakin menggelora. Hobi menyanyi itu terus menggelora sampai kuliah, kemudian menikah, punya dua anak, dan sampai punya cucu. Sepertinya akan terus menggelora sampai kapan pun. Menggelora tiada henti.

Di saat komunitas-komunitas menyanyi atau komunitas-komunitas tembang kenangan bermunculan di Yogyakarta maupun di banyak kota lainnya, Ibu-ibu di komplek perumahan tempat saya tinggal, yakni Perumahan Sorosutan Indah juga tak mau ketinggalan. Ibu-ibu di komplek perumahan pun membuat komunitas untuk bernyanyi, yang diberi nama Sanggar Melati.

Karena merasa mendapatkan tempat untuk menyalurkan hobi menyanyi itu, sebagai warga di Perumahan Sorosutan Indah, saya pun bergabung di dalam komunitas Sanggar Melati. Tempat latihan di rumah Drs. Lilik DH dengan player Lilik Saggydoc.

Ya, bermula dari komunitas menyanyi di komplek perumahan itu, saya pun mulai tertarik untuk mencoba menyanyi di komunitas-komunitas lainnya. Sekitar tujuh tahun lalu atau mungkin lebih, saya mulai bergabung di komunitas Melody [Sanggar Melody]. Seingat saya, saya sudah bergabung di Sanggar Melody, di awal-awal kelahirannya. Jujur, banyak pengalaman diperoleh selama ikut menyalurkan hobi menyanyi di Melody. Setidaknya terbuka wawasan-wawasan baru dalam mengembangkan aktivitas kesukaan menyanyi tersebut.

Tak hanya di Melody, kemudian saya pun bergabung di dalam komunitas Pelangi. Di dalam Pelangi, kesempatan menyanyi, terutama di Radio, semakin banyak diperoleh. Hal itu dikarenakan komunitas Pelangi telah memiliki jadwal rutin tampil menyanyi di Radio Swara Kenanga Jogja [SKJ]. Selain di Radio Swara Kenanga Jogja, juga sempat tampil menyanyi di Jogja TV, Pro 1 RRI Yogyakarta, dan Radio Arma Sebelas.

Buat saya, menyanyi membuat badan dan jiwa sehat. Dan, satu hal lagi, kalau menyanyi lupa bila sudah jadi nenek-nenek. Merasa tetap muda dan bugar. Hidup benar-benar terasa bahagia, indah dan menyenangkan*** [Sri Sugiyanti, B.Sc]

 

*** Sri Sugiyanti, B.Sc,  lahir di Magelang, 11 Desember 1961. Ibu dua orang anak, dan nenek seorang cucu, yang lebih suka menyebut dirinya hanya sebagai ibu rumah tangga ini adalah seorang sarjana muda ekonomi. Bersama suaminya, Berliantoro SE, kini ia tinggal di Perum Sorosutan Indah, Sorosutan, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *