Minggu , 25 Juli 2021
Beranda » Hukum » Deddy Suwadi Siregar: UU Advokat Sudah Tak Ideal
Deddy Suwadi Siregar SH ketika sedang bersiap menjalankan kerja sebagai advokat dalam sidang secara online. (Ist)

Deddy Suwadi Siregar: UU Advokat Sudah Tak Ideal

PROFESI advokat memiliki peran besar dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan serta penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. Dalam melaksanakan kerja profesinya agar bisa bekerja secara profesional, para advokat diperkuat dengan keberadaan Undang-undang No. 28 Tahun 2003 Tentang Advokat. Dengan adanya UU Advokat itu profesi advokat semakin terpandang, terhormat serta disegani dalam kancah penegakan hukum dan keadilan.
Benarkah demikian? Benarkah UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat itu telah membuat profesi advokat menjadi profesi terpandang dan terhormat dalam pembangunan hukum serta penegakan hukum dan keadilan?

Advokat Deddy Suwadi Siregar SH, seorang advokat senior di Yogyakarta menyatakan di awal-awal kemunculannya dulu, UU Advokat memang telah memberikan pengaruh yang besar terhadap eksistensi profesi advokat. Di awal-awal kesannya sangat ideal. Tapi sekarang kesan itu sudah berubah.

“Keberadaan UU Advokat tersebut, terutama di awal-awal kehadirannya memang telah memperkuat eksistensi advokat sebagai profesi terhormat serta terpandang dalam proses pembangunan dan penegakan hukum. UU Advokat telah meletakkan advokat berada dalam posisi dan tanggung jawab yang sama dengan aparat penegak hukum lainnya. Tapi kesan hebat UU Advokat itu kini sudah berubah. Sudah tidak ideal lagi,” kata Deddy Suwadi Siregar ketika jumpa dengan penulis di kantornya Jl. Sawojajar, Pringgolayan, Condongcatur, Sleman, belum lama ini.

 

Perlu Perbaikan
Menurut Deddy, pada awalnya dulu UU Advokat yang merupakan payung hukum bagi profesi advokat memang terasa besar peran serta pengaruhnya dalam kewibawaan advokat. Tetapi seiring perkembangan waktu, dengan munculnya beragam persoalan hukum, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan di dalam kerja profesi advokat sendiri, kesan hebat dan idealnya sudah pudar.

“Sekarang kesan hebat dan ideal UU Advokat itu sudah pudar. Sudah lagi tak secemerlang dulu. Ya, kesan hebat dan ideal itu memang masih ada, walaupun pudar. Tapi bila tak segera dibenahi atau diperbaiki, bukan tidak mungkin kesan hebat dan ideal itu benar-benar hilang. Benar-benar musnah,” ujar Deddy Suwadi Siregar.
Deddy yang aktif dalam kepengurusan organisasi advokat seperti Peradi dan Ikadin ini berpendapat ada sejumlah hal di dalam UU Advokat itu yang perlu dibenahi, direvisi atau diperbaiki.
Ia mengambil contoh satu hal di antara sejumlah hal lainnya yang harus dibenahi atau direvisi, yakni tentang batas usia persyaratan menjadi advokat.
Sampai sekarang ini, menurut Deddy, akibat longgarnya perihal batasan usia untuk menjadi advokat, maka profesi advokat menjadi tak berwibawa lagi.

Simak juga:  Prinsip Dasar Manajemen Media Massa

“Kesan yang ada sekarang profesi advokat bagaikan profesi tak berwibawa. Kesan ini harus dihapus. Salah satu caranya dengan memberlakukan batas usia maksimal bagi seseorang yang ingin mendaftar menjadi advokat. Kalau sekarang terkesan mereka yang berusia 60 tahun ke atas masih bisa mendaftarkan dirinya untuk menjadi advokat. Dengan kata lain, lansia pun bisa mendaftar untuk menjadi advokat, asal bergelar Sarjana Hukum dan lulus ujian advokat. Hal seperti ini tidak ideal. Karena profesi ini seakan dijadikan lahan kerja atau lahan kehidupan di hari tua,” tandas Deddy.

Idealnya, lanjut Deddy Suwadi Siregar, usia maksimal seseorang yang ingin menjadi advokat harus dibatasi maksimal 50 tahun dan minimal 25 tahun. Jadi, kalau ada pendaftaran atau pelaksanaan ujian untuk menjadi advokat, maka yang boleh mendaftar maksimal berusia 50 tahun dan minimal 25 tahun.

“Bila profesi advokat benar-benar ingin menjadi profesi yang berwibawa, terhormat atau terpandang dalam proses kerja pembangunan serta penegakan hukum dan keadilan, maka hal seperti ini harus diperhatikan. Bila tidak ada perbaikan pada batas usia pendaftaran advokat, maka nantinya para lansia yang tetap ingin eksis bekerja akan berbondong-bondong mendaftar jadi advokat. Mari berikan lahan kerja di bidang hukum ini yang lebih luas lagi ke orang-orang muda yang potensial,” kata Deddy.

 

Bukan Profesi Sambilan
Sebagai seorang advokat senior, yang menekuni dunia profesi advokat sejak tahun 1991, Deddy memandang dan meyakini bahwa advokat merupakan profesi yang mulia dan bermartabat. Dalam kerja, advokat mengedepankan profesionalitas kerja yang berkualitas dan sungguh-sungguh. Bukan menggunakan profesionalitas kerja apa adanya atau asal-asalan saja.

Simak juga:  Advokat Harus Profesional, Tapi Jangan Lupakan Idealisme

“Setiap advokat harus mengedepankan dan menjunjung profesionalitas kerja yang tinggi. Jadikan advokat sebagai profesi yang utama, bukan hanya profesi sambilan atau sampingan. Advokat yang berkualitas dan profesional pasti tidak akan menempatkan atau menjadikan profesi advokat hanya sebagai profesi sambilan atau sampingan saja dalam kehidupannya. Jangan anggap advokat sebagai profesi sambilan atau sampingan. Jadikan advokat sebagai profesi yang utama dan bermartabat dalam kehidupan,” tegas Deddy.

Sejumlah langkah harus dilakukan, agar mereka yang ingin masuk ke lingkaran kerja profesi advokat tidak memandang atau memberlakukan kerja yang dijalaninya hanya sebagai kerja sambilan atau sampingan saja.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan agar kerja profesi advokat tidak hanya dijadikan kerja sambilan atau sampingan saja, menurut Deddy, adalah dengan pembatasan batas usia maksimal untuk mendaftar menjadi advokat.

“Nah, kalau batas usia maksimal untuk mendaftar menjadi advokat itu 50 tahun, maka sudah dapat dipastikan tidak akan ada yang beranggapan maupun berpendapat bahwa profesi advokat dijadikan profesi sambilan untuk sekadar mengisi aktivitas di hari tua,” kata Deddy Suwadi Siregar, yang sempat menjadi pengurus DPN Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) sebagai Korwil Peradi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan kini sebagai Ketua Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia) Cabang Sleman.
Deddy berharap, agar segenap advokat senantiasa menjaga harkat dan martabat profesi advokat, sebagai profesi yang berwibawa, bermartabat dan terhormat dalam pembangunan hukum serta penegakan hukum dan keadilan.

“Mari jadikan profesi advokat sebagai profesi yang sungguh-sungguh dalam kerja pembangunan hukum serta penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. Mari bekerja secara serius dan sungguh-sungguh sebagai advokat yang profesional dan berkualitas. Jangan bekerja secara asal-asalan, sampingan dan sambilan saja,” ujar Deddy Suwadi Siregar. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x