Selasa , 21 Mei 2024
https://henrygrimes.com https://monkproject.org https://dolar788.com https://carmengagliano.com
Beranda » Humaniora » Menyanyi di Usia Tua, Membuat Sehat dan Bahagia
Saat bernyanyi dan bermusik sendiri di rumah. (Ist)

Menyanyi di Usia Tua, Membuat Sehat dan Bahagia

BUKANLAH sesuatu yang berlebihan, bila mengatakan menyanyi di usia tua adalah sesuatu yang membuat sehat dan bahagia. Karena demikianlah yang saya rasakan. Hobi menyanyi yang terus berlangsung sampai hari ini, sampai berusia kepala tujuh, telah membuat saya merasa sehat dan bahagia.

Tak hanya itu. Saat bernyanyi atau menyanyi di usia yang tak lagi muda, ketika sudah berstatus sebagai nenek dari empat orang cucu, telah memberikan rasa segar dan tetap penuh semangat. Ya, semangat untuk terus menjalani hidup ini dengan ceria dan gembira.

Sungguh, hal seperti itulah yang saya rasakan. Karena itulah, selama Tuhan masih memberikan kemampuan untuk berdendang atau menyenandungkan lagu, saya akan tetap melaksanakan hobi menyanyi itu.

 

Bermula di Tahun 1965
Semua bermula di tahun 1965. Ya, di tahun 1965 itulah kesukaan atau hobi menyanyi saya mulai muncul.
Masih saya ingat, ketika itu, saat masih sekolah di SMP, seorang teman yang tinggal sekampung mengajak untuk bergabung di grup band. Ya, grup band di kampung tempat tinggal saya.

Saya pun tertarik dengan ajakan itu. Lewat grup band itulah saya mulai menyanyi. Sejak itulah, ya sejak ikut menyanyi di grup band tersebut, kesukaan atau hobi menyanyi saya pun muncul. Bila ada kesempatan untuk menyanyi, saya pasti tampil menyanyi. Dan, mulai saat itu, saya sering tampil menyanyi dalam berbagai acara atau kegiatan yang ada di kampung. Bahkan, tak hanya di kampung sendiri. Di luar kampung sendiri atau di tempat-tempat lain, saya pun kemudian sering tampil menyanyi juga.

Beberapa lagu kesukaan saya di kala usia SMP itu, dan sering dinyanyikan bila tampil menyanyi di antaranya lagu Bunga Mawar, Minah Gadis Dusun, dan lainnya lagi.
Lagu-lagu itu saya sukai karena liriknya sederhana dan natural. Lirik-liriknya yang sederhana itu membuat lagu-lagu itu menjadi mudah untuk dihapal dan diingat.

Simak juga:  Menyanyi, Cara Indah Menikmati Hidup

Dari masa SMP, kesukaan menyanyi itu terus berlanjut ketika di SMA dan sampai berstatus mahasiswi di Fakultas Teknik UGM. Bahkan boleh dibilang hobi menyanyi itu tak ada putusnya. Terus berlangsung. Setelah menyandang gelar Sarjana Teknik, kemudian bekerja, pensiun, dan hingga kini, hobi menyanyi itu tak pernah hilang.

Dengan kata lain, sejak masih remaja, dewasa, menikah, menjadi ibu, dan sampai berstatus nenek, hobi menyanyi itu seakan tak pernah berhenti menyertai hari-hari saya. Sejak SMP hingga kini, hobi menyanyi tersebut seakan terus mengikuti detak langkah dan perjalanan kehidupan saya.
Dalam perjalanannya, lagu-lagu kesukaan saya pun bertambah. Lumayan banyak untuk disebut. Tapi tiga lagu ini memiliki kesan tersendiri di antara sekian jumlah lagu-lagu yang saya sukai, yakni Bunga Anggrek, Ayah dan Pepito.

 

Bergabung Komunitas
Setelah pensiun sebagai PNS di tahun 2008, untuk terus mengembangkan hobi menyanyi itu, saya kemudian bergabung di komunitas menyanyi atau komunitas penyuka tembang kenangan. Saya berpikir, komunitas menyanyi merupakan tempat yang paling tepat buat melanjutkan hobi menyanyi di masa setelah purna tugas.
Komunitas menyanyi pertama yang saya ikuti adalah Komunitas Alumni Sekolah Rakyat (SR) lintas angkatan. Di Komunitas Alumni SR MBebel ini pada awalnya saya menyanyi di pertemuan bulanan, diiringi orgen tunggal. Kemudian saya pun ikut menyanyi di setiap hari Kamis.

Setiap Kamis anggota komunitas itu bertemu untuk menyalurkan kesukaan menyanyi. Betapa senang dan bahagianya bisa bertemu teman-teman sekolah waktu di SR dulu, dan menyanyi bersama. Kegiatan yang menghibur sambil mengingat masa-masa indah, masa kanak-kanak yang penuh kenangan, saat menjadi murid SR.
Berawal dari Komunitas Alumni SR itu saya pun kemudian tertarik untuk bergabung dengan komunitas-komunitas menyanyi lainnya. Ada yang memang karena keinginan sendiri, ada pula karena ajakan dari teman-teman sehobi lainnya.

Simak juga:  Menjadi Bangsa dan Proses Dekolonisasi

Setelah di Komunitas Alumni SR, saya lalu bergabung dengan Komunitas Alumni Espero’66, komunitas Paduan Suara, komunitas nyanyi teman-teman Gereja, dan Komunitas Melody yang sanggarnya ada di Nyutran, Yogyakarta.
Di antara komunitas-komunitas tersebut, relatif yang sering diikuti adalah Komunitas Espero’66, dan komunitas nyanyi teman-teman Gereja. Karena kebetulan kegiatan latihan dan kumpul-kumpulnya berlangsung di rumah saya, di Jogokariyan.

Kegembiraan yang Sangat
Selama bergabung atau berkumpul di komunitas-komunitas menyanyi tersebut, saya merasakan kegembiraan yang sangat atau yang sungguh membahagiakan. Kegembiraan karena berkumpul bersama teman-teman tanpa beban dan bahagia di usia tua.
Saya pun merasakan, manfaat hobi menyanyi itu menjadikan seseorang berkarakter ceria, santai dan kerelaan untuk bersosialisasi dengan sesama atau dengan yang lain.
Saya merasakan dan mengalaminya sendiri, hal yang sangat mengesankan dari hobi menyanyi dan bergabung di komunitas menyanyi seperti Komunitas Alumni SR dan Komunitas Melody di antaranya kita dipertemukan lagi dengan teman-teman yang lama berpisah. Setelah bertemu di wadah hobi yang sama, membuat teman-teman lama itu menjadi seperti saudara sendiri.
Saya berharap, semoga Tuhan senantiasa memberikan kesehatan dan kebahagiaan, sehingga bisa berkumpul dan bernyanyi bersama. ** (Siti Subaryati Suryo Pangarso)

 

* Siti Subaryati Suryo Pangarso, lahir di Yogyakarta, 6 Februari 1951. Arsitek lulusan Fakultas Teknik UGM, dan pensiunan PNS ini dari pernikahannya dengan Suparjoko dikaruniai dua orang anak, dan bercucu empat orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *