Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Optimisme Masyarakat Menyambut Vaksin di Tengah Wabah Covid-19
Ilustrasi (net)

Optimisme Masyarakat Menyambut Vaksin di Tengah Wabah Covid-19

MENGINGAT betapa kita menginginkan satu hal yang sama, yaitu kedamaian hidup. Akan tetapi, pada akhirnya kita adalah manusia yang butuh diingatkan perihal apa saja yang sudah terlalu jauh kita lupakan.

Rasanya berat memang untuk menghadapi kenyataan sepelik ini, tetapi kesukaran ada bukan untuk melemahkan. Nanti kita akan mengerti bahwa kita adalah selemah-lemahnya manusia, yang sering melupakan perihal berharga di sekitar kita.

Dari satu keadaan untuk saat ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik, yaitu kesadaran diri dan pentingnya menjaga kesehatan, menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, dan menjaga rasa saling peduli. Pandemi ini tidak bisa kita hadapi dengan kesewenang-wenangan, tetapi perlu kedewasan yang dipupuk untuk melawannya.

Lebih jauh dari itu, barangkali sudah tertanam niat baik  di dalam diri kita sesuatu yang tidak semestinya yaitu kesombongan. Sudah seharusnya kita selalu mawas diri dan kembali apa yang sudah menjadi sejalan dengan garis nurani. Kita mungkin sudah kelewatan dan sanggup berpikir tanpa Tuhan. Namun, pada akhirnya kita sama-sama memahami bahwa nyatanya kita butuh dikuatkan.

Untuk satu hal yang pasti, yang sulit untuk berlalu; kebahagiaan pasti datang sampai saatnya tiba, bersabarlah.

 

Harapan Baru

Seperti halnya upaya untuk berharap kehadiran vaksin Covid-19 yang sangat dinantikan bak kedatangan seseorang yang sudah ditunggu sangat lama sekali, delapan bulan Indonesia menghadapi pandemi di setiap kegiatan yang ingin dilakukan memiliki batasan, bukan karena kemampuan melainkan pergerakan.

Simak juga:  Adaptasi Sulit dan Perubahan Besar dalam Pandemi

Vaksin Covid-19 memberikan harapan baru dalam proses penanganan pandemi. Perusahaan kesehatan yang merupakan bagian dari kesehatan Indonesia, menyambut hangat kehadiran vaksin Covid-19.

Gambaran penyambutan baik ini didapat dari hasil survey yang dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) yang didukung Unicef dan WHO tentang penerimaan vaksin Covid-19, dua dari pertiga responden menyatakan bersedia menerima vaksin Covid-19. Sebagaimana survey ini dilakukan di 34 provinsi dengan 115.000 responden.

Namun pada vaksin ini kita tidak boleh berharap penuh, karena yang setiap kita lakukan adalah Tuhan yang menentukan. Vaksin hanya sekadar wasiat dan usaha agar tidak lagi adanya pengelonjakan kasus kematian, dan tidak adanya lagi tabur kesedihan.

Pada sisi lain masyarakat Indonesia sebagai lingkungan negara ASEAN dinilai sangat optimis dalam mengahadapi pandemi Covid-19 padahal ini menunjukkan 75% masyarakat Indonesia akan menguat kembali pada ekonommi enam  bulan mendatang.

Beberapa alasan optimisme yang ada tak lepas dari disiplin masyarakat menerapkan 3M yaitu; memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Serta adanya pelaporan pantauan Satgas Penanganan Covid-19. Hal ini telah menunjukan sebagaian besar masyarakat Indonesia tetap memakai masker dan menjaga jarak pada saat beraktifitas.

Simak juga:  Dakwah di Era New Normal

Hingga sampai saat ini disiplin mencuci tangan sudah tidak lepas dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Hal ini didukung hasil penelitian dari United Nation Childern’s Found (Unicef) dan Nielsen menunjukan bahwa cuci tangan paling sering dipraktekkan masyarakat Indonesia.

Lalu optimisme lain dari penelitian menyebutkan, semangat tinggi dan upaya mencari dan juga menyediakan vaksin Covid-19. Ada vaksin yang dikembangkan oleh Indonesia sendiri, ada yang kerjasama global dan multilateral.

Mari kita bersama menghadapi pandemi ini, dengan adaptasi kebiasaan baru di dalam situasi yang masih dalam proses pembaharuan kita jaga bersama untuk  Indonesia, mari kita sama-sama memberikan yang terbaik. Bersama kita pasti bisa! *** [Muhammad Riza Dhiaul Haq]

 

          *Muhammad Riza Dhiaul Haq, lahir di bulan Februari, dan tumbuh besar di Indramayu, Jawa Barat. Saat ini mahasiswa di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain sebagai mahasiswa, Riza adalah seorang pengurus sekaligus pengajar di salah satu yayasan berbasis pondok pesantren di Yogyakarta. Ia juga aktif menulis di media dalam ragam tulisan. Dan, tulisannya sering dia tampilkan di instagram untuk sebuah konten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *