Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Pesantren Genuine, Standart Lokalitas Walisongo
Kegiatan Ngopi PUSPPA series 4. (Ist)

Pesantren Genuine, Standart Lokalitas Walisongo

STRATEGI kebudayaan pesantren dalam menghadapi tantangan zaman perlu upaya progresif dan adaptif. Pesantren genuine menghadirkan karakter dan nilai-nilai lokal dan Islam yang harus dan terus dilestarikan. Mukhafadoh ngala qodimissolih ini bathiniyah, nilai, prinsip yang harus mengakar pada tradisi ke-Indonesiaan dan ke-Islaman, wal akhdu bil jadidil aslakh adalah dohiriyah, perilaku, faktor-faktor luar yang bisa berubah sesuai perkembangan zaman.

Beberapa pesantren juga punya nilai yang tidak tertulis, yang dipercayai sebagian masyarakat dan santri. Semisal jika rumah kyainya lebih bagus dari asrama santri, maka santri sulit bertambah. Pesantren menambah pembangunan gedung jika santri sudah memenuhi semua ruangan asrama. Ini masuk dalam kategori tradisi tidak tertulis. Hal ini juga mengajarkan nilai nilai kejujuran dan kesederhanaan dalam dunia pesantren dan ketokohan seorang Kyai.

Masing-masing pesantren punya tradisi yang berbeda. Nilai kesederhanaan, jujur, kemandirian menjadi kunci kuat di pesantren. Ini semua didukung oleh kemampuan leadership dan uswah yang dicontohkan oleh Kyai dan pengasuh pondok pesantren. Selalu ada yang istimewa di setiap pesantren sehingga banyak santri dan masyarakat yang fanatik dan terkesima dengan pesantren dan kyainya.

 

Memodifikasi Duri
Pesantren memodifikasi diri tetapi tidak luntur dari nilai-nilai Islami. Modernitas adalah hal yang dianjurkan tetapi harus dimaknai dengan tepat. Modernitas merupakan kemampuan merespon perkembangan terkini. Dalam hal kecil bisa dilihat seperti kapasitas tampungan kamar, ada computer, perbedaan level dan kelas, digital, sarpras dan masih banyak lagi lainnya. Kesalahkaprahan pemahaman modern yang masih sempit itu yang harus dipahami, karena modern punya konsekuensi perubahan yang menyeluruh. Modernitas harus mencakup semua kebutuhan masyarakat dan peradaban.

Simak juga:  Berpolitik Dengan Hati, Bukan Saling Membenci

Pesantren dulu didirikan untuk mandiri dan tidak tergantung dengan Negara. Tetapi sekarang pesantren banyak berkolaborasi dengan Negara, CSR, Komunitas, Lembaga, Yayasan, dan lain-lain. Pesantren adaptif kolaboratif tetapi tetap mandiri dengan ketangguhan, pemikiran dan pendidikannya. Inilah konsep modern yang terus dinamis yang dideskripsikan terus berkembang. Arti modern tidak relevan jika tidak menyeluruh dan malah bisa menjebak jika modern diartikan hanya terbatas pada sarpras, bukan pada metode pembelajaran dan banyak lagi lainnya. Modern dan salaf akan menimbulkan sekat dan pertanyaan pertanyaan berikutnya, karena tipologi tersebut masih dipandang sempit.

 

Pola Keterhubungan
Pola keterhubungan Kyai dan santri itu sangat penting dalam sebuah pesantren. Para pengasuh yang membimbing dan mendampingi ribuan santri itu tidak mudah. Membagi pengasuh dan santri dengan ukuran yang ideal, model pengasuhan santri dan figure Kyai yang karismatik juga teladan umat akan mampu menjaga nilai dan keterhubungan kyai bersama santri dalam sebuah pesantren.

Sanad pemikiran dan keilmuwan memang mengikuti ulama Timur Tengah tetapi sanad perilaku didasarkan pada kearifan dakwah lokal Walisongo. Pesantren genuine punya standart lokalitas Walisongo. Pemikiran dan gerakan menjadi satu kesatuan dan keterpaduan di pesantren. Nusantara merupakan tempat persilangan budaya, sehingga akulturasi dan filtrasi kadang terjadi. Pesantren genuine punya peran besar menjaga identitas, moralitas dan religiusitas negeri ini. Pesantren tidak genuine tidak punya sanad dan tidak memiliki standart lokalitas dan identitas diri dalam kearifan berkehidupan bersama di bumi nusantara.

Simak juga:  Dakwah, Media Sosial, dan Pandemi Covid-19

Inilah sekilas ulasan renyah di Ngopi PUSPPA (Ngolah Pikir Pusat Studi Pesantren dan Pendidikan) Series 4 dengan tema “Success Story : Santri dan Pesantren Menghadapi Intensitas Perubahan Zaman”, pada Rabu 17 Februari 2021 via Zoom PUSPPA.
Kegiatan itu menampilkan narasumber K. H. Jazilus Sakhok, Ph.D (Wakil Katib Syuriah PWNU DIY) dan dimoderatori oleh Gus Muhammad Irfai Muslim, M.Si (Dosen UIN Sunan Kalijaga). * (Mochammad Sinung Restendy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x