Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Pesan Kartini, Tak Akan Pernah Pudar Sampai Kapan Pun
Pesan-pesan Kartini telah menyemangati kaum perempuan untuk terlibat dalam kerja sosial sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Anggota PSM Kel. Tegalpanggung (berbaju batik garis-gatis putih) bersama pendamping penyandang disabilitas. (Ist)

Pesan Kartini, Tak Akan Pernah Pudar Sampai Kapan Pun

BULAN April merupakan bulan yang berarti bagi kaum perempuan di Indonesia. Karena di bulan April, kaum perempuan Indonesia akan merayakan Hari Kartini. Kartini, lengkapnya Raden Ajeng Kartini merupakan sosok atau tokoh yang berjasa besar dalam penegakan eksistensi kaum perempuan di negeri ini.

Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal dunia di Rembang pada 17 September 1904, tak hanya sekadar tokoh Pahlawan Nasional, tapi juga merupakan ikon perjuangan kaum perempuan Indonesia. Terutama perjuangan menegakkan eksistensi kaum perempuan dalam keikutsertaan membangun bangsa dan negara.

Meski ia sudah berpulang menghadap Al-Khaliq sekitar 117 tahun lalu, tapi pesan-pesan yang ditinggalkannya sampai hari ini masih tetap menggelora di dada dan jiwa segenap perempuan Indonesia. Pesan-pesan luhur itu tak akan pernah pudar. Pesan-pesan itu tetap menumbuhkan inspirasi dan semangat perjuangan sampai kapan pun.

Pesan-pesan luhur Raden Ajeng Kartini itu dapat kita temukan pada 119 surat yang ditulisnya, dan di antaranya ditujukan kepada Abendanon. Surat-surat yang ditulis sejak berusia 20 hingga 25 tahun itu kemudian terhimpun di dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis Tot Licht). Surat-surat Kartini itu dibukukan oleh J.H Abendanon dan diterbitkan pada 1911.

 

Simak juga:  Angkringan, Warung Nasionalis dan Ajang Silaturrahim

Membaca dan Menulis
Salah satu pesan luhur pesan luhur yang terdapat di dalam surat-surat Kartini itu adalah pentingnya pengetahuan membaca dan menulis bagi kaum perempuan. Kartini telah memberikan contoh betapa besarnya manfaat membaca dan menulis. Semasa hidupnya, ia rajin membaca buku-buku beragam pengetahuan. Dengan membaca, pikiran dan wawasannya menjadi terbuka luas. Kemudian gagasan-gagasan cemerlang atau ide-ide untuk meningkatkan tingkat kehidupan kaum perempuan pun bermunculan. Gagasan-gagasan serta ide-ide cemerlang itu pun kemudian ia tumpahkan dalam tulisannya. Tulisan berbentuk surat itu pun ia kirimkan kepada sahabat-sahabat dan kenalan Belanda-nya, salah satu di antaranya Nyonya Abendanon.

Di dalam tulisan-tulisannya itu terlihat jelas bagaimana Kartini tidak pernah berhenti memikirkan nasib kaumnya. Ia melontarkan berbagai gagasan yang perlu dan harus dilakukan kaum perempuan Indonesia dalam kaitan perjuangan membangun serta menegakkan eksistensi kesetaraan di tengah-tengah dinamika kehidupan masyarakat. Tentunya pula di dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mari pesan-pesan luhur dan mulia Kartini itu kita jaga dan kembangkan terus sampai kapan pun. Alangkah bahagianya Kartini di alam sana, bila ia melihat kaum perempuan Indonesia tetap menjaga dan melaksanakan pesan-pesannya itu, di antaranya menggalakkan semangat membaca dan menulis.

Simak juga:  Habis Kartini, Terbitlah Terang

Karena dengan membaca berbagai buku maupun bacaan-bacaan positif lainnya akan diperoleh ilmu pengetahuan dan wawasan yang tak ternilai harganya. Beragam pengetahuan itu akan membuat kaum perempuan Indonesia menjadi lebih mampu dalam mengembangkan diri dan eksistensinya.

Apalagi bila kemudian selain membaca juga mengembangkan kemampuan menulis. Dengan menulis kita akan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada sesama perempuan maupun masyarakat luas lainnya. Dan, dengan menulis kita akan terus mampu mengobarkan semangat perjuangan Kartini.
Mari kita jaga dan kembangkan terus pesan-pesan Kartini agar perempuan Indonesia meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Mari! * (Indria Purnamawati)

* Indria Purnamawati, adalah Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IKPSM) Kelurahan Tegalpanggung, Danurejan, Yogyakarta. Mantan Pustakawan di Perpustakaan Hatta Yogyakarta ini masih setia menyukai dunia literasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *