Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Tantangan Dakwah Dalam Dunia Pendidikan di Tengah Pandemi
Kegiatan belajar secara luring, dilaksanakan di rumah salah satu siswa. (Ist)

Tantangan Dakwah Dalam Dunia Pendidikan di Tengah Pandemi

HARI-HARI berlalu begitu saja dengan kesan dan pesan, dengan suka dan duka, dengan hiasan warna-warni. Itulah yang dapat menggambarkan waktu ke waktu itu di masa pandemi Covid-19, tidak hanya pengusaha besar yang mengalami kesulitan melainkan para petani, rakyat kecil, dan tenaga pengajar juga merasakan nasib yang sama. Adakalanya kehidupan tidak berjalan sesuai dengan rencana manusia, siapa sangka hal yang amat mengerikan bahkan tidak pernah terlintas di pikiran kita mendekat dan ada di sekitar kita bahkan saat ini kita merasakan hal itu. Sesuatu yang tidak tampak tetapi kehadirannya berdampak kepada seluruh tatanan kehidupan. Insan manusia kini dihadapkan dengan kenyataan yang pahit, mengalami kebangkrutan, kehilangan karib saudara, kehilangan pekerjaan, susutnya semangat tholabulilmi atau menuntut ilmu, terbatasnya untuk saling bersilahturahmi secara langsung, dan terbatasnya mengikuti majelis ilmu seperti biasanya.

Dari musim kemarau hingga musim penghujan, keadaan belum juga membaik. Banyak yang merindukan kegiatan di luar rumah seperti bersekolah, bekerja di tempat atau di lapangan, bermain bersama teman-teman, bercengkrama satu sama lain tanpa ada rambu-rambu kesehatan. Harapan-harapan yang kini diinginkan insan manusia adalah keadaan yang kian membaik, pulih dan sehat kembali. Banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang dirasakan contohnya di dalam tatanan pendidikan tidak hanya orang tua yang merasakan kegusaran dan kepanikan karena sebagian waktunya disita untuk menemani anaknya serta juga menjadi guru.

Hal itu dirasakan tidak hanya satu atau dua Ibu melainkan seluruh ibu-ibu yang ada di Indonesia. Fenomena baru ini membuat ibu-ibu kewalahan karena dalam keadaan pandemi Covid-19 Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk seluruh instansi Pendidikan menerapkan belajar secara daring atau dalam jaringan. Hal itulah yang menjadi hambatan bagi orang tua anak yang memiliki ketertinggalan menguasai kemajuan teknologi.

        

Orang Tua Ikut Belajar

Lantas, tidak hanya anak-anak didik saja yang belajar, namun orang tua pun ikut belajar mengenal dan memahami bagaimana menggunakan gadget yang biasanya hanya di gunakan untuk update status di Facebook. Kini orang tua memiliki kelebihan dari biasanya yaitu bisa mengoperasikan gadget dengan baik dan benar. Meskipun melalui beberapa tahap yang membuat diri jengkel, geram dan emosi. Karena pasalnya banyak ibu yang gaptek, dan hal itu dijadikan alasan utama mereka mengapa mengeluh saat guru di sekolah mengirim tugas kepada anak-anaknya, apalagi sampai membuat tugas video dengan taburan animasi.

Tak sampai di situ bicara mengenai pembelajaran daring adapun kendala yang sangat krusial adalah mengenai  jaringan atau signal yang hadirnya ada dan tiada padahal ia sangat dibutuhkan kehadirannya. Karena penerapan belajar daring tidak hanya di kota saja, maka penduduk desa dengan kapasitas jaringan yang berbeda jauh dengan di kota menyebabkan keresahan tersendiri. Bahkan sampai ada yang naik ke atas pohon. Dan saya sendiri pun ketika ada kendala jaringan atau signal selalu hijrah ke kampung sebelah, yang jaraknya juga bukan main-main.

Maka dari itu menuntut ilmu di massa pandemi Covid-19 tidak hanya menguras kesabaran tetapi juga menguras keuangan. Tetapi betapa beruntungnya dan istimewanya kita apabila di tengah keterbatasan melanda semangat untuk menuntut ilmu masih tetap membara.  Karena terdapat Dalam sebuah Hadis disebutkan tentang keutamaan mempelajari ilmu pengetahuan dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Simak juga:  Berbincang dengan Buku: Bung Karno dan Bung Hatta

Gelisah Guru

Tenaga pendidik atau tenaga pengajar seperti guru di seluruh Indonesia merasakan hal yang sama, yaitu mengajar dari rumah ke rumah dan tetap datang ke sekolah untuk mempertanggung-jawabkan amanah yang diembannya. Meskipun agaknya sedramatis ini, tapi inilah kenyataan yang harus sama-sama kita hadapi. Pagi dengan tatapannya yang sendu di penghujung  tahun, tidak hanya penuh harapan agar bumi cepat sehat dan pulih kembali dari wabah Covid-19, namun keadaan juga normal seperti sebelum semua ini terjadi.

Guru merupakan orang yang sangat berjasa dalam pendidikan, namun bagaimana jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini? Apakah jasa guru tetap sama atau tidak dianggap bahkan juga dicemooh. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah, selain harus memiliki kesabaran yang lebih guru juga harus memiliki mental yang kuat. Apabila menghadapi orang tua yang ngeyel, maka guru secara sadar harus bisa menempatkan diri dengan sebaik-baiknya. Contohnya adalah proses kegiatan belajar dan mengajar menuai pendapat yang berbeda-beda. Ada orang tua yang berprinsip wabah Covid ini tidak ada.

 Ada pendapat lain, yang beranggapan ya tidak apa-apa sekolah dengan sistem daring tetapi pada kenyataannya bukan mengikuti sekolah malah anaknya dibiarkan main ke sana kemari tidak mengerjakan tugas yang sudah diberikan. Anggapan remeh dan kurangnya edukasi mengenai bahaya penyebaran Covid-19 memanglah hanya menjadi sebuah kata yang tak bermakna bagi sebagian masyarakat desa. Dengan dalih, kita ini tinggal di desa, mana ada virus seperti itu.

Padahal Dinas Kesehatan dan seluruh perangkat desa selalu menghimbau keras bagi siapa pun pelanggarnya akan dikenai sanksi, hal itu bahkan hanya dianggap angin lalu begitu saja. Kesedihan lainnya adalah ketika anak-anak siswa biasanya belajar menggunakan meja dan kursi, kini anak-anak siswa belajar dengan duduk, bahkan ada yang sambil tidur-tiduran karena agaknya susah untuk menulis sambil membungkuk. Dan guru yang mendampinginya pun hanya dapat mengiyakan anak-anak agar tidak menghambat semangat mereka untuk tetap bersekolah.

 Dari keluhan-keluhan itulah pemerintahan setempat menetapkan untuk belajar luring di samping belajar daring. Contohnya kegiatan belajar luring adalah dengan belajar tatap muka, namun tetap ada pengawasan dan tentunya sesuai dengan protokol kesehatan.            Sehingga untuk menjauhi kerumunan, guru-guru di SD Negeri 115490 Purworejo di Sumatera Utara, memecah anak menjadi beberapa kelompok untuk meminimalisir anak-anak yang mulai jenuh belajar di rumah, guru-guru meminta izin kepada Kepala Kedinasan setempat untuk izin bersekolah luring atau luar jaringan. Sekolah luring atau luar jaringan dilakukan di salah satu rumah siswa dan juga tetap mematuhi protokol kesehatan.   Alasannya sebagian guru menyepakati belajar luring, karena apabila yang diajari guru merupakan murid dari kelas rendah yang membutuhkan bimbingan secara langsung, diharapkan tidak terkendala dalam proses kegiatan belajar seperti dengan malas membaca. Alhasil ketika belajar daring selama seminggu sangat tampak nyata dampaknya yaitu anak-anak didik mulai kehilangan semangat dalam belajar.

Simak juga:  Kisah Inspiratif: Dakwah Penjual Kerupuk Tenggiri

Ibu saya merupakan salah satu guru di sekolah tempatnya mengajar, maka dengan  keteguhannya sebagai tenaga pendidik. Ibu Supriyatun, Ibu saya itu,  merupakan tenaga guru honorer yang biasa di panggil Bu Atun. Ia bertanggung jawab untuk datang ke rumah-rumah anak didiknya, dan telah dilakukannya beberapa bulan terakhir. Jarak yang ditempuhnya tidaklah dekat, meskipun begitu, dijalani dengan keikhlasan hati dan ketabahan.

Ibu biasa berangkat pagi, dan saya antar setiap paginya karena Ibu tidak bisa mengendarai sepeda motor. Tantangan dan rintangan pun setiap pagi terlalui, karena jarak yang tak dekat,  serta kondisi jalan kampung yang tak mulus. Licin, tanah yang dilewati mobil bermuatan buah kelapa sawit membuat jalan hancur dan susah dilalui. Namun itulah amanah. Sekalipun sangat sulit dan susah, kita harus mempertanggung-jawabkannya. Dan menjadi guru adalah siap juga menjadi teladan yang baik untuk anak-anak yang didiknya. Bagaimana tidak, guru itu untuk digugu dan ditiru. Sesuai dalam Al-Quran surah As-shaf:3 yang artinya “Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Maka dari itu, menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Sudah melakukan yang terbaik, namun harus tetap ada evaluasi yang dilakukan setelahnya. Dalam menyebarkan kebaikan hal itu disebut dakwah, maka tak asing bila seorang guru dalam agama Islam di sebut Ustad-ustadzah. Setiap tindak tanduknya selalu diperhatikan siswanya, setiap perkataannya selalu menjadi contoh baik bagi anak didiknya.

 

Tantangan Guru

Tak hanya itu menjadi guru juga harus bisa menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan ayat yang di atas dijelaskan bahwa bagaimana bisa kita berkata yang baik-baik, namun kita sendiri tidak sapat menerapkannya. Dalam keadaan saat seperti ini tantangan guru menjadi berlipat-lipat meskipun cacian dan makian dari orang tua wali silih berganti.

Bunyi cacian itu seperti tak layak terlintas, tapi pada kenyataan sebaik apa pun kita berbuat akan tetap salah di mata manusia yang hanya melihat sisi luarnya saja. Berdakwah juga begitu, dalam menebarkan kebaikan Rasulullah SAW bahkan tak dapat menghindarkan kaum yang amat membencinya dan membenci ajaran yang dibawanya. Namun dengan keikhlasan Rasulullah dalam menyebarkannya, bahkan kini sampai kita dapat mencicipi kemanisannya. Dapat beribadah secara terang-terangan, dapat mengatakan agamaku Islam tanpa harus bersembunyi-bunyi.

Terlepas dari semua ini ada baiknya kita sebagai hamba untuk senantiasa bersyukur dalam keadaan apa pun. Setiap ujian dan cobaan adalah bumbu-bumbu dalam kehidupan. Apakah kita sebagai manusia mampu melewatinya atau malah menyerah sebelum berjuang, maka kita punya tanggung jawab yang besar untuk kehidupan ini. Sudah Selayaknya kita saling membantu, saling mengepalkan tangan dan saling support satu sama lain. Di dalam keadaan pandemi Covid-19 tidak ada lagi perbedaan mana si kaya dan mana si miskin. Kita sama-sama saling membutuhkan yang kaya membantu yang miskin, yang miskin pun sebaliknya.

Sebagai makhluk insan yang beriman, ujian dan cobaan akan selalu datang membersamai dalam setiap perjalanan kehidupan. Semoga keadaan kian membaik dan tetap bersemangat untuk menuntut ilmu meski pun dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. *** [Mela Tri Wahyuni]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x