Kamis , 21 Oktober 2021
Beranda » Event » Puisi Rupa di Bulan Purnama
Watie Respati (Ist)

Puisi Rupa di Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama edisi 117, yang akan digelar, Kamis 24 Juni 2021, pkl. 19.30 live di youtube Sastra Bulan Purnama, dalam Poetry Reading From Home seri  17, berkolaborasi dengan  seni rupa, sehingga ada dua kegiatan yang dilkukan, yaitu pameran seni rupa karya 10 perupa perempuan, sekaligus menerbitkan buku puisi yang diberi judul ‘Rupa Puisi, Puisi Rupa’, dan peluncuran antologi puisi.

Pembukaan pameran dilakukan, Kamis, 17 Juni 2021, pkl. 16 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, dengan jumlah peserta terbatas. Pameran akan dibuka Budi Argop Situngkir A.Md.I.P.,SH., M.H. Kakanwil Kemenkumham DIY. Ke 10 perupa perempuan tersebut ialah: Dwi Rahayuningsih, Erica Hestu Wahyuni, Setyowati, Rina Kurniyati, Laila Tifah, Lully Tutus, Peni Citrani Puspaning, RA Sekartaji Suminto, Tara Nusantara dan Watie Respati.

Para perupa perempuan ini, masing-masing sudah sering melakukan pameran, baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Pengalaman pameran mereka tidak hanya di Yogya, tetapi juga di beberapa kota di Indonesia. Dalam kaitan dengan Sastra Bulan Purnama, para perupa ingin karya rupanya dipadukan dengan puisi.

Simak juga:  ‘Apokalipsa Kata’ di 10 Tahun Bulan Purnama

“Meskipun lebih banyak menghasilkan karya seni rupa, tetapi para perempuan ini sering menulis puisi. Maka, bagus juga kalau karya yang diciptakan digabung dalam satu buku” ujar Watie Respati mewakili dari 10 perupa perempuan.

Wati Respati memang sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Membacakan puisi karyanya sendiri atau membacakan puisi penyair lain, yang buku puisinya diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Selain Watie, yang pernah tampil membaca puisi Tara Nusantara dan Dwi Rahayuningsih. Karena Dwi seorang penari sehingga dalam membaca puisi dipadukan dengan tarian.

Lain lagi dengan Tara Nusantara, yang beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama. Selain dipadukan dengan tarian, pembacaan puisinya juga dikemas dengan musik, sehingga puisi, tari dan musik memadukan penampilan Tara.

Perupa dan puisi, bukan hanya kali ini tampil di Sastra Bulan Purnama. Beberapa tahun sebelumnya, para perupa, tidak hanya perempuan, menulis puisi, dan puisinya diterbitkan menjadi buku, kemudian diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Kali ini, para perupa perempuan tidak hanya membacakan puisi, tetapi sekaligus menggelar pameran. Jadi, dua kegiatan dilakukan bersama.

Pameran karya 10 perupa perempuan akan berlangsung mulai 17 Juni sampai 8 Juli 2021. Pembukaan dilakukan, Kamis 17 Juni 2021 pkl 16.00 di Tembi Rumah Budaya. Peluncurkan buku puisi secara ‘live’ di youtube dilakukan, Kamis 24 Juni 2021.  Jadi, keduanya saling mengisi.

Simak juga:  Untung Basuki, Umar Muslin dan Tatyana Akan Melagukan Puisi Rendra di Tembi

Dalam pembukaan pameran, para perupa pameran akan mengisi dengan pembacaan puisi karya masing-masing, sehingga sebenarnya pembukaan pameran sekaligus peluncuran antologi puisi.

“Dua kegiatan dilakukan bersamaa, pameran dan pembacaan puisi, untuk memberi ruang interaksi antara seni rupa dan puisi” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Dijelaskan oleh Ons Untoro, di Yogya, setidaknya awal tahun 1970-an, interaksi antara pelukis dan pemyair berlangsung sangat akrab. Masing-masing saling bersahabat, bahkan pada masa itu dikenal sebutan poros Malioboro-Gampingan. Malioboro tempat mangkal para penyair Yogya, dan Gampingan adalah kampus ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta.

“Namun, sejak akhir 1990-an, lebih-lebih setelah tahun 2000-an, suasana akrab seperti dulu tidak lagi terlihat. Perupa dan penyair seperti mempunyai dunia masing-masing, tidak saling bersentuhan. Penampilan perupa perempuan kali ini, setidaknya bisa mengingatkan suasana 30-an tahun lalu” kata Ons Untoro, (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *