Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Pariwisata » Mercusuar Sunda Kelapa dan Cimiring
Penulis dengan latar belakang Mercusuar. (Ist)

Mercusuar Sunda Kelapa dan Cimiring

JAKARTA juga punya mercusuar, yakni Mercusuar Sunda Kelapa yang terletak di pelabuhan ikan Muara Baru, Jakarta Utara. Mercusuar berwarna hijau dan merah ini termasuk tertua, dibangun di masa penjajahan Belanda tahun 1862.

Mercusuar Sunda Kelapa menggantikan posisi mercusuar yang ada sebelumnya, yakni Menara Syahbandar atau Menara Bahari yang terletak di mulut Kali Ciliwung. Menara Syahbandar fungsinya mengatur lalu lintas kapal yang akan masuk Batavia pada abad ke 17 hingga 19, sebelum dibukanya Pelabuhan Tanjung Priok.

Mercusuar Sunda Kelapa ini berbentuk bulat dan makin ke atas, makin mengecil. Pada bagian badan, terdapat tiga buah lubang yang berfungsi sebagai ventilasi dan sekaligus sebagai jendela penerangan tangga yang ada di dalam tubuh menara. Kini salah satu menara tidak berfungsi dan sering dijadikan tempat memancing yang menyenangkan.

 

Pulau Biawak
Mercusuar cantik ada juga di Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat. Mercusuar ini sebagai kembaran Mercusuar Tanjung Kalian di Pulau Bangka dan Anyer.
Perlu juga kita mengunjungi Mercusuar Cimiring di Pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan Mercusuar Bangkalan, Madura.

Mercusuar Bangkalan dibangun pada masa Raja Belanda ZM Willem III tahun 1879. Tinggi 88 meter dan bisa menjangkau 22 mil menjadi penerang kapal-kapal yang mengarungi Selat Madura untuk ke Tanjung Perak, Surabaya.

 

Mercusuar Cimiring
Sedangkan Mercusuar Cimiring Nusa Kambangan dibangun pada tahun 1855 – 1857. Secara tidak langsung, ini juga mempunyai peran penting untuk perkembangan navigasi kelautan Indonesia.
Mercusuar Cimiring ini membantu para pelaut yang melintasi lautan di sekitaran Indonesia – Australia. Lalu lintas kapal yang di Samudera Hindia sangat ramai. Banyak kapal negara lain yang melintas di sana.

Mercusuar juga berfungsi sebagai penanda batas wilayah negara. Pada masanya, Mercusuar juga sebagai benteng pertahanan.
Masih banyak lagi mercusuar dengan cerita-cerita unik keberadaannya. Tidak salah dimasukkan dalam list kunjungan wisata berikutnya. Tentu saja syaratnya tidak takut ketinggian, dan kuat untuk naik ke atas menara. Kalau yang tidak kuat di tempat tinggi, ya foto-foto di sekitarnya saja. * (Dewi Gustiana)

 

* Dewi Gustiana, mantan wartawan yang kini jadi penyuka traveling.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x