Sabtu , 3 Desember 2022
Beranda » Event » Bulan Purnama di Banyuwangi
Harno Dwi Pranowo (kiri), Novi Indrastuti (kanan). (Ist)

Bulan Purnama di Banyuwangi

Kali ini, satu buku yang memadukan esai dan fotografi, yang dilengkapi pertunjukkan sastra, dalam hal ini pembacaan puisi, akan ditampilkan di Sastra Bulan Purnama edisi 134, diselenggarakan Sabtu, 5 Nopember 2022, pkl. 15.00 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Buku esai fotografi tersebut diberi judul ‘Banyuwangi: Ratna Mustika di Penghujung Timur Jawa” karya Novi Indrastuti dan Harno Dwi Pranowo. Novi sehari-harinya sebagai pengajar di Jurusan Sastra Indonesa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM), dan Harno Dwi Pranowo pengajar di Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.

Keduanya sering melakukan kolaborasi dalam hal karya tulis. Novi menyajikan karya tulis, misalnya puisi, dan Harno menyajikan fotografi. Kedua karya disajikan dalam satu buku. Ini kali, karya esai Novi Indrastuti dipadukan dengan fotografi karya Harno Dwi Pranowo, dan mengambil obyek Banyuwangi.

Peluncuran buku karya Novi Indrastuti ini akan diisi pembacaan puisi dari Kagama Poetry Reading, yang dipimpin oleh Novi. Sejumlah alumni UGM dari berbagai tahun dan jurusan akan membacakan puisi, baik puisi karya sendiri ataupun puisi karya penyair lain. Para alumni  yang akan membacakan puisi, ialah Achmad Carris Zubair, Armansyah Prasakti, Darwito, Kamal Firdaus, Jaka Marwasta, Mas Yanto Herlianto, Paiman, Risma Nur Rahmawati, Sriyanti S. Sastroprayitno dan Wahjudi Jaya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IX: Kebangsaan Dalam Religi dan Budaya

Selain pembacaan puisi, peluncuran buku ini juga akan dipadukan dengan peragaan busana rancangan Essy Masita, seorang perancang busana yang dikenal luas, dan rancangannya selalu memikat. Para peragawati muda via Ardania dkk., akan diarahkan, Tosa Santisa selaku penata gaya, yang mempunyai pengalaman menyelenggarakan peragaan busana di Yogyakarta.

“Peragaan busana ini bukan sekedar tempelan dalam pertunjukkan sastra di Sastra Bulan Purnama, melainkan satu kesatuan dan akan memberi makna baru dalam pertunjukkan ini” kata Tosa Santosa.

Dua orang tokoh dibidangnya, Sri Margono, sejarawan, pengajar jurusan sejarah di FIB UGM, dan Risman Marah, seorang fotografer dan pengajar di ISI Yogya, akan memberikan testimoni mengenai buku tersebut dari perspektif masing-masing.

Mengenai buku yang ditulisnya, Novi Indrastuti mengatakan, melalui buku esai fotografi ini diharapkan dapat menimbulkan perhatian (attention), menimbulkan ketertarikan (interest), dan membangkitkan keinginan  atau hasrat (desire) dalam diri pembaca sehingga akhirnya memutuskan untuk  melakukan perjalanan (action) menuju ke destinasi  wisata yang sesuai dengan keinginan, selera, dan kebutuhannya masing-masing.  

“Jadi, buku esai fotografi ini dapat membantu pembaca untuk mengambil keputusan yang tepat dalam memilih destinasi wisata yang sesuai dengan tujuan dan harapannya.  Berbagai destinasi wisata yang termaktub dalam buku ini dinarasikan dan dilengkapi dengan suguhan foto yang memvisualisasikannya sehingga para pembaca dapat memperoleh gambaran yang jelas”, ujar Novi Indrastuti.

Simak juga:  Kembang Belukar di Bulan Purnama

   Sedang Harno Dwi Pranowo, fotografer, mengatakan, selain keindahan alam yang memikat di Banyuwangi, ada lagi jenis wisata yang menarik di bumi Blambangan ini, yaitu budaya. Tari Gandrung yang mendunia melalui penyelenggaraan festival Gandrung Sewu, makanan khas yang menarik dan ekonik seperti rujak soto, juga batik yang elegan dengan motif Gajah Oling.

“Mengabadikan keindahan yang tersebar di bumi Blambangan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk diabadikan dengan fotografi. Memberikan dan menyebarkan informasi ini untuk dunia agar dapat dinikmati oleh banyak orang, dan ujung-ujungnya juga untuk menjadikan Banyuwangi semakin menarik sebagai tujuan wisata yang menjanjikan untuk dijadikan agenda liburan”, ujar Harno Dwi Pranowo

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama, menyebutkan, pada edisi ini, SBP memberi ruang kolaborasi esai dan fotografi, yang dipadukan pertunjukkan sastra dan peragaan busana. Masing-masing akan saling mengisi dan memberi makna terhadap produk kebudayaan.

“Ekespresi kebudayaan memang tidak tunggal, akan selalu berinetaraksi dengan karya yang berbeda, sehingga ekspresi budaya terlihat penuh warna”, kata Ons Untoro. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *