Beranda » Sains & Tekno » Teknologi Melawan Covid-19
Ilustrasi. (net)

Teknologi Melawan Covid-19

PANDEMI Covid-19 sudah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia di seluruh pelosok negeri sejak Maret 2020 lalu. Sulit memang rasanya, berdamai dengan sosok virus yang tak kasat mata, namun dengan mudahnya melumpuhkan kehidupan normal manusia dalam sekejap mata. Mulai dari aspek pendidikan, para pelajar dan mahasiswa terpaksa harus menjalani pembelajaran jarak jauh dengan berbagai hambatan, seperti jaringan internet yang tak menentu, dan tingkat pemahaman yang berkurang apabila dibandingkan dengan pertemuan langsung di kelas.

Kemudian aspek ekonomi,  baik pengusaha skala besar maupun pengusaha skala kecil, semuanya terdampak dengan keberadaan virus ini. Bagaimana tidak? Pembatasan kegiatan bagi masyarakat luas, tentu menghambat terjadinya aktivitas ekonomi, terutama bagi usaha kecil yang mengandalkan konsumen harian. Aspek dakwah pun tak ketinggalan menjadi bagian terdampak dari pandemi ini, kegiatan dakwah yang mulanya dapat diadakan secara face to face dalam pertemuan partai besar, kini harus banyak dikurangi demi mencegah penyebaran virus. Hingga saat ini, kehidupan masih belum pulih sepenuhnya karena covid-19 masih belum juga terkendali dengan baik.

Untungnya, telah banyak ditemukan teknologi yang membantu kita melewati pandemi dengan sedikit lebih mudah. Fitur video call yang semakin mudah diakses, menjadi alternatif untuk menghubungi sanak saudara yang tidak dapat ditemui secara langsung selama pandemi. Silaturahmi secara langsung, saat ini menjadi hal yang dikurangi pelaksanaannya karena imbauan untuk tetap di rumah masing-masing, namun dengan video call kita tetap dapat bersilaturahmi secara virtual.

Ramadhan lalu, suasana Ramadhan sedikit pudar karena kegiatan yang biasanya dilakukan selama Ramadhan seperti buka dan tarawih bersama ditiadakan, bahkan Shalat Eid juga terpaksa dilakukan dari rumah masing-masing. Namun, dengan adanya teknologi, kegiatan tersebut dapat diwakilkan secara virtual, seperti adanya kegiatan buka bersama virtual yang ramai dilakukan pada bulan Ramadhan lalu.

Meskipun dilakukan dengan menu yang ada di rumah masing-masing, namun adanya perbincangan dengan sanak atau kawan itulah yang menghidupkan suasana buka bersama tersebut. Setidaknya, ketika kita tidak dapat bertemu langsung, tetap masih ada alternatif untuk bertemu dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

        

Media Sosial

Teknologi inilah yang juga membantu kegiatan dakwah selama pandemi, dakwah yang semula terkotakkan dalam bayangan pertemuan banyak orang dalam waktu dan tempat yang sama perlahan bergeser. Media Sosial salah satunya, banyak sekali orang yang memanfaatkan penyebaran pesan-pesan kebaikan melalui platform-platform media sosial yang sangat berkembang saat ini. Platform yang saat ini berkembang sangat pesat adalah Youtube, terlebih dengan adanya pandemi, jumlah pengguna Youtube meningkat sebesar 20 persen.

Tak dipungkiri, menonton tayangan youtube memang menarik dan banyak manfaat yang dapat kita dapatkan apabila kita pandai memilih konten yang mengedukasi, seperti konten dakwah yang banyak diunggah oleh para da’i Indonesia. Sebut saja, Ustadz Abdul Somad yang channel Youtube pribadinya telah mencapai satu juta subscriber dengan 900 lebih video di channelnya. Kini, orang yang ingin mendengarkan ceramahnya, cukup membuka aplikasi youtube dan mengetikkan namanya di pencarian, kemudian membuka videonya dan sudah dapat mendapat ilmu dari video tersebut. Sehingga, selama pandemi belum berakhir, alternatif ini dapat meminimalisir pertemuan besar untuk mendengarkan ceramah beliau.

Youtube juga memiliki fitur live stream yang dapat dimanfaatkan untuk menyiarkan langsung suatu acara sehingga orang yang tidak datang langsung ke acara tersebut tetap dapat menontonnya secara daring. Dengan bermacamnya konten yang ada di youtube, juga fitur-fitur yang tersedia, membuat youtube menjadi pilihan bagi banyak orang untuk menemani hari-hari mereka, terlebih pada situasi pandemi seperti sekarang. Pernyataan youtube lebih dari TV juga seolah benar adanya karena saat ini artis televisi pun banyak yang merambah dunia youtube, untuk membagikan kisah hidupnya kepada masyarakat yang ingin lebih tahu banyak tentang mereka.

Simak juga:  Bahaya Abu GunungApi terhadap Kesehatan

Untuk itu, banyak pemuka agama yang akhirnya memanfaatkan Youtube dengan tujuan mensyiarkan agama Islam melalui teknologi yang saat ini sedang digandrungi. Inilah salah satu cara untuk ikut andil dalam mewarnai media dengan nilai-nilai keislaman yang menunjukkan bahwa Islam itu indah dan mengayomi. Pemanfaatan Youtube sebagai sarana untuk berdakwah sangat membantu dalam masa pandemi ini, seseorang tetap dapat membagikan pengetahuannya meskipun tidak ada pertemuan langsung dengan jamaahnya. Karenanya, perkembangan teknologi memang sebuah keuntungan bagi banyak pihak, termasuk para pembelajar dan para dai.

Selain youtube, saat ini juga tersedia aplikasi konferensi video yang memungkinkan adanya percakapan dua pihak yaitu dari narasumber dan peserta konferensi. Sedikit berbeda dengan youtube yang menyediakan wadah untuk mengunggah video yang hanya bisa ditonton dan kemudian dikomentari secara tertulis, aplikasi konferensi video memungkinkan peserta juga berbicara dalam forum virtual tersebut.

Aplikasi zoom salah satunya. Aplikasi zoom banyak digunakan untuk kegiatan perkuliahan, sehingga dapat dipastikan bahwa mahasiswa benar-benar mengikuti perkuliahan. Melalui zoom, mahasiswa juga tidak kehilangan kesempatan untuk belajar dari dosen dan bertanya langsung apabila ada yang belum dipahami. Hal ini kemudian banyak dimanfaatkan oleh penyelenggara acara untuk mengadakan seminar secara virtual atau kemudian banyak disebut sebagai webinar.

Melalui aplikasi ini penyelenggara dapat menghadirkan narasumber yang luar biasa dan mempertemukannya dengan peserta yang ingin belajar suatu ilmu dari narasumber tersebut, namun tanpa harus mengumpulkan banyak peserta dan narasumber dalam ruang yang sama. Narasumber, penyelenggara, dan peserta, masing-masing tetap berada di rumah masing-masing namun tetap dapat terlaksana seminar dan tetap tejadi pertukaran informasi dan ilmu antara dua pihak tersebut.

 

Kalis Mardiasih        

Salah satu orang yang saya kagumi, sering membagikan ilmunya melalui banyak webinar yang diselenggarakan oleh berbagai macam instansi, namanya, Kalis Mardiasih. Ia seorang wanita muda yang sangat memperhatikan tentang kesejahteraan perempuan Indonesia, termasuk dalam memperjuangkan hak-hak para korban dari kejahatan pelecehan seksual yang masih sering dianggap bukan permasalahan serius oleh pemangku jabatan di Indonesia.

Kalis banyak memberikan pengetahuan mengenai gender dan konsen melalui tulisan-tulisannya baik di buku maupun di media sosialnya, juga melalui webinar-webinar yang membicarakan tentang perempuan dan gender. Ia juga sering membagikan pendapatnya tentang feminisme dan bagaimana peran wanita dalam masyarakat yang tidak kalah signifikan dengan peran laki-laki.

Selain itu, Kalis juga menginspirasi saya untuk menjadi seorang muslimah yang berani mengutarakan pendapat dan saling mendukung sesama muslimah dan sesama wanita untuk hidup berdampingan di Indonesia. Ia juga memotivasi saya untuk terus belajar sehingga saya mampu menjadi seorang wanita yang berdiri di atas kaki saya sendiri, namun juga tetap dapat menghormati sekitar saya tanpa merasa lebih dari orang lain.

Simak juga:  IATA Mengembangkan Aplikasi Seluler di Era COVID-19

Selama pandemi, saya juga banyak mengikuti webinar-webinar yang diselenggarakan oleh instansi-instansi yang mengundang tokoh-tokoh hebat. Kebanyakan saya mengikuti webinar tentang tips-tips kuliah di Luar Negeri yang menghadirkan para awardee beasiswa seperti LPDP, Chevening, dan Erasmus. Selain itu, saya juga banyak mengikuti webinar tentang pengembangan diri dan persiapan tentang dunia kerja maupun webinar yang membahas tentang hal-hal inspiratif yang telah dilakukan oleh para narasumber.

Menurut saya, webinar-webinar seperti ini juga dapat disebut sebagai pemanfaatan teknologi untuk berdakwah meskipun tidak harus selalu membahas tentang hal yang terkait langsung dengan keagamaan. Webinar yang inspiratif dan mengajak orang untuk memperbaiki diri serta berbuat baik terhadap sesama juga sudah menyampaikan pesan-pesan kebaikan yang artinya mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar.

Kemudian, ada juga podcast, yaitu hasil rekaman audio yang dapat didengarkan oleh khalayak ramai dengan topik tertentu yang dibawakan oleh podcaster. Podcast memiliki banyak pilihan topik diskusi mulai dari yang ringan hingga topik diskusi serius, podcast juga mulai dijadikan sarana untuk berdakwah dengan menyajikan topik keagamaan dengan pengemasan yang menarik. Podcast memungkinkan pendengarnya untuk dapat mendengarkannya berulang kali sehingga pendengar dapat menyesuaikan waktu untuk mendengarkannya dengan waktu luangnya. 

 

Terobosan Baru

Hal ini juga menjadi terobosan baru dalam berdakwah di era pandemi, sebagaimana dilakukan oleh Pondok Pesantren Lirboyo yang memanfaatkan podcast untuk berdakwah. Mereka memilih podcast agar ceramah tidak hanya berlangsung satu arah namun lebih terasa seperti dialog, dengan pembahasan permasalahan sehari-hari dan narasumber yang merupakan tokoh yang ahli di bidang tertentu. Podcast ini dimulai semasa pandemi, bermula dari kegiatan dakwah yang terpaksa berhenti karena adanya larangan untuk mengumpulkan massa di satu tempat yang sama, sehingga muncullah ide untuk berdakwah dengan memanfaatkan teknologi yang ada. 

Selain youtube, aplikasi konferensi video, dan podcast, teknologi juga menyediakan berbagai macam media sosial yang memungkinkan orang-orang untuk berbagi kebaikan melalui laman media sosial pribadi mereka. Instagram, Facebook, Twitter, dapat dijadikan media untuk membagiakan pengetahuan dan pendapat seseorang tentang suatu topik yang kemudian dapat memancing terjadinya diskusi. Meskipun tetap harus berhati-hati saat menggunakan media sosial, karena tidak semua hal yang dibagikan di media sosial merupakan hal yang benar.

Namun, setidaknya, dengan semakin banyaknya teknologi yang memungkinkan satu orang berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung, menjadikan dakwah era pandemi ini sangat terbantu. Karenanya, penting bagi kita untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi agar kita terus dapat memanfaatkan teknologi untuk mengajak kepada kebaikan dan menyebarkan nilai-nilai keislaman.  *** [Alifah Qonitah Imtinan]

        

          * Alifah Qonitah Imtinan, putri terakhir dari empat bersaudara yang lahir di kota kecil di Jawa Tengah, 21 tahun silam. Saat ini tengah menempuh pendidikan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri SunanKalijaga Yogyakarta, sebagai mahasiswi Program Studi  Komunikasi dan Penyiaran Islam. Ia juga berkecimpung di televisi komunitas kampus, Sunan Kalijaga Televisi (Suka TV). Memiliki hobi menyanyi dan memasak. Gemar menonton film, khususnya untuk genre drama dan science-fiction.  Belakangan, gadis ini memiliki ketertarikan di dunia menulis dan voice over.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x