Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Pengabdian Itu Adalah Ibadah
Sebagai Ketua LPMK, duduk di tengah bersama anggota IPSM Kelurahan Tegalpanggung. (Ist)

Pengabdian Itu Adalah Ibadah

DIDORONG oleh keinginan guna membantu meringankan tetangga yang sedang mempunyai hajatan terutama pernikahan, maka tampilah keberanian saya untuk menjadi pembawa acara (Master of Ceremony). Inilah awal mula pengabdian saya dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Keberanian tersebut timbul karena remaja seusia saya ketika itu tidak ada yang mau bila ditunjuk dalam suatu kepanitiaan pernikahan. Padahal saya sendiri sedikitpun memiliki ilmu tentang itu, maka berbekal keberanian dan semangat belajar diterimalah “jabatan” sebagai MC tersebut.
Sejak saat itu mulai viral di lingkungan Kampung Tukangan, dan puncaknya ketika ada pemilihan ketua pemuda, maka terpilihlah saya menjadi Ketua Pemuda Rukun Kampung (RK) tahun 1974.

 

Pengabdian di Kepramukaan
Sebenarnya keberanian tampil di depan umum tidak datang dengan sendirinya. Karena sejak tahun 1968 sampai dengan sekarang masih aktif di Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana (Pramuka).
Pramuka merupakan satu-satunya organisasi yang pertama kali dikenal dan yang mengisi serta membesarkan jiwa.

Berbagai tingkatan sudah dilalui dari yang terendah yaitu Gugus Depan 55 dan 56 Puro Pakualaman, Dewan Kerja Cabang, Andalan Kwartir Cabang, Ketua Dewan Kerja Daerah (tahun 1982 s/d 1986), serta Andalan Kwartir Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (tahun 1987 s/d sekarang). Jabatan saat ini sebagai Andalan Urusan Asey Kwarda DIY.
Bahkan juga masih sempat membantu di Kwartir Ranting (Kwaran) Danurejan sebagai Andalan Bina Wasa putra berdasarkan SK Majelis Pembimbing Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta Nomor 22 Tahun 2018 tanggal 13 Februari 2017.

 

Menjadi Pemuda Teladan
Tahun 1974 belum muncul istilah Pelajar Teladan, untuk memberikan sebutan pelajar yang berprestasi dalam bidang tertentu. Istilah Pelajar Teladan baru muncul sekitar tahun 1976.
Persyaratan yang diminta untuk mengikuti seleksi Pemuda Teladan antara lain nilai rapor di atas rata-rata, berbadan sehat, tinggi badan minimal 170 cm untuk laki-laki dan 165 cm untuk perempuan, dan tidak berkacamata.

Kepala Sekolah SMA Negeri 2 IKIP Yogyakarta telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti seleksi di Kantor Pembinaan Generasi Muda, ketika itu beralamat di Jalan Mangkubumi No. 42, belakang kantor surat kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Berbekal surat pengantar dari sekolah, saya yang saat itu menjabat sebagai Ketua OSIS SMAN 2 IKIP Yogyakarta berangkat mendaftar untuk mengikuti seleksi Pemuda Teladan bersama pemuda dan pemudi utusan masing-masing sekolah di Yogyakarta.

Dari seleksi yang cukup ketat selama dua hari, maka terpilihlah saya bersama pemudi dari Kabupaten Gunungkidul mewakili Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Pemuda/Pemudi Teladan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Jakarta. Bersama-sama Pemuda/pemudi dari seluruh Indonesia bertugas untuk mengibarkan bendera duplikat Sang Merah Putih Istana Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1974.

Selama hampir satu bulan lamanya di asrama Paskibraka, yang kehidupan sehari-harinya menggunakan metode Kepramukaan. Dalam pemilihan ketua kelas, saya terpilih sebagai ketua kelas atau yang dituakan di kelompok tersebut dengan sebutan yang lebih populer, Lurah Paskibraka.

Simak juga:  Kuliah Online, Mengembara dari Kota ke Kota

Tugas Lurah Paskibraka merupakan pelayan masyarakat yang terdiri pemuda dan pemudi dari seluruh Indonesia yang saat itu hidup dalam suatu desa (asrama) yang bernama Desa Bahagia Dharma Mulia, warganya berjumlah 55 orang dari 27 propinsi seluruh Indonesia.

Tugas Lurah dibantu oleh wakil lurah, pada pemilihan pertama DIY sebagai Lurah dan wakilnya dari Propinsi Papua (Putri). Sedang periode kedua, FIY sebagai Lurah dan wakilnya dari Propinsi Aceh (putra).

Bentuk formasi dalam pengibaran bendera duplikat Sang Saka Merah Putih terdiri dari pasukan 17 – 8 – 45, pasukan 17 dan pasukan 8 dari unsur pemuda/pemudi seluruh Indonesia. Sedangkan pasukan 45 dari unsur TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Saya mendapat posisi sebagai Komandan Kelompok 17, sedang pembawaannya bendera duplikat dipercayakan kepada pemudi dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Keliling Asean dan Jepang
Pada tahun 1983, saya mencoba mengikuti seleksi The Ship For Southeast Asian Youth, yaitu pemuda utusan suatu negara yang berlayar mengelilingi negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan kapal Nippon Maru. Dengan bermodalkan bahasa asing yang pas-pasan, alhamdulillah, saya diterima, dan bulan September 1983 masuk asrama di Jakarta.

