Sabtu , 3 Desember 2022
Beranda » Event » Burung Merak di Bulan Purnama
alm. WS Rendra (Ist)

Burung Merak di Bulan Purnama

Rendra, yang dijuluki sebagai Burng Merak, selain dikenal sebagai penyair, ia adalah seorang aktor, penulis naskah teater dan sutradara teater. Ia mempunyai kelompok teater yang dikenal dengan nama Bengkel Teater. Rendra telah meninggal bulan Agustus 2009 lalu, tetapi puisi2nya terus dibacakan oleh generasi berbeda-beda.

Kapan Rendra membaca puisi, orang dengan segera akan terpikat akan kemampuannya membaca puisi. Bahkan buukan hanya terpikat, malah seperti tersihir. Penampilannya dalam membaca puisi penuh pesona, dan setiapkali dia tampil mmembaca puisi, panggung selalu penuh. Padahal untuk masuk harus membeli tiket, yang tidak murah. Namun orang berbondong-bondong memenuhi  panggung.

Kali ini, Sastra Bulan Purnama edisi spesial akan diselenggarakan 19 Nopember 2022, pkl. 15.00 di Tembi Rumah budaya, jl. Parangtritis Km 8,4, Tembi, timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, akan diisi pembacaan puisi2 Rendra. Sanggarbambu, yang sudah berusia 63 tahun, mengenang Rendra dengan membacakan puisi karyanya. Para pembaca adalah aktor teater, penyair, perupa, yang sudah lama bersentuhan dengan Sanggarbambu.

Mereka adalah Gentong Hariono, aktor teater dan penyair, Nasirun, perupa, Agus Istianto, aktor teater dan penulis, Eko Winardi, Aktor teater dan penulis, Ana Ratri Wahyuni, pemain teater, Kumbo, aktor teater, Teguh Eswe, perupa, Untung Basuki, aktor teater dan pelantun lagu puisi, Ocong Suroso, perupa, Liek Suyanto, aktor teater, Ami Simatupang, aktris teater.

Simak juga:  Mengenang Mantan di Bulan Purnama

Gentong Hariono, salah seorang inisiator acara dan anggota Sanggarbambu menyebutkan, memilih Rendra untuk dikenang, karena Rendra adalah keluarga Sanggarbambu. Pada pentas Oidipus Sang Raja pada tahun 1962 Rendra bersama study grup drama dibantu Sanggarbambu, yang bertindak sebagai produser.

“Bahkan perancang disain artistik panggung dan grafis para perupa Sanggarbambu, ialah Danarto dan Handogo,” ujar Gentong Hariono.

Selain pada edisi spesial ini, demikian Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, pada edisi lain, 16 oktober 2019 lalu sebelum ada pandemi covid 19, anak-anak Rendra,  membacakan puisi karya bapaknya. Bahkan cucu Rendra anak dari dari Tedy putra sulung Rendra, ikut tampil membacakan puisi karya eyang kakungnya.

“Belum pernah anak-anak Rendra, dari Sunarti Suwandi dan Sitoresmi, tampil membacakan puisi2 karya ayahnya, dan Sastra Bulan Purnama memberi ruang untuk mereka”, kata Ons Untoro.

Untung Basuki, selain dikenal sebagai anggota Bengkel Teater pimpinan Rendra, ia juga anggota Sanggarbambu. Ia dikenal juga sebagai pelantun lagu puisi, dan sudah menciptakan sejumlah lagu puisi yang seringkali dipentaskan, sejak tahun 1970-an. Dalam acara mengenang Rendra, Untung Basuki, selain membacakan puisi karya Rendra, ia juga akan melantunkan lagu puisi. Ada beberapa puisi karya Rendra, yang sudah lama dibuat menjadi lagu, dan sering dipentaskan dibanyak tempat oleh Untung Basuki.

Simak juga:  Rektor UGM Tampil di Sastra Bulan Purnama

Rendra memiliki sikap kritis terhadap  kekuasaan. Karya2nya, terutama naskah drama, selalu penuh kritik terhadap kekuasaan, sehingga semasa rezim orde baru, Rendra seringkali dilarang pentas.

Sejak tahun 1950-an, puisi2 karya Rendra sudah dikenal luas, beberapa judul puisi yang dikenal, dari sejumlah puisi yang sudah ditulis dan diterbitkan menjadi buku ialah ‘Kotbah Di Atas Bukit’. ‘Blues Untuk Bonie’ dan sejumlah judul puisi lainnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *