Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Menyanyi, Bagaikan Air Yang Mengalir Dalam Jiwaku
Salah satu kesempatan menyanyi. (Ist)

Menyanyi, Bagaikan Air Yang Mengalir Dalam Jiwaku

AKU dilahirkan bukan dari keluarga penyanyi, tetapi dari keluarga yang suka menyanyi. Ibuku seorang guru Sekolah Rakyat (SR), yang selalu menyanyi, karena harus mengajar murid-muridnya menyanyi. Karena itu sejak aku sudah menyukai nyanyian anak-anak yang sering dinyanyikan ibuku.

Pada waktu Taman Kanak-kanak (TK) di Rotowijayan, aku masih ingat sekali, lagu kesukaanku “Berkibarlah Benderaku”. Kalau diminta menyanyi oleh Bu Kesi, guruku waktu itu, ya nyanyinya pasti lagu itu.

 

Diajak Kakak Latihan Nyanyi
Seperti aku, kakakku perempuan, Mbak Tatik juga senang menyanyi. Bahkan ketika SD sampai SMP sudah bergabung dengan grup nyanyi asuhan Pak Arintoko dan Pak Daldjono, dan sering siaran di RRI Yogyakarta. Waktu itu RRI Yogyakarta masih di Jl. Panembahan Senopati, sebelah Timur gedung Bank Indonesia.

Dari kakakku itulah aku semakin senang menyanyi dan mengenal banyak lagu, khususnya Lagu cipt Pak Ar dan Pak Dal. Sampai sekarang pun, aku masih ingat lagu Kuntum yang ciptaan atau karangan Pak Dal.

Ketika kelas empat SD, aku terpilih ikut siaran paduan suara SD Keputran A di RRI Yogyakarta. Karena itu sampai sekarang, aku masih ingat lagu mars Keputran A, yang antara lain liriknya ” Keputran A Yogyakarta di dalam taman putra. Pemuda pemudi nya ikut serta semuanya, radio siarannya.” Dan seterusnya lagi.

 

Nyanyi di Lomba Band SLTA
Ketika SMP, aku mulai mengenal main gitar, dibimbing kakak laki-lakiku, Mas Harto. Mulai menyanyi dengan iringan gitar. Kemudian bergabung dengan teman-teman di Kampung Gamelan Lor, membentuk kelompok musik “Bang Bung”. Alatnya gitar, bas karet yang dipasang di klething dan ketipung dari kulit sapi yang dipasang di klething juga.

Musik ini bisa mengiringi lagu apa saja. Lagu yang populer waktu itu, lagu Neng Geulis, Soleram, lagu-lagu Melayu seperti Aiga, dan sebagainya.
Waktu SMA kelas 1, ada teman yang kakaknya baru pulang dari Amerika Serikat membawa tape recorder. Waktu itu belum ada audio cassette recorder. Jadilah, kami merekam beberapa lagu Rahmat Kartolo, yang waktu itu sangat populer. Karena itu aku hapal beberapa lagunya.

Simak juga:  Budaya Ngopi dan Sejuknya Lereng Merapi

Ketika di SMA itu, SMA VI/2, karena masuknya sore, aku ikut Grup Band Sekolah. Pengalaman yang tidak terlupakan, kami ikut lomba band antar SLTA pada tahun 1963. Aku main gitar sambil menyanyi. Lagunya ” Mengapa”, yang dipopulerkan atau sering dinyanyikan oleh Pepen. Sampai sekarang, lagu itu masih menjadi lagu kesukaanku. Walau tidak menang, lomba itu menjadi kenangan dan kebanggaan ku.

Bergabung dengan Sejumlah Band
Hobi atau kesukaan menyanyi dan main musik terus mengalir. Ketika lulus SMA dan menjadi mahasiswa UGM, aku bergabung dengan Paduan Suara Bahana Patria dan grup musik Musika Patria yang bermarkas di Notowinatan, dalam wadah GMNI.

Selain itu, aku juga membentuk sebuah band di Kampung Gamelan, Band Krisnanda. Anggotanya antara lain Mas Djoko Purwanto, yang akhirnya juga menjadi keyboard player seperti aku.
Ketika harus hengkang dari UGM dan menjadi mahasiswa di Jakarta, aku juga bergabung dalam grup band Kampus AKPEN (Akademi Penerangan).

Tapi di tahun 1974, hobi menyanyi itu kemudian bagaikan aliran air yang tersumbat. Ya, di tahun 1974, ketika aku mulai bekerja di TVRI, hobi nyanyiku tersisihkan oleh pekerjaanku sebagai jurnalis TV dan mengajar di MMTC.
Waktuku ketika itu benar-benar tersita. Boleh dikatakan kesempatan nyanyiku hanya di kamar mandi. Karena itu aku tidak begitu mengenal lagu-lagu yang populer di tahun 1980-an.

 

Ikut Grup Keroncong
Aliran darah hobi menyanyi dan bermusik, ternyata tidak dapat dibendung. Di tengah kesibukan sebagai jurnalis serta mengajar di beberapa perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya, aku dan teman-teman sebaya di sampingku Nyutran, membentuk Grup Keroncong, yang latihan rutin di rumahku.
Kebetulan aku sudah memiliki keyboard yang bisa mewakili suara flute dan biola. Terkadang juga menyanyi langgam, atau lagu pop yang dikeroncongkan.

Grup keroncong ini akhirnya bubar, karena banyak anggotanya yang sudah sepuh, dan berpulang.
Sejak grup keroncongku bubar, mulailah penyaluran hobi kulakukan sendiri. Ikut menyanyi di beberapa tempat musik, diiringi para player seperti almarhum Pak Marbudi, Pak Cipto, Pak Nasir, Pak Wahyu, Pak Tomy dan Pak Totok. Pernah pula ikut lomba nyanyi yang diselenggarakan Bambu Milk pada sekitar tahun 2011, hanya masuk sebagai finalis.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XXIV: Dialog

Hobi bermusik juga aku salurkan dengan mendirikan sanggar nyanyi, dan aku sebagai keyboard playernya. Semula aku mendirikan Sanggar Sangkakala, dengan anggota sebagian besar teman-teman di Kampung Nyutran, yang hanya menyelenggarakan latihan seminggu sekali. Aku juga pernah diminta mengiringi latihan nyanyi Grup Alamanda, yang latihannya di Studio RRI Yogyakarta.

 

Dirikan Grup dan Sanggar Melody
Kesempatan mengiringi latihan di Grup Alamanda, membawaku pada keseriusan sebagai player. Akhirnya setelah Grup Alamanda tidak aktif lagi, aku membuka kesempatan kepada para peserta latihan untuk berlatih menyanyi di sanggar ku, di Nyutran.

Nama Sanggar Sangkakala sudah tidak relevan lagi. Sehingga dicarilah nama baru. Teman-teman mengusulkan beberapa nama, tetapi akhirnya aku dan teman-teman menyetujui usulan Pak Heru dengan nama “Melody”. Nama Melody merupakan ringkasan dari “Menyanyi Lagu Oldy”. Dan, nama itu secara resmi digunakan mulai tanggal 26 November 2015.

 

Manfaat Menyanyi
Dari menyanyi banyak manfaat yang kurasakan. Setidaknya ada lima manfaat. Pertama, ada perasaan senang, gembira sehingga menghilangkan stres. Kedua, merasa muda, apalagi kalau menyanyikan lagu-lagu nostalgia. Ketiga, merasa lebih sehat, karena menyanyi membuat kita merenggangkan otot-otot kita, terutama yang berkait dengan pernapasan, sehingga sekaligus memperlancar peredaran darah.

Kemudian keempat, menyanyi dalam kelompok atau paguyuban penyanyi, membuat kita tambah teman, tambah saudara, yang dapat meningkatkan hubungan sosial. Dan kelima, dari menyanyi, kita bisa belajar bahasa dan sastra. Ketika SMA, Bahasa Inggris nilainya bagus, gara-gara aku belajar nyanyi lagu berbahasa Inggris.
Akhirnya, karena hobi menyanyi dan bermusik, aku bersyukur hingga saat ini dikaruniai usia lebih dari 74 tahun, dalam keadaan cukup sehat. Begitulah, seirama dengan hobi menyanyi dan bermain, motto hidupku sekarang, “Jadilah seperti burung kenari, menyanyi setiap hari, menyambut pagi yang indah sekali”. * (Iman Santosa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *