Jumat , 7 Mei 2021
Beranda » Humaniora » Semangat Beribadah Masyarakat Mrincingan di Masa Pandemi
Kondisi jamaah sholat Idul Fitri di Masjid Al Kautsar saat masa pandemi. (Ist)

Semangat Beribadah Masyarakat Mrincingan di Masa Pandemi

SEJAK ditetapkannya sebagai masa pandemi Covid-19 pada bulan Maret 2020 lalu, Indonesia lantas mengambil langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar atau yang lebih familiar disebut PSBB. Banyak sektor yang terdampak dari langkah PSBB yang diambil oleh pemerintah ini, baik dari sektor ekonomi, politik, hingga pariwisata. Masyarakat maupun pemerintah terkaget-kaget dengan adaptasi dalam suasana PSBB. Dari yang awalnya bisa bebas bepergian hingga ke luar kota maupun luar negeri tanpa harus merasa takut dan khawatir, kini mau tak mau harus menunda sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Bahkan jika terpaksa keluar rumah pun mau tidak mau harus mematuhi protokol kesehatan yang berlaku sebagai langkah preventif agar tidak terpapar virus Covid-19.

Dengan ditetapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar, sektor pariwisata dan ekonomi menjadi sangat terpuruk karena berkurangnya wisatawan ke Indonesia secara drastis. Banyak tempat wisata maupun tempat umum yang ditutup akibat aturan PSBB yang diberlakukan sesuai aturan dari pemerintah. Akibatnya, ekonomi masyarakat sekitar yang sehari-harinya bergantung pada penghasilan dari tempat wisata tersebut mendadak turun drastis bahkan terhenti sama sekali. Dari yang semula penghasilannya tidak menentu dalam sehari dan hari berikutnya, semenjak PSBB diberlakukan semakin tidak menentu pula penghasilannya.

Media surat kabar maupun elektronik banyak menayangkan kabar duka terkait Covid-19 ini. Mulai dari jumlah pasien yang positif terkena virus Corona yang semakin meningkat setiap harinya, hingga berita mengenai masyarakat menengah ke bawah dari berbagai daerah yang merasa tercekik di masa pandemi ini. Tak jarang, kericuhan di kancah politik yang semakin memanas dalam merebutkan kursi pemerintahan turut mewarnai kacaunya negeri ini. Tak jarang pula, pada masa pandemi ini banyak terlahir keputusan-keputusan dari Pemerintah yang dirasa memberatkan bagi rakyat, tetapi menguntungkan pihak-pihak pejabat. Rupanya benar kata orang-orang pada zaman dahulu, manusia akan mulai menampakkan sifat aslinya yang serakah dan tidak pernah bisa puas pada masa paceklik seperti saat ini.

Dampak buruk yang dialami oleh sebagian sektor ternyata juga berakibat pada tempat-tempat ibadah yang melibatkan banyak orang dalam peribadatannya terpaksa ditutup untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 ini. Satu di antaranya adalah masjid sebagai tempat beribadahnya umat Muslim, yang dalam satu harinya dipakai untuk sembahyang selama lima kali. Tentu memberikan pengaruh yang begitu dirasakan oleh masyarakat di sekitar masjid tersebut. Tidak lagi bisa bebas bepergian ke masjid untuk beribadah karena beberapa masjid terpaksa ditutup sesuai anjuran dari pemerintah. Meskipun dalam beberapa hari sekali disemprot disinfektan, terdapat beberapa pengecualian wajib bagi masyarakat yang benar-benar memaksakan diri tetap membuka masjid untuk digunakan beribadah.

Simak juga:  Tantangan Dakwah Dalam Dunia Pendidikan di Tengah Pandemi

Syarat utama diperbolehkannya masyarakat tetap beribadah di masjid adalah berada dalam kondisi sehat, tidak sedang flu maupun batuk, menggunakan masker, membawa perlengkapan ibadah sendiri dari rumah baik mukena, sajadah, maupun sarung bagi laki-laki, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer ketika akan memasuki kawasan masjid, menjaga jarak ketika berada di dalam masjid, dan tidak melakukan aktivitas bersentuhan kulit dengan kulit seperti bersalaman, cipika-cipiki, maupun berpelukan. Aturan dari pemerintah pun membatasi usia masyarakat yang diperbolehkan melaksanakan ibada di masjid, bagi lansia dan anak-anak lebih disarankan untuk tetap berada di rumah, sedangkan bagi remaja dan orang dewasa diperbolehkan melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

 

Masjid Al  Kautsar

Satu di antara banyaknya masjid di Kabupaten Sleman, bahkan di lingkup Kecamatan Seyegan, Masjid Al Kautsar Mrincingan adalah masjid yang menerapkan aturan demikian. Protokol kesehatan di masjid ini sangat ketat. Di dekat gerbang utama masjid terdapat wastafel beserta sabun untuk mencuci tangan sebelum masuk ke kawasan masjid. Saat melewati serambi masjid untuk masuk ke masjidnya juga disediakan hand sanitizer.

Dalam pelaksanaan ibadahnya pun Masjid Al Kautsar Mrincingan tetap mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus Covid-19 dari pemerintah, seperti menjaga jarak antar jamaah, memakai masker saat sholat, dan tidak melakukan aktivitas bersentuhan dengan jamaah lain. Ketika sholat Hari Raya Idul Fitri pun masyarakat Mrincingan memutuskan untuk tetap melaksanakan ibadah sholat Ied di masjid. Pada hari raya sebelum-sebelumnya, masyarakat Dusun Mrincingan mengikuti sholat Ied di Lapangan Margomulyo. Mengingat kondisi sedang berada di masa pandemi, lapangan ditutup untuk mencegah penyebaran virus, dan sholat Ied dilaksanakan di masjid masing-masing dusun maupun berjamaah bersama keluarga di rumah.

Masa pandemi tidak menyurutkan semangat warga Mrincingan untuk tetap beribadah di masjid. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, masyarakat berbondong-bondong tetap melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Tidak hanya dari kalangan remaja maupun orang dewasa saja yang tetap memakmurkan masjid saat masa pandemi. Santri-santri TPA Al Kautsar tidak ketinggalan turut mewarnai masjid dengan keceriaan khas anak-anak. Meskipun kegiatan belajar mengajar di TPA sempat terhenti pada bulan Maret hingga pertengahan Juli 2020, semangat santri-santri maupun ustadz-ustadzah tetap membaradalam menghidupkan kembali kegiatan TPA pada bulan Agustus lalu. Baik ustadz-ustadzah maupun para santri sangat antusias dalam menyambut bangkitnya kembali kegiatan belajar mengajar di TPA Al Kautsar.

Simak juga:  Bung Karno dan Pancasila (3) : Demokrasi Kita, Bukan Demokrasi Barat

Kembali diadakannya kegiatan belajar mengajar di TPA karena mempertimbangkan keluhan santri-santri yang merasa bosan berada di rumah terlalu lama. Sedangkan dari para orang tua mengeluh kesulitan dalam menghadapi anaknya yang justru lebih banyak melakukan kegiatan bermain daripada belajar di rumah sesuai anjuran pemerintah. Akhirnya pihak TPA Al Kautsar memutuskan untuk mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar, tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. KBM TPA di Al Kautsar Mrincingan hanya dilaksanakan pada hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad saja dalam satu pekan.

Kegiatan belajar mengajar di TPA Al Kautsar saat hari biasa dengan di masa pandemi tentu saja mengalami beberapa perbedaan yang memerlukan penyesuaian. Di antaranya adalah waktu yang lebih singkat daripada saat hari-hari biasa karena saat masa pandemi, KBM TPA hanya sekadar pembukaan, setor bacaan, kemudian langsung pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan saat hari biasa, dimulai dengan pembukaan, hafalan bersama do’a-do’a harian, hadits, atau surat-surat pendek, lalu setor bacaan ke masing-masing pengampu, kemudian diakhiri dengan penutupan. Saat penutupan pun pada hari biasa diiringi dengan salam-salaman dengan para ustadz-ustadzah, tetapi pada masa pandemi kegiatan tersebut ditiadakan.

 

Dalam perjalanannya menghadapi kondisi pada masa pandemi, pihak yang menaungi TPA di masing-masing daerah turut serta memberikan dukungannya berupa pemberian dana Bantuan Operasional Pendidikan Al Qur’an (BOP Al Qur’an). Untuk membantu proses pencairan dana BOP tersebut, masing-masing TPA diminta mempersiapkan beberapa berkas pendukung. Untuk itu, diadakanlah rapat pengurus TPA untuk membahas hal tersebut.

Dengan adanya Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) tersebut diharapkan dapat menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di TPA Al Kautsar Mrincingan dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menambah semangat santri maupun ustadz-ustadzahnya dalam memakmurkan masjid. *** [Alvin Sofia Khoirunnisa]

          *Alvin Sofia Khoirunnisa, biasa dipanggil Alvin atau Sofi berasal dari Sleman, Yogyakarta. Lahir 20 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 November di Sleman. Anak perempuan pertama dari tiga bersaudara ini gemar menonton film dan menulis karangan bebas. Saat ini masih menjadi mahasiswa di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan tahun 2018. Senang berbagi ilmu di akun instagramnya @alvinsofia. Beberapa hasil karya kecilnya bisa dinikmati di alvineworld.tumblr.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x