Sabtu , 16 Oktober 2021
Beranda » Hukum » Adv. Aprillia Supaliyanto: Organisasi Profesi Advokat Sudah Overdosis
Advokat Aprillia Supaliyanto SH, Vice President Kongres Advokat Indonesia. (Ist)

Adv. Aprillia Supaliyanto: Organisasi Profesi Advokat Sudah Overdosis

PERKEMBANGAN dan perjalanan organisasi profesi advokat di Indonesia sekarang ini ternyata menarik untuk disimak. Masyarakat umumnya, atau kalangan yang tertarik pada dunia pembelaan hukum, hanya tahu kalau di negeri ini terdapat sekitar empat atau lima organisasi profesi advokat saja. Kelima organisasi profesi advokat yang dikenal itu masing-masing Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia), KAI (Kongres Advokat Indonesia) serta tiga organisasi yang lahir lebih awal yakni Peradin (Persatuan Advokat Indonesia), Ikadin (Ikatan Advokat Indonesia) dan IPHI (Ikatan Penasihat hukum Indonesia).

Benarkah demikian? Benarkah di Indonesia hanya terdapat empat atau lima organisasi profesi advokat? Untuk mengetahui kebenarannya, mari simak penjelasan Advokat Aprillia Supaliyanto SH, yang sekarang dipercaya sebagai Vice President Kongres Advokat Indonesia (KAI).

 

Lebih Dari 60
Menurut Aprillia Supaliyanto, dewasa ini di Indonesia terdapat lebih dari 60 organisasi profesi advokat. Jumlah yang cukup besar dan fantastis untuk organisasi profesi yang mengkhususkan kerja profesinya pada dunia pembelaan hukum serta penegakan hukum dan keadilan. Organisasi profesi advokat sebanyak itu tersebar di berbagai kota dan daerah di tanah air.

“Kehidupan profesi advokat sekarang ini memang memiliki kebebasan yang besar dalam menentukan perjalanan dan eksistensi profesinya. Tapi kebebasan itu sepertinya telah disikapi dengan langkah yang berlebihan. Bayangkan, sekarang ini di Indonesia terdapat lebih dari 60 organisasi profesi advokat. Suatu jumlah yang sangat banyak dan berlebihan. Jumlah yang fantastis untuk organisasi profesi advokat,” kata Aprillia Supaliyanto, di kantornya Jl Gedongkuning, Yogyakarta, baru-baru ini.

Simak juga:  Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi

Selama ini, lanjut Aprillia Supaliyanto, yang dikenal atau diketahui secara umum oleh masyarakat hanya organisasi profesi advokat yang terbilang besar saja, seperti Peradi, KAI dan Ikadin. Akan tetapi organisasi profesi advokat yang besar itu saja sudah terpecah-pecah. Peradi misalnya, sekarang terpecah menjadi dua atau tiga DPP. KAI juga terpecah menjadi tiga DPN. Juga yang lain.

 

Mengganggu Kualitas Profesi
Dikemukakan Aprillia Supaliyanto, kondisi seperti itu bukanlah hal yang menggembirakan bagi eksistensi profesi advokat. Justru sebaliknya, merupakan kondisi yang mengkhawatirkan dan memprihatinkan.
“Banyaknya organisasi profesi advokat itu sesungguhnya sesuatu yang memprihatinkan. Kalau jumlahnya sekitar empat, lima atau enam, masih bisa dipahami. Tapi bila sudah mencapai 60 lebih, ini betul-betul sudah overdosis. Sudah berlebihan. Sudah mengkhawatirkan,” kata Aprillia Supaliyanto.

Menurut Aprillia, kondisi seperti ini bisa menghambat upaya peningkatan kualitas dan profesionalitas advokat, terutama bagi advokat-advokat muda yang baru saja terjun ke dunia profesi pembelaan hukum serta penegakan hukum dan keadilan tersebut.

Seperti yang terjadi sekarang ini, masing-masing organisasi profesi advokat itu seperti saling bersaing satu sama lain. Bersaing untuk mendapatkan jumlah anggota. Kemunculan advokat-advokat muda, seakan menjadi rebutan di antara organisasi-organisasi profesi advokat. Organisasi-organisasi pribadi advokat sibuk bersaing mendapatkan anggota, tapi lupa dalam meningkatkan kualitas serta profesionalitas kerja para advokat. Ini yang terjadi.

Simak juga:  Penandatanganan Kontrak PSO Tahun Anggaran 2018

“Karena sibuk bersaing untuk mendapatkan anggota baru yang sebanyak-banyaknya agar bisa disebut organisasi profesi yang besar, akibatnya lupa dengan salah satu tujuan utama organisasi profesi advokat yaitu meningkatkan kualitas dan profesionalitas kerja para advokat. Dan itu sungguh menyedihkan,” ujar Aprillia Supaliyanto lagi.
Padahal, lanjutnya, besarnya suatu organisasi profesi advokat itu bukan diukur dari banyaknya anggota yang dimiliki. Tetapi suatu organisasi profesi advokat itu akan dinilai besar bila advokat-advokat yang menjadi anggotanya berkualitas dan mempunyai profesionalitas kerja yang mumpuni.

Aprillia Supaliyanto berharap agar organisasi-organisasi profesi advokat yang ada hanya bersaing dalam meningkatkan kualitas dan profesionalitas advokat-advokat yang menjadi anggotanya. Persaingan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas advokat akan bisa semakin meningkatkan harkat, wibawa dan kehormatan profesi advokat.* (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *