Selasa , 21 Mei 2024
https://henrygrimes.com https://monkproject.org https://dolar788.com https://carmengagliano.com
Beranda » Humaniora » Musik Adalah ‘Sound Track’ Hidup Saya
Musik dan menyanyi telah mengisi hidup saya. (Ist)

Musik Adalah ‘Sound Track’ Hidup Saya

KETIKA Mas Sutirman Eka Ardhana, rekan dalam komunitas Paguyuban Wartawan Sepuh dan Sepuh Yo Band, menawarkan gagasan brilian untuk menyusun sebuah buku seputar musik dan kehidupan, saya sangat antusias menanggapi gagasan itu.  Betapa tidak? Setelah pensiun atau purna tugas dari Radio Republik Indonesia Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta,  saya memiliki banyak waktu untuk menghidupi hobi bermusik dan menyanyi. Dan itu tersalurkan, salah satunya di  Sangar Melody Nyutran Yogyakarta.

Sanggar Melody milik Mas Iman Santosa, purna karyawan TVRI Yogyakarta, dan juga dosen Sekolah Tinggi Multi Media MMTC itu,  seakan menjadi oase bagi kalangan “lansia” yang haus memperoleh kesempatan dan tempat untuk bisa menyalurkan hobi menyanyinya. Maka tak heran, banyak komunitas yang secara rutin, berkesempatan menyanyi di Sanggar Melody, diiringi Mas Iman, pribadi. Dan masing-masing pribadi yang tergabung komunitas menyanyi itu, tentu memiliki cerita, yang jika ditulis dan dikompilasi dalam sebuah buku, menjadi kenangan tertulis bagi penulisnya, termasuk diri saya. Sekaligus jika mungkin, memberi inspirasi, memotivasi, dan semangat bagi pembacanya.

 

Mengenal Musik.

Saya dibersarkan oleh orangtua yang suka musik dan bisa bermain musik. Ayah saya kebetulan anggota sebuah grup Orkes Keroncong waktu itu, dan beliau bisa main gitar, cuk, dan lain-lain. Sedang Ibu saya, lebih ke seni peran. Pernah bergabung dalam kelompok Tonil (Sandiwara Panggung ) di zaman kemerdekaan. Maka di rumah kami,  di kampung Musikanan, bunyi gitar dan olah suara, sudah saya dengar sejak saya masih kecil. Apalagi di kampung Musikanan,  banyak musisi yang tinggal disitu, termasuk Bapak Martono, yang mengelola acara Ayo Menyanyi (seingat saya) dan  disiarkan di Radio Republik Indonesia Yogyakarta, yang waktu itu masih di studio Reksobayan, sebelah timur gedung BNI Yogyakarta.  Saya ikut bergabung dalam acara itu, meski masih baru mengenal do..re…mi…fa..sol.

Tahap mengenal musik berikutnya bagi saya, terus berlanjut. Ketika saya duduk di Sekolah Rakyat (SR Kintelan I) waktu itu keluarga kami pindah dari Musikanan ke Jalan Brigjen Katamso, di seberang Kantor BRI sekarang. Karena di kawasan itu, tidak banyak anak-anak sebaya saya, maka saya selalu main dengan teman-teman di timur Jalan Brigjen Katamso, yaitu di kampung Dipowinatan.

Atas ajakan teman-teman yang tinggal di kampung Dipowinatan itulah, saya ikut Sanggar nyanyi Burung Kutilang yang dipimpin oleh Bapak Daldjono (ayahanda musisi dan pencipta lagu A.Riyanto). Kami berlatih secara rutin di rumah Bapak Daldjono di Dipowinatan, dan rutin mengisi siaran di Radio Republik Indonesia Yogyakarta, di Jalan Achmat Jazuli Kotabaru Yogyakarta. Acaranya berjudul “Suara Burung Kutilang“ dan disiarkan  secara langsung. Biasanya kami berangkat  bersama-sama naik sepeda, dari Dipowinatan menuju studio RRI Kotabaru.  Bapak Daldjono naik sepeda paling depan, dan kami mengikutinya dari belakang, baik naik sepeda sendiri maupun diboncengkan orangtua atau kakak. Saya masih ingat aba-aba dimulainyavsiaran, lewat lampu yang dipasang di studio yang berwarna merah, kuning dan hijau, serta lirik lagu pembuka dari acara itu, seperti berikut :

 

Dengarlah…nyanyian bersama.
Suara Burung Kutilang,
Dengan gembira, lagu-lagunya
Melayang,..di udara
Membawa salam bagi temannya…
Tra…la…la…la…la…la…la…la….la..la

 

Di Sanggar inilah, saya belajar mengenal notasi angka, baik satu nada maupun setengah nada, alias minor, dan menembak nada secara lebih akurat dibanding sebelumnya. Bapak Daldjono sangat cermat mendengarkan dan mengamati suara anak-amak asuhannya. Kami, yang meleset mengambil nada atau fals, belum bisa menyanyi dengan benar sesuai nada, belum diikutsertakan dalam kegiatan Siaran “Suara Burung Kutilang” di Radio Republik Indonesia Yogyakarta. Itu menjadi penyemangat, dan motivasi bagi kami, untuk belajar dan terus berlatih dengan lebih tekun.

Di Sanggar itu, kami juga menerima pelajaran tehnik pernapasan, membuka mulut, mengucapkan lirik dengan jelas dan dinamikanya. Sampai sekarang, apa yang saya peroleh dari Sanggar Kutilang itu, masih tertanam dibenak saya, dan sampai kapanpun tidak akan terlupakan.

Simak juga:  Prinsip Dasar Manajemen Media Massa

 

Mencintai Musik

Pengalaman mengenal musik, membawa saya ke tahap mencintai musik. Lulus Sekolah Rakyat Kintelan 1, saya di terima di Sekolah Menengah Pertama Negeri VII (sekarang menjadi SMP Negeri VIII) yang lokasinya di sebelah selatan SMA Negeri VI- C Yogyakarta. Ketika duduk di Kelas I.D (dulu belum disebut kelas VII), saya bertemu dengan Guru Kesenian, Pak Suhadi namanya.

Waktu pelajaran menyanyi tiba, semua murid diminta menyanyi satu persatu di depan kelas. Tiba giliran saya, Pak Suhadi mengatakan, saya bisa menyanyi, dengan suara yang memadai. Lalu, beliau menyertakan saya pada kelompok Paduan Suara SMP Negeri VII, yang terdiri kelas 1, 2 dan 3 dan bertugas setiap Senin, pada Upacara Bendera. Selain ikut Paduan Suara, saya juga dilatih untuk nyanyi tunggal sebagai persiapan lomba nyanyi antar sekolah se-kota Yogyakarta. Betapa bahagianya saya, saat itu. Mendapat kesempatan yang luar biasa, mendalami seni suara, olah vokal secara lebih intens. Sebagai ucapan terimakasih atas kepercayaan guru saya itu,  saya pun selalu berlatih dengan sungguh-sungguh.

Dan puncaknya, di akhir kelas 2, atas prakarsa Pak Suhadi pula,  didirikanlah sebuah Band putri SMP Negeri VII yang diberinama NN, Noment Nescio, yang berangotakan saya, memegang melodi gitar, Endangsih memegang bass, Ertin memegang gitar pengiring, pemain drum maaf saya lupa namanya, lalu Endang sebagai vokalis. Kami memainkan lagu-lagu Dara Puspita, yang ngehit waktu itu. Antara lain lagu Surabaya, Pantai Pataya, dan lain-lain. Band Noment Nescio ini pernah mengisi siaran di TVRI Yogyakarta, dengan Pengarah Acara Mas Bandar Gung. Waktu itu siaran masih hitam putih.  Juga pentas di Gedung BTN Jl. Jendral Sudirman Yogyakarta dalam acara malam  perpisahan sekolah kami. Di era inilah, saya sungguh mencintai musik. Tiada hari tanpa bermain musik terutama gitar. Tiada hari tanpa menyanyi.

Kecintaan saya pada musik  ini semakin besar ketika saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru. Kegiatan seni di Sekolah Pendidikan Guru, bukan hanya musik Indonesia, tetapi juga musik Jawa atau karawitan, dan musik angklung, serta tarian dan drama. Semua kegiatan, saya ikuti. Tak satupun yang saya lewatkan. Maka, meski tidak  ahli atau mumpuni,  dari kegiatan itu, saya bisa memainkan gitar, organ, bonang penerus, saron, angklung, dan menari Jawa.

Untuk Drama, saya pernah mewakili sekolah pentas di Sekolah Tinggi Kateketik Kotabaru Yogyakarta, membawakan Tablo. Dan dimasa remaja itu, ketika masih duduk di SPG,  di kampung saya, Gampingan Pakuncen Wirobrajan, terbentuk sebuah band dari teman-teman sekampung yang semuanya pria, yang memainkan lagu-lagu Bee Gees, Beatles. Saya serta rekan saya Sri Budi, dipercaya sebagai penyanyinya, dengan lagu-lagu dari Anna Matovani, Tety Kadi, Erni Johan, dan lainnya. Kamipun pernah pentas di Hotel Garuda Yogyakarta, dan ketika itu saya menyanyikan lagu Hasratku yang dipopulerkan Anna Matovani.

 

Musik Sebagai Bagian Pekerjaan.

Tahun 1970, ketika Lulus SPG, saya diterima bekerja di PT Radio Retjo Buntung, sebagai penyiar. Sebagaimana diketahui, radio siaran swasta kala itu, mayoritas isi siarannya adalah hiburan dan didominasi musik, Indonesia, Barat atau asing, tradisional, serta lagu daerah. Maka, pengalaman saya mengenal musik dan mencintai musik, menjadi bekal berharga  sebagai penyiar radio. Mengapa? Tahun 70-an, belum banyak pita cassette. Musik, diproduksi dalam bentuk piringan hitam atau akrab disebut plat. Seorang penyiar harus kenal betul bagaimana irama lagu yang akan diputar, dan mengatur letak speed pada alat pemutar piringan hitam itu, apakah 45 atau 33,1/4. Jika tidak hafal irama lagunya,  dan salah meletakkan alat pengatur speednya, maka lagu itu akan terdengar tidak sesuai dengan aslinya. Bisa lebih cepat, dan kami menyebut seperti suara orang dari planet lain, atau sebaliknya bisa lebih lambat seperti suara jin atau mahkluk halus.

Simak juga:  Merindukan Suasana Dakwah Sebelum Pandemi

Ada kejadian aneh ketika saya mengasuh acara Pilihan Pendengar Kroncong. Seorang pendengar menulis di kartu pilihan pendengar, minta lagu berjudul “Mendalam”. Sebagai pengasuh acara,  saya harus mencari di library, lagu tersebut. Seharian saya cari, tidak ada lagu Keroncong berjudul Mendalam. Setelah bertanya kesana-kemari, secara kebetulan ada seorang teman yang menyenandungkan syair,…”Mendalam, lembah curam ….”

Saya segera bertanya apa judul dari lagu itu? Lega. Akhirnya, ketemu juga. Judul lagunya adalah Kr.Tanah Airku, dimana lirik awal lagunya adalah…mendalam.

Ketika tahun 1980 saya pindah dari PT Radio Retjo Buntung, ke RRI Nusantara II Yogyakarta, saya ditempatkan di Seksi Drama. Sebab awal kepindahan saya, karena waktu itu Keluarga Yogya grup Sandiwara Radio Berbahasa Jawa yang diasuh oleh Pak Soemardjono, sedang kekurangan pemain putri. Mbak Mimi Notokusuma, Mbak Hastin Atasasih, pindah tugas dari RRI Yogyakarta, ke tempat yang baru. Meski saya ditempatkan di Seksi Drama, namun musik tetap menjadi  bagian pekerjaan saya. Sebab saya ditugasi memproduksi Sandiwara Radio bahasa Indonesia serta Feature Wanita dan Pembangunan. Dua acara itu, membutuhkan musik, meski bentuknya bukan lagu, tetapi musik tanpa syair, sebagai Tune buka, illustrasi, back sound, lagu tema dan lain-lain. Pengalaman mengenal musik dan mencintai musik menjadi modal saya dalam menentukan musik-musik yang diperlukan untuk acara-acara tersebut.

Di era inilah saya merasakan bahwa musik sungguh menjadi bagian pekerjaan saya. Tahun 1994, ketika saya diperbantukan sebagai pengajar di Sekolah Tinggi MMTC Yogyakarta, dan ditugasi mengampu Mata Kuliah Penulisan naskah Radio, termasuk naskah Drama Radio, bekal pengetahuan musik di masa lalupun, sangat berharga. Saya bisa menularkan, bagaimana membuat musik sebagai bagian produksi acara radio, dengan cara sederhana, tetapi menghasilkan musik yang orisinil, tidak dibayangi rasa takut akan royalti hak cipta, seandainya mengambil atau mencomot musik milik oranglain. Saya rasakan betul.Bagaimana musik menjadi bagian dari pekerjaan saya.

 

Musik, Asupan Rohani dan Jasmani

Sebelum pensiun, saya sempat mengiringi koor Gereja Wilayah, meski tidak setiap minggu. Dari pelayanan itu, saya mendapatkan asupan rohani yang kuat dan berdampak pada kesehatan jasmani karena rasa bahagia saya, dapat mempersembahkan kepada-Nya, talenta yang diberikan kepada saya.

Dan mulai akhir tahun 2017, saya diajak bergabung dalam Komunitas Paguyuban Wartawan Sepuh [PWS] yang disesepuhi Bapak Oka Kusumayudha. Waktu itu, secara rutin PWS menyelenggarakan acara Diskusi Kebangsaan sebulan sekali. Dalam diskusi itu, saya ditunjuk sebagai MC, sekaligus ententaint bersama Mas Iman Santosa, pimpinan Sanggar Melody. Sejak itu, dibentuk pula “Sepuh Yo Band” yaitu anggota PWS yang  suka menyanyi dan bernyanyi bersama di Sanggar Melody, sampai sekarang.

Meski zamannya berbeda, situasinya berubah, kehidupan tak sama,  tetapi musik selalu mengiringi perjalanan hidup saya. Sejak kanak-kanak, remaja, dewasa, masa bekerja dan masa pensiun, hidup saya tak pernah dipisahkan dari musik. Suka, gembira, bahagia dan sedih, tetap dengan musik. Sungguh, musik adalah Sound Track hidup saya. ***

Sewon, 2 Nopember 2021

[Maria Kadarsih]

 

* Maria Kadarsih, purna karya dari RRI Yogyakarta yang di tahun 1970 sampai 1980 sempat menjadi penyiar di Radio Retjo Buntung. Penulis naskah sandiwara radio yang produktif ini sempat juga menjadi pengajar di Sekolah Tinggi MMTC Yogyakarta. Dan sekarang enjoy dengan hobinya menyanyi, bermusik, serta sejumlah bentuk kesenian tradisional Jawa lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *