Senin , 29 November 2021
Beranda » Seni & Budaya » Pelukis Hardi, dari Desa Gambar ‘Menggambar’ Kehidupan Semesta
Pelukis Hardi dengan latar belakang lukisan karyanya. (Ist)

Pelukis Hardi, dari Desa Gambar ‘Menggambar’ Kehidupan Semesta

NAMA kampung halaman atau desa asal-usul ternyata bisa mempengaruhi jalan kehidupan seseorang. Dan, tak jarang terjadi, jalan kehidupan yang dipilih itu telah mengantarkan seseorang kepada kesuksesan.
Itulah yang terjadi pada pelukis Hardi, atau lengkapnya Kanjeng Pangeran (KP) Hardi Danuwijoyo. Ia berasal dari Desa Gambar, Blitar, Jawa Timur. Tepatnya, ia lahir pada 26 Mei 1951, dari pasangan R. Adimaryono dan Sri Monah.

Bukanlah sesuatu yang berlebihan, bila menyebutkan pelukis Hardi merupakan seorang maestro seni lukis di negeri ini. Ia pelukis hebat. Pelukis besar. Bahkan ia juga disebut sebagai salah satu pelukis sosial. Satu hal lagi, ia juga pelukis serba bisa. Tak hanya jadi pelukis, tapi juga penulis, bahkan Mpu Keris.
Saya mengenal pelukis Hardi, atau katakanlah melihat dan memperhatikan ‘sepak terjang’nya ketika ia sedang membakar serta mengobarkan semangat keseniannya, terutama di dunia senirupa, pada tahun 1972 – 1974 di Yogyakarta.

Ya, ketika saya masuk Yogya 1972, pelukis Hardi sudah setahun lebih dulu tinggal di Yogya. Dan, di tahun 1975, ia berkiprah dan membangun dirinya di Jakarta.
Sejak ia meninggalkan Yogya, saya tak bisa lagi melihat atau memperhatikan kiprah berkeseniannya secara langsung. Tetapi saya selalu melihat atau mengamati kiprah dan gebrakannya dalam berkesenian, terutama senirupa, melalui informasi dan tulisan di media massa, serta tayangan di televisi. Juga melalui buku.
Setelah tak bertemu puluhan tahun, tanpa dirancang dan diduga, saya bertemu dengan pelukis Hardi di media sosial. Ternyata saya satu WAG dengannya di WAG Satupena Legal. Lewat WAG itu saya pun bisa berkomunikasi lagi dengannya. Lalu berlanjut berkomunikasi lewat Facebook.

Demikianlah, lewat pertemuan lagi, meski hanya melalui dunia maya, lewat WA, facebook, pembicaraan lewat handphone, dan informasi dari buku serta media, saya tergerak ingin menulis tentang dirinya. Tentu saja termasuk tentang kiprah dan gebrakan-gebrakannya dalam berkesenian yang penuh kejutan, dan menarik perhatian. Setidaknya ada tiga tulisan yang saya siapkan untuk membicarakan sang maestro seni lukis ini.


Melukis Sejak Kecil

Judul tulisan ini “Pelukis Hardi, dari Desa Gambar ‘Menggambar’ Kehidupan Semesta” bukanlah hal yang mengada-ada. Faktanya Hardi memang lahir di Desa Gambar, Kecamatan Udanawu, Blitar. Dari Desa Gambar itulah Hardi tumbuh, dan kemudian berprofesi sebagai pelukis. Sebagai pelukis, apalagi kemudian menjadi maestro seni lukis yang terpandang dan terkemuka, Hardi telah melukis tentang beragam tema yang berangkat dari berbagai kisah serta warna kehidupan. Dengan kata lain ia telah ‘menggambar’ beragam bentuk kehidupan semesta.
Disadari atau tidak, nama Desa Gambar, telah mempengaruhi jalan kehidupan yang kemudian ditempuh atau dijalaninya.

Di dalam bukunya “Art Politics Humanism”, Hardi mengaku, kesukaannya melukis sudah muncul sejak kecil. Lantai pendopo rumah ayahnya yang luas di Desa Gambar, ketika itu sering dipenuhinya lukisan-lukisan dengan kapur.
Sejak kecil, melalui empat majalah langganan ayahnya, yang seorang pemuka masyarakat di Desa Gambar, ia sudah mengenal dan tertarik lukisan-lukisan heroik Rusia dan lukisan-lukisan karya pelukis kenamaan Amerika. Bahkan juga ia juga kagum dan tertarik pada sosok pelukis Affandi, sang maestro dari Yogyakarta itu. Keempat majalah yang sudah dinikmatinya sejak kecil itu, Negeri Soviet, Aneka Amerika, Penyebar Semangat dan Taman Putro.

Simak juga:  Rembulan dan Puisi di Sastra Bulan Purnama

Betapa besar pengaruh media-media yang dibaca sejak kecil itu bagi perkembangan dirinya. Sejak bangku SD sampai SMP, kesukaannya terhadap dunia seni lukis tak pernah pudar. Dari hari ke hari semakin menggebu. Dan ketika SMA di Surabaya, ia pun sudah membulatkan tekad dan menanamkan cita-cita untuk menjadi pelukis. Ya, hanya ingin jadi pelukis.

 

Masuk ASRI Yogya
Setamat SMA tahun 1969, Hardi tidak langsung ke Yogya, melainkan ke Ubud, Bali. Di Ubud, Bali, ia bertemu dan berkenalan dengan pelukis-pelukis terpandang kala itu. Pertemuan dan perkenalannya dengan pelukis-pelukis terpandang itu semakin memperkuat keyakinan bahwa menjadi pelukis sebagai pilihan hidupnya.