Kehidupan asrama sehari-hari juga menggunakan metode Kepramukaan. Pembinanya sebagian besar sama dengan pembina ketika saya mengikuti Paskibraka. Hanya kali ini saya tidak terpilih sebagai ketua kelompok ( Youth Leader) karena keterbatasan masalah bahasa meski banyak yang mengusulkan.

Setelah menjalani pendidikan selama dua minggu di Cibubur, Jakarta, duta bangsa yang berjumlah 60 orang dari seluruh Indonesia tersebut dilepas di Tanjung Priok, untuk selanjutnya bergabung dengan pemuda-pemudi negara-negara Asia Tenggara dan juga pemuda-pemudi dari negara Jepang. Untuk selanjutnya akan berkeliling ke negara-negara Asia Tenggara dengan menggunakan kapal Nippon Maru.

Selama keliling ke enam negara yaitu Malaysia, Indonesia, Singapore, Thailand, Philipina dan Jepang, saya mendapat tugas sebagai “bapak asuh” dari duta Indonesia, hal tersebut merupakan program lanjutan sebagai Lurah Paskibraka beberapa tahun lalu.

Ini merupakan tantangan berat. Mengapa demikian? Karena “bapak asuh” harus bisa menjaga kekompakan, kebersamaan, dan nama baik negara. Padahal bisa dipahami bahwa pergaulan pemuda tingkat internasional sangat-sangat jauh berbeda dengan pergaulan pemuda di Indonesia. Namun berkat kerjasama yang baik dengan para peserta yang tergabung dalam duta Indonesia maka tugas tersebut dapat dikerjakan secara baik.

Setelah Nippon Maru berkeliling ke negara-negara Asia Tenggara lebih kurang selama tiga setengah bulan maka The Ship For Southeast Asian Youth berlabuh di negara Jepang selama 10 hari. Ini merupakan jumlah hari yang paling lama karena di setiap negara-negara Asia Tenggara hanya disinggahi selama tujuh hari. Selebihnya tinggal di laut, di atas kapal Nippon Maru.

Simak juga:  Tragedi Cinta di Istana Mataram Kuno (3): Sang Pengantin Terbunuh

 

Menjadi Pegawai Negeri Sipil
Tahun 1985 memasuki dunia kerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta setelah menyelesaikan Perguruan Tinggi di UGM tahun 1983.
Sejak lulus dari Perguruan Tinggi tidak langsung kerja di Pemerintahan, tetapi melanglang kerja di swasta. Saya kerja di Jakarta, yaitu di Nusa Informatika Konsultan, sebuah perusahaan yang bekerja sebagai pembuka lahan hutan dan pengaturan tata letak untuk daerah transmigrasi. Satu tahun bekerja di PT tersebut, kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk meniti karier sebagai PNS.

Bagi yang telah banyak pengalaman berorganisasi seperti di Pramuka dan lain-lain, memasuki dunia kerja sebagai PNS mudah untuk menyesuaikan dengan pekerjaannya. Apalagi yang dihadapi prosentase pekerjaannya lebih banyak di lapangan daripada di belakang meja, seperti tugas-tugas Humas, Protokol, Palisi Pamong Praja dan lain-lain. Semua pernah dijabat selama menjadi PNS.

Pengalaman yang sangat berharga ketika mendapat kenaikan pangkat dua tahun lebih cepat dari biasanya, hal ini ketika menduduki jabatan akan tetapi pangkat belum memenuhi persyaratan sehingga harus nevelering.
Berikutnya di tahun 1993 mendapat tugas dari Gubernur DIY sebagai petugas haji yang tergabung dalam Tim Petugas Haji Daerah (TPHD) bersama enam orang petugas lainnya.

Setelah melanglang menjadi PNS selama 27 tahun dengan berbagai suka dan dukanya, maka tepat tanggal 1 Mei 2012 resmi menyandang pensiunan PNS yang sudah terbebas dari rutinitas birokrasi. Syukur alhamdullilah, memasuki masa purna tugas, saya masih diberi kesehatan baik lahir maupun batin.

 

Senang Bermasyarakat
Beberapa pengalaman yang dialami, sejak remaja hingga saat ini merupakan tambahan modal untuk hidup bermasyarakat dengan baik. Karena selama ini pelajaran bermasyarakat hanya diperoleh langsung terjun ke masyarakat, dan itu tidak pernah diperoleh di bangku sekolah formal.

Ada kepuasan tersendiri manakala saya bisa membantu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Menyadari sepenuhnya bahwa kita hidup tidak sendirian, tapi membutuhkan dan dibutuhkan oleh orang lain.

Dalam sebuah Hadist dikatakan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat manusia yang lain.” (Khoirunnas anfauhum linas, Hadist riwayat HR Ath Thabrani). Hal itulah yang memacu dan memicu saya untuk aktif di masyarakat sejak remaja, dewasa dan sampai saat ini.

Menurut saya, salah satu cara untuk menjaga kegemaran bermasyarakat adalah apabila dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih dan semata-mata mencari keridhoan Allah yang Maha Kuasa.
Itulah pengabdian saya. Itulah ibadah saya. * (Iskak B Latihantoro)

* Iskak B Latihantoro, pensiunan PNS di Pemda DIY, yang semasa remaja pernah menjadi anggota Paskibraka di Istana Merdeka (1974), dan peserta The Ship For Southeast Asian Youth (1983) ini kini menjabat sebagai Ketua LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Tegalpanggung, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *