Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » “TikTok” Media Dakwah di Masa Pandemi Covid-19
Skrinsot (Ist)

“TikTok” Media Dakwah di Masa Pandemi Covid-19

KEHADIRAN media sosial telah membawa perubahan yang besar bagi kehidupan kita. Melalui media sosial kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dan mendapatkan informasi  dari berbagai belahan dunia. Bermodalkan jaringan internet dan smartphone kita sudah bisa mengakses media sosial kapan pun dan dimana pun. Dengan kemudahan tersebut, maka tidak heran jika saat ini media sosal seolah-olah telah menjadi kebutuhan bagi kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan. Pengguna media sosial juga semakin beragam. Remaja bahkan anak-anak nampaknya sudah mulai akrab dengan media sosial.

Pandemi Covid-19 juga membawa dampak bagi kehidupan kita. Kita yang terbiasa bekerja di luar, belajar di sekolah dengan teman-teman, dan melakukan banyak aktivitas lain diluar rumah kini dihimbau agar sebisa mungkin tetap dirumah. Tidak hanya untuk sehari atau dua hari, tapi hingga pandemi ini berakhir. Dengan kondisi tersebut, tentunya akan berpengaruh pada semakin meningkatnya penggunaan media sosial. Media sosial selain digunakan sebagai rujukan untuk memperoleh berita dan mencari informasi lainnya juga digunakan sebagai sarana hiburan untuk mengatasi kebosanan.

Ada beberapa media sosial yang berkembang pesat di Indonesia, diantaranya : Whatsapp, Facebook, Instagram , Twitter, dan yang saat ini sedang booming adalah TikTok. TikTok menjadi aplikasi yang banyak diminati selama masa pandemi. TikTok sendiri merupakan aplikasi video kreasi yang dilengkapi dengan fitur-fitur yang menarik. Cara membuat video di TikTok juga sangat mudah karena pengguna hanya perlu merekam video dengan durasi 15 hingga 60 detik kemudian bisa bebas memilih filter, lagu, font serta menambahkan efek agar tayangan video semakin menarik.

Dengan TikTok kita bisa membagikan video yang telah kita buat atau melihat video orang lain yang telah kita ikuti, juga video lainnya yang telah direkomendasikan untuk kita. Selain itu kita juga bisa berkomentar, melakukan duet, dan siaran langsung atau live. TikTok menjadi aplikasi yang saya rasa cocok bagi orang Indonesia yang memiliki rasa narsis dan kreatif yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan munculnya istilah Youtuber, Vlogger, Blogger, Instagrammer, dan kini TikToker.

Mengingat bahwa beberapa tahun yang lalu secara resmi TikTok diblokir oleh pemerintah Indonesia karena mengandung konten yang dinilai melanggar undangundang dan dinilai banyak dampak negatifnya kini TikTok hadir kembali dan mendapat sambutan yang baik oleh warga Indonesia. TikTok menetapkan batasan umur bagi penggunanya yaitu minimal 16 tahun dan menghapus konten konten negatif yang ada di dalam aplikasi tersebut. Kini, jenis konten yang ada di TikTok juga semakin beragam. Ada yang bernyanyi, menari, berbagi cerita, tutorial make up, memasak, melakukan challenge, memberikan tips, dan yang saat ini sering muncul di beranda TikTok saya yaitu konten dakwah.

Simak juga:  Berkarya dan Berkebun di Masa Pandemi

 

Konten Dakwah

Konten dakwah di TikTok merupakan hal yang menarik bagi saya. Konten dakwah yang pertama kali saya lihat di TikTok adalah konten dakwah dari pemilik akun TikTok @Husein Basyasman. Husein Basyasman telah mengubah kesan TikTok yang dinilai negatif menjadi lahan subur untuk berdakwah. Cara Husein Basyasman dalam berdakwah juga variatif. Videonya berisikan motivasi, hadits Nabi, kalam ulama’, fiqih dasar, serta hal hal yang berbau agama dan edukatif lainnya. Terkadang dia juga menjawab pertanyaan mengenai persoalan-persoalan agama dari followersnya. Karena videonya yang berhasil menembus beranda TikTok atau FYP kini Husein Basyasman telah memperoleh 1,8 juta followers.

Media sosial terutama TikTok bisa menjadi media yang tepat dan efektif untuk berdakwah. Dengan berdakwah melalui TikTok, tentunya sasarannya akan lebih luas mengingat bahwa pengguna TikTok berasal dari berbagai kalangan dan usia. Dakwah melalui media sosial seperti TikTok ini juga saya rasa lebih bisa diterima dengan baik dan ikhlas. Hal ini karena orang-orang yang memiliki akun TikTok dengan senang hati menerima ajaran agama yang disampaikan karena mereka melihat, mendengar, membaca apa yang memang mereka ingin lihat, dengar, dan baca sehingga akan dengan mudah menerima suatu ajaran.

Simak juga:  Asalkan Engkau Tak Marah Kepadaku

Berdakwah melalui TikTok bukanlah hal yang mudah. Karena kebanyakan pengguna TikTok adalah kaum millenial, maka harus memiliki strategi agar pesan dakwah bisa tersampaikan. Pemahaman mengenai agama, penggunaan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta pembahasan persoalan yang mengikuti zaman menjadi hal yang sangat penting.

Tidak banyak anak muda yang bisa memanfaatkan peluang dan memiliki semangat berdakwah sebagaimana Husein Basyasman. Dengan dakwahnya melalui TikTok, selain mendapatkan kebaikan kini Husein Basyasman mendapatkan popularitas sebagai bonusnya. Terlepas dari benar atau tidaknya rujukan yang digunakan Husein Basyasman dalam berdakwah, kita sebagai orang awam sebaiknya tidak menjadikan TikTok atau media sosial lainnya sebagai satu-satunya rujukan dalam belajar ilmu agama.

Kita tahu bahwasanya di balik sejuta manfaat pasti ada kerugian di dalamnya. Berdampak positif atau berdampak negatif media sosial adalah pilihan dari diri kita sendiri. Jika yang kita cari di media sosial adalah hal-hal yang positif maka yang akan kita lihat adalah hal-hal positif dan begitu sebaliknya. Melihat dari sisi positifnya, seorang da’i kini tidak perlu susah payah dalam menyebarkan ajaran agama Islam dan bisa membagikan ilmu agamanya melalui media sosial. Meskipun dikemas dalam bentuk yang berbeda, namun semangat berdakwah harus tetap sama. *** [Devya Ika Puteri]

 

         * Devya Ika Puteri, sekarang sedang menuntut ilmu di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x