Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Pandemi Penunjang Kreatifitas
Platfrom kegiatan yang telah dilaksanakan oleh @moeslimscharity. (moeslimcharity)

Pandemi Penunjang Kreatifitas

EFEK pandemi Covid-19 dirasakan oleh semua kalangan masyarakat, mulai dari kalangan kelas atas apalagi masyarakat menengah ke bawah. Panjangnya masa pandemi juga merubah tatanan kegiatan yang dilakukan pada pekerja kantor, pebisnis, seniman, guru hingga mahasiswa dan pelajar. Berbagai kegiatan terpaksa dilakukan dengan konsep baru yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Jalanan yang biasaya macet setiap pagi karena pekerja dan pelajar yang memulai aktifitas kini tak lagi krodit karena yang lewat hanya sebagian kecil. Kegiatan konser yang biasa dilakukan dengan antrian pembelian tiket yang panjang hingga berdiri berdesakan kini harus dilakukan secara virtual, hanya menatap sang idola lewat layar kaca. Bergitu juga dengan perubahan aktivitas dakwah yang dilakukan oleh da’i dan beragam kegiatan yang menyibukan para aktivis yang tetap berusaha produktif di masa pandemi.

Terhalangnya aktivitas berkumpul juga sangat berpengaruh terhadap kegiatan dakwah. Dakwah adalah kegiatan yang dilakukan oleh umat Muslim yang menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kegiatan ini selalu mengutamakan dua hal, hablum minallah wa hablum minan nas – hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Biasanya umat muslim berkumpul bersama dalam satu majlis ilmu tak hanya membahas ilmu agama sebagai bekal akhirat melainkan juga ilmu pengetahuan umum sebagai bekal kehidupan dunia. Disela sela kegiatan, jamaah juga selalu bercengkrama, saling bertukar cerita dan menjalin silaturrahim. Sementara saat pandemi seprti sekarang, kegiatan kegiatan ini tidak dapat dilakukan sebagai mana kalanya yang bebas dan tak ada larangan.

Akan tetapi halangan serta keterbatasan di masa pandemi tidak selalu menjadi suatu hambatan bagi sebagian besar umat Muslim. Justru ini menjadi ajang adu kreatifitas untuk menciptakan gebrakan gebrakan baru dengan langkah langkah baru untuk mengikuti perkembangan zaman era modern. Dimana hal ini sesuai pula dengan salah satu prinsip perjuangan dalam Islam, fastabikul khairat – berlomba lomba dalam kebaikan. Banyak sekali da’i dan aktivis muslim yang membuat berbagai kegiatan seperti kepelatihan, seminar, pembekalan, serta berbagai lomba pun juga tetap dilaksanakan sebagaimana yang biasa dilakukan. Kegian kegiatan ini berbasiskan keislaman agar tetap terjalankannya roda dakwah meski saling berjauhan juga tentang pengetahuan untuk umum agar wawasan dan pikiran tetap terasah.

 

@moeslimscharity

Salah satu akun instagram, @moeslimscharity adalah salah satu yang lahir di masa pandemi. Akun ini bertujuan yang menunjang produktifitas khususnya bagi kaum muda dalam menimba ilmu dan berkarya. Akun ini dikelola oleh Arini Elfi Saadah Harahap, seorang mahasiswi kedokteran Universitas Batam dan juga telah merilis tiga buku dengan nama pena Alfi Clare.

Akun yang dikelola sejak Maret 2020 lalu dibuat dengan tujuan awal memberi tahu khalayak berbagai mitos dan fakta tentang dunia kesehatan. Dengan basic telah sekolah di pesantren selama enam tahun lalu melanjutkan pendidikan untuk menjadi seorang doter juga jurnalis. Arini mengemas informasi dunia kesehatan tak hanya dilihat oleh seorang dokter tapi juga seorang agamawan. Ilmu agama yang telah dipelajari, berbagai jurnal pengetahuan umum dan kesehatan juga beragam temuan lapangan ia ramu menjadi satu hingga menciptakan karya-karya lewat tulisannya yang luar biasa.

Simak juga:  Kelas Online: Dilema Mahasiswa Menghadapi Keadaan

Nama akun @moeslimscharity ini juga memiliki makna tersendiri. Moeslims diambil dari bahasa Inggris yang artinya Muslim, yaitu sebutan bagi orang yang beragama Islam. Sedangkan charity juga bahasa Inggris yang berarti sumbangan atau organisasi amal. Maka maksud yang ingin disampaikan disini adalah beramal tak melulu dengan uang, beras, gula atau sembako yang lain tapi juga dengan ilmu. Dalam Islam ilmu yang bermanfaat juga merupakan amal jaiyah, amal yang bila dimanfaat kan dan diberikan oleh orang tersebut kepada orang lain lagi maka ada pahala yang tiada putusnya. Sumbangan berupa ilmu dan karya justru akan lebih abadi dibanding beru harta dan benda yang dapat habis seketika.

Seiring berjalannya waktu Arini merasa akun yang dikelolanya kurang maksimal. Karena sering mengikuti berbagai kegiatan secara virtual selama masa pandemi, terpikirlah untuk membuat kegiatan yang bersifat diskusi dan bisa melakukan tanya jawab ilmu yang disampaikan benar-benar sampai. Karena terkadang di saat membaca, jika ingin mendiskusikan beberapa hal tapi tidak bisa karena tulisan adalah bentuk komunikasi yang hanya satu arah. Lalu bekerjasama dengan teman dan kenalannya di organisasi, akhirnya bisa melakukan webinar.

“Pada konsepnya, dakwah itu tak hanya lewat podium tapi juga berdiskusi. Diskusi cenderung tidak monoton, jadi orang lain juga tahu kalau belajar agama itu tidak harus mendengarkan lalu mencatat, karena itu cukup membosankan. Lewat diskusi kita bisa berbincang lebih dalam karena bisa melakukan tanya jawab sehingga ilmunya benar benar sampai pada teman teman,” ujar Arini.

Pada webinar dan seminar yang ia adakan, Arini juga mengutamakan keefektifan manfaat kegiatan agar teman-teman yang ikut bergabung benar-benar mendapatkan ilmu dan wawasan yang baik.

“Misal pembahasannya mengenai datang bulan, maka kita undang narasumbernya seorang dokter, kemudian satu orang lagi tokoh agama. Maka hal pembahasan ini bisa berdasar dua arah sudut pandang, dari segi medis juga agama. Sehingga ilmu kita tak hanya di agama, tapi juga lebih luas berdasar ilmiahnya. Karena kan Islam tidak hanya belajar agama, tapi juga mengajarkan tentang ilmu kesehatan, tentang alam, kebersihan dan sebagainya,” jelas Arini.

 

 @kuy_ngajibareng

Selain @moeslimscharity, instagram dengan nama akun @kuy_ngajibareng juga merupakan akun dakwah dengan basic edukasi. Dikelola oleh Hafiz Al-Fadli mahasiswa STAIPIQ Sumatera Barat program studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Awalnya kuy_ngajibareng adalah grup WhatsApp milik Hafiz dan teman temannya yang ada sejak tanggal 20 Agustus 2020 yang bertepatan dengan 1 Muharram 1442 H.

Grup tersebut digunakan untuk cek kegiatan tadarus dan amalan sunnah lainnya. Setiap hari akan ada tabel mutaba’ah yaumiyah atau catatan harian yang akan mereka isi. Tabel tersebut berisi kegiatan ibadah wajib dan sunnah, khusus untuk tilawah perharinya setiap orang wajib selesai minimal satu juz Alquran. Maka dari itu lah nama grup tersebut kuy_ngajibareng, guna untuk mengecek tadarus masing masing.

Simak juga:  Dakwah Virtual Menjadi Pilihan di Masa Pandemi

“Karena bosan, terus pikirin apa  kegiatan yang mau dilakukan ya, terus ana dapat ide buat komunitas tilawah seperti odoj pula dan ana ajak salah satu teman gabung dia mau. Ajak ajak lagi alhamdulillah mau, itulah awal terbentuknya kuy_ngajibareng,” jelas Hafiz.

Kemudian karena aktivitas yang banyak berkurang di saat pandemi, Hafiz dan teman-teman mencari kesibukan kesibukan lain. Dari pada hanya ikut kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi lain maka terpikirlah untuk mengadakan kegiatan diskusi sendiri. Awalnya forum ini hanya dibuka untuk ikhwan, sebutan laki laki dalam Islam. Akhirnya karena peminat kegiatan ini lumayan banyak, dibukalah untuk umum.

“InsyaAllah, kegiatan ini akan kita laksanakan jika ada waktu luang yang cocok dan juga jika ada teman teman yang bisa diaajak kerjasama,” ujar Hafiz lagi.

Lalu untuk tujuan agar adanya kuy_ngajibareng akan tetap sama seperti semula. Kegiatan ini bertujuan memang untuk saling mengingatkan agar selalu membaca Al-Quran setiap hari. Tilawah tidak hanya kewajiban melainkan juga makanan jiwa, kebutuhan ruh setiap Muslim.

“Tujuannya untuk mengingatkan satu sama lain untuk bisa tilawah tiap hari berapa pun yang penting istiqomah, karena sejatinya seorang Muslim itu harus baca Al-Quran setiap hari,” terang Hafiz.

Berikut adalah platfrom kegiatan yang telah dilaksanakan oleh @kuy_ngajibareng

 

Akun yang dikelola oleh Arini dan Hafiz adalah contoh akun yang lahir di tengah masa pandemi. Penulis sangat setuju dengan kedua insan muda ini, sangat memanfaatkan kondisi dan situasi. Meski di tengah pandemi tapi tetap selalu berusa untuk berkarya dan terus produktif.

Semoga hal ini juga menjadi inspirasi bagi sahabat sekalian, apa pun medianya bagaimana pun caranya lihatlah dengan lebih luas dan maknailah setiap hal dengan lebih dalam. Serta belajarlah untuk menulis, Imam Al-Gazali mengatakan “Jika kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar maka menulislah”. Semoga kita semua termasuk orang yang tidak pernah puas akan ilmu dan pengetahuan serta mampu pula menebar bermanfaat. *** [Misbahu Rahmah]

 

* Mishbahu Rahmah, biasa dipanggil Rahma. Lahir pada 14 Mei 2000 di kota Batusangkar, Padang – Sumatera Barat. Travelling adalah hobinya, karena dengan pergi ke berbagai daerah, ia bisa mengenal lebih banyak orang. Juga suka memasak, karena sebagai orang Padang ya harus bisa memasak. Setidaknya masak rendang. Kini ia aktif kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Selain ngampus, ia juga aktif di beberapa organisasi yaitu SUKA TV (Sunan Kalijaga Televisi), IMAMI (Ikatan Mahasiswa Minang) UIN Sunan Kalijaga dan beberapa kegiatan lainnya. Motto hidupnya, bagai elang yang berani terbang tinggi walau sendirian, mau menukik ke dasar dan pasti akan kembali ke sarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x