Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » Suasana Berbeda Saat Malam Takbiran di Kota Kupang
Pawai obor dalam malam takbiran di kota Kupang, tak terjadi pada Lebaran 2020 karena Covid-19. (Ist)

Suasana Berbeda Saat Malam Takbiran di Kota Kupang

SAAT ini dunia dilanda krisis akibat munculnya Covid-19 dan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat. Dakwah pada dasarnya adalah suatu kebutuhan bagi umat Islam. Dakwah merupakan salah satu cara untuk menyapaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat. Terjadi transformasi dalam kegiatan dakwah sejak masa pandemi.         

Perubahan tersebut yang biasanya dilakukan secara klasik atau tatap muka antara dai dan mad’u sekarang bertransformasi berubah melalui platform media sosial daring yang tersedia. Jika dikaitkan dengan perubahan era informasi yang semakin kompleks, maka banyak masalah yang harus dihadapi dan perlu penyelesain melalui pesan-pesan dakwah. Oleh karena itu, sebagai dai penting untuk mengetahui dan mengoperasikan platform media daring berbasis virtual untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat khalayak. Materi-materi yang disampaikan berkaitan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.

Sejatinya dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan kebaikan. Tujuan menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat, baik kepada yang Muslim maupun non-muslim adalah agar terjadi perubahan pada diri secara spritual. Keberhasilan dakwah sebagai kegiatan meyampaikan pesan-pesan kebaikan ketika perilaku keseharian masyarakat berubah baik secara pribadi maupun secara kolektif.

 

Dakwah di Kota Kupang

Seiring terjadinya perubahan kehidupan masyarakat yang serba mengandalkan teknologi berbasis media online, secara otomatis kegiatan dakwah juga ikut terpengaruh. Kegiatan dakwah yang biasanya dilakukan secara tatap muka bersama mad’u sekarang berubah melalui perantara media sosial atau media online yang lainnya yang dinilai cukup efektif untuk melakukan kegiatan dakwah, salah satunya terjadi di kota Kupang.

Kota Kupang adalah sebuah Kotamadya dan sekaligus ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur [NTT], Indonesia. Kotamadya ini adalah kota yang terbesar di Pulau Timor yang terletak di pesisir Teluk Kupang, bagian barat laut Pulau Timor. Sebagai kota terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang dipenuhi oleh berbagai suku bangsa. Suku yang signifikan jumlahnya di Kota Kupang adalah suku Timor, Rote, Sabu, Tionghoa, Flores dan sebagian kecil pendatang dari Bugis dan Jawa.

Pola penerapan kehidupan sosial di Kota Kupang dan NTT itulah, provinsi seribu nusa itu didapuk sebagai provinsi paling toleran antarumat beragama di dunia. Penghargaan yang didapat provinsi itu tentunya tak lepas dari pola penerapan kehidupan sosial kemasyarakatannya. Setidaknya pola saling menghormati dan menghargai sebagai sesama itulah yang telah mendorong kehidupan keagamaan di daerah ini berjalan aman dan damai. Saling menghormati dan menghargai sebagai sesama pemeluk agama dan agama lainnya, terwujud dari aksi saling membantu menjaga keamanan di setiap perayaan hari besar keagamaan. Namun semua itu terasa berbeda saat Idul Fitri tahun 2020 lalu. Tradisi yang selama ini harus tidak dilaksanakan dikarenakan pandemi Covid-19 atau Corona. Tradisi tersebut adalah konvoi saat malam takbiran.

“Sepi, iya begitulah suasana di Sabtu 23 Mei 2020 selepas Magrib di Kota Kupang. Suara takbir terdengar bersahutan dari sejumlah masjid. Hanya itu yang terjadi di malam sambut Idul Fitri 1441 Hijriah ini. Tak lazim suasana itu terjadi. Pada waktu-waktu sebelumnya, semarak Idul Fitri di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu meriah. Pawai takbiran selalu dilakukan mengelilingi kota. Meriah dan penuh kisah,” ujar Muis, salah seorang tokoh pemuda Muslim di Kupang.

Nilai toleransi menjadi kisah terselip dari keriuhan dan keramaian di malam takbiran saban tahun sebelumnya itu. Tapi malam tadi tak demikian. Tak ada pawai keliling kota. Jalanan kota sepi. Ya, sepi. Semuanya karen ada Covid-19.

Sedih karena lebaran kali ini sepi tanpa keluarga. Lebaran yang dimaknai merayakan kemenangan itu harusnya dirayakan bersama seluruh keluarga, handai taulan, kerabat dan sahabat.

“Tapi kali ini tanpa mereka. Sepi dan sedih,” tutur Muis.

Menyambut lebaran di Kota Kupang yang saban tahun juga dijadikan sebagai momentum pererat persaudaraan lintas iman dalam merawat toleransi kehidupan keagamaan pun tak terjadi.

“Karena semuanya dilakukan di rumah,” katanya.

Kondisi berlebaran di rumah saja saat ini, lanjut mantan Ketua GP Ansor NTT itu menjadi sejarah baru bagi kehidupan umat manusia sejagat. Dan ini akan menjadi catatan kisah dalam perjalanan umat manusia di zaman ini. Dan tentu suasana ini telah memberi sebuah kesedihan bagi umat.

Kesedihan tidak bisa bersama ini sejak Ramadhan sampai lebaran bahkan pasca lebaran nanti. Lebaran seharusnya menggapai kemenangan bersama-sama, namun akhirnya harus ikhlas dalam kesendirian hanya dengan keluarga kecil di rumah kecil ini.

Dia juga mengaku bahagia karena situasi pandemi dengan kondisi ekonomi yang agak terganggu namun kewajibannya untuk berbagi masih bisa dilalukan melalui zakat fitra, infaq dan sedekah.

“Ya saya bahagia karena dalam momentum lebaran kali ini, walaupun masih pandemi masih bisa berbagi melalui zakat fitrah, infaq dan sedekah padahal secara ekonomi masih sulit-sulitnya,” katanya.

Muis berharap momentum lebaran di rumah saat ini akan menjadi doa bersama semua keluarga NTT agar pandemi ini segera berakhir.

“Kita rindu suasana sebelum pandemi. Kita rindu kembali suasana harmonisasi nada keberagaman saat bersama meraih kemenangan melalui Halal Bi Halal bersama di level pemerintah, organisasi kepemudaan lintas agama, dan organisasi kemasyarakatan. *** [Muhammad Ma’ruf Hidayatullah]

 

* Muhammad Ma’ruf Hidayatullah, lahir di kota yang dijuluki “kota kasih” yakni Kupang, NTT, pada 11 Mei 2000. Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga aktif mengikuti organisasi di kampus dan menyukai dunia olahraga, terkhusus  futsal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x