Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » Tragedi Cinta di Istana Mataram Kuno (3): Sang Pengantin Terbunuh
Raja Dharmawangsa. ( kuwaluhan.com)

Tragedi Cinta di Istana Mataram Kuno (3): Sang Pengantin Terbunuh

SERANGAN Kerajaan Wurawari ke pusat Kerajaan Mataram Kuno atau sering disebut juga Kerajaan Medang (karena awalnya ibukota Kerajaan di Medang) sungguh sangat dahsyat. Pasukan Wurawari menyerang dari berbagai penjuru, dan tak memberikan kesempatan kepada prajurit-prajurit Mataram Kuno yang sebelumnya larut dalam kegembiraan pesta perkawinan itu memberikan perlawanan yang seimbang.
Pusat Kerajaan dihancurkan. Istana yang menjadi tempat berlangsungnya pesta perkawinan dibakar habis. Seakan tak ada ruang-ruang atau bangunan-bangunan di Istana Raja Dharmawangsa itu yang tersisa. Semuanya habis menjadi abu.

Datangnya serangan yang tiba-tiba dan tanpa diduga itu membuat prajurit-prajurit Mataram Kuno kocar-kacir. Raja Dharmawangsa dan pimpinan-pimpinan prajurit mencoba membangunkan semangat prajurit-prajuritnya untuk memberikan perlawanan dan mengusir para penyerang tersebut.
Tetapi semuanya terlambat. Semangat prajurit-prajuritnya sudah terlanjur runtuh ke titik yang rendah melihat pusat pemerintahan dan istana sudah berubah menjadi lautan api. Api berkobar di mana-mana. Korban-korban pun bergelimpangan. Tak terkecuali, prajurit-prajurit pengawal Raja, mereka pun banyak yang terluka dan tewas.

 

Raja Dharmawangsa Tewas
Melihat istananya hancur dan habis dibakar, serta menyaksikan prajurit-prajuritnya banyak yang terbunuh, Raja Dharmawangsa benar-benar tak mampu menahan amarah. Dengan geramnya ia lalu menyeruak ke depan, menerjang para penyerang. Dan dengan senjata keris pusakanya ia mengamuk, seakan tanpa kendali.
Para petinggi Kerajaan lainnya juga melakukan hal yang sama. Bersenjatakan keris, pedang dan lainnya, mereka mencoba mengusir prajurit-prajurit penyerbu dari Wurawari tersebut.

Pasukan penyerbu itu memang banyak bertumbangan terkena sabetan senjata Raja Dharmawangsa dan para petinggi Kerajaan yang lain. Akan tetapi semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah terlanjur parah. Pasukan-pasukan penyerbu dari Wurawari sudah terlanjur di atas angin. Sudah terlanjur terbakar semangat untuk menang.
Raja Dharmawangsa yang sudah terlanjur terbakar emosi dan api amarah, tak lagi mampu mengontrol diri. Melihat para prajurit dan pengawal-pengawalnya bertumbangan dan tewas, ia langsung saja meluapkan amarah dan lupa akan keselamatan dirinya.

Amarah yang membakar dadanya membuat ia lengah. Dalam kecamuk perang itu, tiba-tiba sebuah tombak meluncur kencang dan menunjam ke dada Raja Dharmawangsa. Meski dadanya tertombak, Raja Dharmawangsa masih mencoba memburu sang penombak. Ia berteriak lantang memangil-manggil nama Rakai Wurawari. Teriakannya penuh kutukan dan amarah. Tapi kemudian, karena kehabisan darah, Raja Dharmawangsa jatuh dan tewas.

Entah siapa yang melemparkan tombak itu. Tapi yang pasti pelakunya adalah salah seorang dari para penyerbu. Mungkin prajurit biasa, komandan pasukan, atau panglima perang dari Wurawari. Dan, mungkin juga dari tangan Rakai Wurawari sendiri, walau Dharmawangsa tak melihatnya.
Andai tombak itu dilemparkan oleh Rakai Wurawari, alangkah licik dan curangnya dia. Seorang Rakai, seorang pemimpin, seharusnya bertarung secara satria, berhadap-hadapan, bukan menyerang dengan melemparkan tombak dari kejauhan. Apalagi musuhnya juga seorang Raja yang berdaulat. Tapi perang, apalagi demi kekuasaan dan dendam, bisa menghalalkan segala cara demi meraih kemenangan.

Raja Dharmawangsa tergeletak bersimbah darah, dengan tombak masih menancap di dadanya. Beberapa pengawal-pengawalnya segera berusaha memberikan pertolongan. Tapi beberapa di antaranya justru menjadi korban penyerangan berikutnya.

 

Sang Putri Melawan
Peristiwa terbunuhnya Raja Dharmawangsa disaksikan sendiri oleh Sang Putri yang ketika itu dalam perlindungan Airlangga yang baru saja menikahinya. Seperti halnya Raja Dharmawangsa, sang menantu,Airlangga, juga memberikan perlawanan.

Melihat ayahnya tergeletak bersimbah darah, Sang Putri atau dikenal dengan nama Dewi Galuh Sekar Kedhaton itu pun bertekad membalas dendam. Tanpa memberitahu ke Airlangga yang melindunginya, Sang Putri langsung melompat ke depan dan menyambar sebilah pedang prajurit yang tergeletak. Dengan pedang di tangan, perempuan cantik berusia belasan tahun itu langsung menerjang ke arah prajurit-prajuritnya Wurawari.
Karuan saja Airlangga terkejut. Ia sama sekali tidak menduga bila Sang Putri mengambil langkah berani menerjang prajurit-prajurit penyerang yang posisinya sedang mengepung itu. Airlangga berusaha mencegah. Tapi usahanya terlambat. Sang Putri sudah terlibat pertarungan dengan prajurit-prajurit Wurawari. Sekalipun seorang putri yang masih belia, tapi sebagai putri raja, terlihat jelas kegesitan dan keberanian nya dalam menggunakan pedang menghadapi para penyerang.

Sang Putri benar-benar terbakar amarah. Ia benar-benar ingin membalas dendam kematian ayahnya, Raja Dharmawangsa. Menghadapi musuh yang banyak jumlahnya, tak sedikit pun Sang Putri terlihat gentar. Ia menerjang, seraya ayunan pedangnya menyambar musuh-musuh di depannya. Tak sedikit para prajurit penyerang itu yang menjadi korban sabetan pedangnya.

Airlangga pun ikut menerjang para penyerang. Tapi ia tak bisa berbuat maksimal, karena konsentrasinya terbagi dua. Pertama, berusaha melindungi sang istri, dan kedua, berusaha menghadapi para penyerang.
Meski Airlangga dan Sang Putri sudah menunjukkan kehebatan sebagai ksatria yang gagah berani, tapi pasukan penyerang itu seperti tak ada habisnya. Padahal yang roboh bersimbah darah karena sabetan pedang Sang Putri dan keris Airlangga tak sedikit jumlahnya. Prajurit-prajurit penyerang semakin merangsek dan mengepung mereka.
Tiba-tiba, dari balik prajurit-prajurit penyerang itu melompat seseorang berbadan tegap dan menerjang ke arah Airlangga. Barangkali lelaki yang menyerang ke arah Airlangga itu adalah salah seorang komandan prajurit-prajurit penyerang.

Sang Putri yang melihat terjangan dan serangan yang tiba-tiba ke arah Airlangga itu secara reflek berusaha menghalanginya. Ia melompat ke dekat Airlangga sambil mengayunkan pedangnya ke arah sang penyerang.
Tapi malang, pedang sang penyerang yang ditujukan ke Airlangga itu justru menunjam ke perut Sang Putri. Sebaliknya pula sabetan pedang Sang Putri telah menyabet leher sang penyerang yang diduga komandan pasukan t ersebut.

Airlangga terkejut melihat isterinya, Sang Putri, roboh bersimbah darah. Dia berusaha memberikan pertolongan. Tapi terlambat. Jiwa Sang Putri sudah tak dapat tertolong. Dalam situasi genting itu Airlangga masih sempat memeluk istrinya. Dan, Sang Putri pun menghembuskan napas terakhirnya di pelukan lelaki muda yang baru saja menjadi suaminya itu. Adegan mengharukan itu disaksikan prajurit-prajurit penyerang, yang entah karena apa tiba-tiba menghentikan serangannya ke arah Airlangga dan Sang Putri. Mungkin karena para penyerang itu melihat sang komandan mereka juga tergeletak di dekat Sang Putri dan Airlangga.

Menyaksikan istrinya tak bernyawa, emosi Airlangga benar-benar meledak. Terlebih lagi ketika ia melihat tubuh lelaki penyerang itu tergeletak di dekatnya. Lelaki itu masih terlihat bernapas. Amarah Airlangga tak terbendung lagi. Tubuh yang tergeletak tak berdaya di dekatnya itu langsung ditunjamnya lagi dengan tunjaman keris. Dan, lelaki penyerang itu pun akhirnya benar-benar tewas.

Airlangga mengamuk dahsyat. Prajurit-prajurit penyerang yang semula terpana menyaksikan Sang Putri tewas dalam pelukan Airlangga, dan salah seorang komandannya tewas, terkejut bukan kepalang.
Amukan Airlangga itu sungguh tak terduga. Prajurit-prajurit penyerang dari Wurawari itu menduga, Airlangga akan larut dalam kepedihan karena kematian sang istri. Sehingga ketika Airlangga mengamuk dengan mengayunkan pedangnya ke segala arah, prajurit-prajurit penyerang itu pun tidak siap untuk menghadapinya. Akibatnya banyak di antara mereka yang tewas.

 

Dibujuk untuk Mundur
Narotama, sahabat Airlangga yang ikut diajaknya ke Kerajaan Mataram Kuno, muncul di saat Airlangga mengamuk itu. Narotama pun ikut membantu Airlangga melawan prajurit-prajurit penyerang.
Narotama kemudian melihat, situasinya sangat berbahaya bagi keselamatan Airlangga bila ia tetap bertahan dan terus mengamuk menghadapi para musuh. Narotama sudah melihat sendiri, bagaimana sudah tidak berdayanya prajurit-prajurit Mataram Kuno menghadapi serbuan prajurit-prajurit Wurawari. Menurutnya. Tak ada pilihan lain, selain segera mundur dari arena peperangan.
Narotama pun kemudian menyatakan hal itu kepada Airlangga. Ia mengajak Airlangga untuk mengalah dulu dan mundur untuk menyelamatkan diri. Jika tidak mundur, melihat situasi yang seperti itu, Airlangga bisa mengikuti jejak istri dan mertuanya, tewas terbunuh.

Airlangga semula sangat menolak ajakan atau saran dari Narotama. Langkah itu menurutnya bukan sikap seorang satria.
Tapi Narotama tetap membujuknya, dengan mengatakan bahwa langkah mundur dari arena peperangan bukanlah dikarenakan langkah tidak satria, melainkan langkah strategis dalam mempersiapkan strategi perang berikutnya.
“Kita mundur sebentar, untuk menyusun strategi. Strategi untuk menang dalam perang berikutnya. Kita mengalah dulu untuk menang nantinya,” kata Narotama.

Airlangga akhirnya menerima ajakan dan saran Narotama yang sahabatnya itu. Dan, dengan dikawal Narotama dan prajurit-prajurit yang tersisa, Airlangga pun kemudian mundur dari arena peperangan. Sementara beberapa prajurit yang selamat berusaha membawa tubuh Sang Putri yang sudah tak bernyawa itu keluar dari arena peperangan juga.
Ya, Airlangga akhirnya memutuskan mundur. Mundur untuk menang nantinya. Dan, ia pun dengan sisa-sisa prajurit yang selamat meninggalkan pusat pemerintahan dan istana yang sudah menjadi abu.

Airlangga mundur ke suatu tempat. Ia mundur sambil bertekad untuk membangun kekuatan baru. Dan, ia pun berjanji untuk merebut kembali kekuasaan Mataram Kuno yang diruntuhkan Wurawari itu.
Kisah runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno di bawah kepemimpinan Raja Dharmawangsa itu tercatat di dalam Prasasti Pucangan. Kisah atau peristiwa runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno akibat tragedi cinta yang tak kesampaian itu terjadi di tahun 1017. (Selesai, tunggu kisah tragedi lainnya). * (Sutirman Eka Ardhana)

 

Sumber bacaan:
1. Prof. Dr. Slamet Muljana, Sriwijaya, LKiS, 2011.
2. Eko Praptanto, Sejarah Indonesia 2 Zaman Sejarah Kuna, BSD MIPA. 2010.
3. R. Moh. Ali S.S, Perdjuangan Feodal Indonesia, Ganaco, 1963.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x