Setelah enam bulan di Ubud, Bali, ia kemudian pindah ke Surabaya, dan kuliah di Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera). Di Aksera ia hanya bertahan enam bulan juga. Karena kemudian ia memutuskan diri untuk ke Yogyakarta.
Tahun 1971, Hardi diterima sebagai mahasiswa di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Sejak tinggal di Yogyakarta, Hardi benar-benar menikmati dan membangun jagad kesenimanannya.
Sebagai mahasiswa ASRI, Hardi bergaul dengan banyak seniman dan penyuka kesenian di Yogya. Di antaranya dengan para penyair muda Yogya yang kala itu berhimpun dalam Persada Studi Klub, yang bermarkas di Malioboro dan dikomandani penyair Umbu Landu Paranggi (alm).

Kala itu Malioboro bila malam seakan menjadi tempat bertemunya para seniman atau penyuka dunia seni. Seniman lukis atau seni rupa, seniman sastra, seniman teater, seniman musik, seniman tari, seniman lawak dan lainnya, menjadikan Malioboro sebagai ajang berbagi ilmu, berbagi wawasan, pengalaman, dan meningkatkan tali silaturahim. Selain di Malioboro, para seniman muda di Yogya kala itu juga sering bertemu di forum-forum diskusi seni. Walaupun awalnya diskusi seni, tapi tak jarang diskusi melebar ke persoalan-persoalan sosial dan politik. Khususnya politik yang bersinggungan dengan dunia kesenian.

Acara-acara diskusi atau pertemuan-pertemuan para seniman muda, yang biasanya dimotori setiap minggunya oleh komunitas Persada Studi Klub, terasa semakin gencar di tahun-tahun 1972 sampai 1974.
Hardi, sebagai mahasiswa ASRI dan pelukis muda yang menonjol kala itu sering hadir dalam acara-acara diskusi yang hampir berlangsung setiap minggu sekali tersebut.

Di forum-forum diskusi itulah saya sering bertemu dengan Hardi. Dari pertemuan di forum diskusi itu sudah terlihat jelas jiwa dan semangat ‘pemberontakan’ yang ada pada dirinya. Semangat ‘pemberontakan’ untuk melakukan perubahan, mewujudkan gagasan dan langkah-langkah besar yang penuh kejutan dan brilian di dunia kesenian, terutama dunia seni rupa. Gagasan-gagasannya selalu meledak-ledak dan membakar.

Simak juga:  Musik Membuat Kelembutan dan Kehangatan dalam Keluarga

 

Desember Hitam
Saya ingat, dalam suatu forum diskusi seni sekitar akhir Desember 1974 (atau 1975, maaf lupa persisnya), Hardi begitu semangatnya bicara tentang manifesto Desember Hitam dan Gerakan Seni Rupa Baru. Seingat saya dalam diskusi yang dimotori komunitas Insani (rubrik seni budaya di Harian Masa Kini asuhan Emha Ainun Nadjib), dari kalangan pelukis muda yang mahasiswa ASRI itu selain Hardi juga hadir Bonyong dan Harsono. Kalau tak salah ingat dalam diskusi yang berlangsung di kantor redaksi Masa Kini (kala itu jadi satu di gedung percetakan daerah Jl Brigjen Katamso) juga hadir Adiyati dan Nanik Mirna.

Apa itu Manifesto “Desember Hitam” dan Gerakan Seni Rupa Baru? Nah, para kalangan muda, seniman muda, terutama seniman muda di dunia seni rupa perlu tahu jika di tahun 1974 pernah ada peristiwa besar dan monumental dalam khasanah jagad seni rupa di Indonesia, yakni munculnya Manifesto “Desember Hitam” dan lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru. Hardi merupakan salah seorang seniman muda yang terlibat di dalam dua momen bersejarah itu.

Manifesto “Desember Hitam” bermula dari adanya diskusi biennale di Jakarta. Dalam diskusi itu terjadi perdebatan yang serius antara pelukis Sudjojono dan DA Peransi.
Seperti diakui sendiri oleh Hardi di dalam bukunya, karena ulahnya, setelah diskusi berakhir, para seniman berkumpul di tempat yang sama. Dengan dimotori DA Peransi, saat itu juga dibuat Manifesto “Desember Hitam”. Manifesto yang merupakan koreksi terhadap wajah dan situasi kebudayaan nasional.

Hardi termasuk salah seorang yang menandatangani Manifesto “Desember Hitam” itu bersama Bonyong, Harsono, Nanik, Adiyati, Ris Purwono, Muryoto, Hartoyo, dan beberapa nama lainnya.
Akibat ikut serta dalam Manifesto “Desember Hitam” itu, Hardi dan empat penandatangan lainnya diskors oleh pimpinan ASRI. Tak hanya diskors, Hardi pun dikeluarkan dari kampus, atau diberhentikan statusnya sebagai mahasiswa ASRI. Menurut pengakuan Hardi, ia dikeluarkan dari kampus tanpa disertai surat pemberhentian
Mendapatkan sanksi dari kampusnya seperti itu, Hardi tak tinggal diam. Peristiwa itu justru semakin melecut semangatnya untuk menunjukkan eksistensinya di dunia seni lukis.

Lalu, dalam waktu relatif singkat, Hardi bersama empat temannya yang diskors bergabung bersama Jim Supangkat membuat Gerakan Seni Rupa Baru. Gerakan Seni Rupa Baru yang disponsori DKJ TIM itu merupakan gebrakan nyata yang melahirkan gagasan-gagasan pembaruan dan perlawanan dalam dunia seni rupa di Indonesia.
Kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru itu telah memunculkan suasana hingar bingar dan penuh kejutan dalam perbincangan serta perjalanan seni rupa Indonesia.
Ini saja dulu. Tunggu tulisan berikutnya. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *